ANALISIS NASKAH DRAMA “SEPASANG MERPATI TUA” KARYA BAKDI SOEMANTO DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA

ANALISIS NASKAH DRAMA “SEPASANG MERPATI TUA” KARYA BAKDI SOEMANTO DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA

Oleh: Septiyana Dwi Rahayu

 

A.     Pendahuluan

Karya sastra merupakan salah satu hasil seni yang diciptakan oleh seorang pengarang, tidak lepas dari aspek yang berhubungan dengan kehidupan manusia, yang pada gilirannya juga akan difungsikan oleh masyaraakat itu sendiri. Karya sastra terbagi ataas tiga genre, yaitu fiksi puisi, dan drama. Drama memiliki bagian terpenting yang membedakan dengan genre saastra yang lainnya. Drama dipandang sebagai karya dua dimensi, yaitu dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukan (Hasanudin, 2009:4). Drama dipandang sebagai karya dua dimensi, yaitu dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukan. Namun, pemahaman mengenai dimensi tersebut sangatlah canggung apabila suatu karya sastra (naskah drama) hanya fokus pada dimensi seni pertunjukan atau lakon saj, justru akan mengalami kekurangan aspek dari segi dimensi sastranya. Sebaliknya, jika pada naskah drama hanya dipandang kenikmatannya dari dimensi sastra juga akan mengalami pengurangan aspek dalm karya sastra tersebut. Pada umumnya di dalam naskah drama, kerap menampilkan tokoh-tokoh fiksional, yang mengaplokasikan unsur-unsur kehidupan dan kejiwaan. Bagian terpenting drama adalah ucapan-ucapan tokoh melalui dialog-dialog. Dialog merupakan sarana primer.

Drama lebih spesifik dalam menggambarkan tokoh dan perwatakannya, baik secara fisiologis, psikologis, maupun sosiologis. Maka, naskah drama dapat memperlihatkan masalah-masalah dari ilmu jiwa yang berlaku umum, atau suasana aspek darai hidup manusia pada umumnya. Sebenarnya sastra fdan psikologi dapat bersimbiosis pada perannya terhadap kehidupan karena keduanya memiliki fungsi dalam hidup ini. Keduanya sama-sama berurusan dengan persoalaan manusia sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial (Endrawara dalam Minderop 2010:2). Secara definit tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwana yang terkandung dalam sebuah karya satra (Ratna, 2009:342). Oleh karena itu pendekatan psikologi sastra dianggap penting penggunaanya dalam penelitian sastra.

Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis. Artinya, psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Penulis akan menganalisis naskah drama“Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto dengan pendekataan psikologi berupa penokohan, id, ego dan superego.

 

B.     Pembahasan

Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos, yaitu science atau ilmu yang mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai objek studi, terutama pada sisi perilaku (behavior aatau action) dan jiwa (psyche). Psikologi sastra merupakan salah satu kajian sastra yang bersifat interdispliner, karena memahami dan mengkaji sastra dengan menggunakn berbagai konsep dan kerangka teori yang ada dalam psikologi. Dengan memfokuskan pada karya sastra pada sebuah fiksi atau drama, psikologi karya sastra mengkaji tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Berdasarkan pernyatan-pernyataan di ats di dapatkan bahwa psikologi sastra adalah mengkaji karya sastra yang didukung oleh konsep-konsep dan teori-teori yang ada dalam ilmu psikologi, karena keduanya mempunyai titik temu mempelajari manusia, meskipun dalam karya sastra berupa tokoh.

Naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Sumanto adalah naskah drama realis yang berkisah tentang kehidupan, sosial dan romatisme sepasang orang tua. Dimana dalam kehidupan sosial masyarakat itu penuh dengan permasalahan yang mesti segera diselesaikan. Namun dalam kenyataan, masalah tak kunjung selesai, hal ini dikarenakan ulah para pejabat pemerintahan yang membiarkan masalah-masalah rakyatnya terus menumpuk. Sebagian kecil masalah yang diangkat dalam naskah ini adalah masalah sampah dan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan yang dibawah kolong jembatan.

Suasana romantis terbangun dengan munculnya tokoh kakek. Hayalan tentang pekerjaan yang diinginkan sang kakek dalam menyikapi persoalan lingkungan sosial yang tengah berkembang memicu perdebatan dengan sang nenek sampai emosi sang kakek meluap hingga pingsan. Tangisan sang nenek menyadarkan sang kakek akan kenyataan hidup yang yang sedang dijalaninnya bersama sang nenek bahwa usia mereka sudah diambang maut. Itulah sinopsis secara singkat naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Sumanto.Dalam naskah drama ini, terdapat 2 tokoh. Dua  tokoh tersebut merupakan tokoh utama. Adapun tokoh-tokoh utama beserta penokohannya:

1.      Kakek

Tokoh Kakek itu digambarkan sebagai lelaki yang cerdas, kritis terhadap pemerintah, peduli terhadap rakyat kecil dan masyarakat sekitar.

a.       Cerdas

Penokohan dalam drama ini yaitu tokoh kakek digambarkan sebagai lelaki yang cerdas. Untuk karakter kakek yang cerdas dapat dibuktikan pada kutipan dialog yang bercetak tebal berikut.

Nenek       : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut malu toh. Hu... hu... hu...

Kakek       :Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.

Nenek       : (Tiba-tiba berhenti menangis). Berani? Aku pemberani?

Kakek       : Ya, Kau pantas disejajrkan dengan Ibu kita Kartini.

Nenek       : Ibu Tin?

Kakek       : Bukan, bukan Bu Tin, Ibu kita Kartini.

Nenek       : Tetapi, kan Ibu kita Kartini juga bisa kita sebut Bu Tin, kan. Apa salahnya?

Kakek       : Hush, diam! Ingat ini di depan orang banyak. Maka jangan main sembrono dengan sebutan-sebutan yang multi interpretable.

 

b.      Krritis terhadap pemerintah

Selanjutnya karakter tokoh Kakek yang kritis terhadap pemerintah. Agar lebih jelasnya saya akan memaparkan kutipan dialog yang memperkuat tokoh Kakek berikut ini:

Kakek       : Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos kolong jembatan saja.

Nenek       : Ah, gila. Itu pekerjaan gila.

Kakek       : Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.

 

c.       Peduli terhadap masyarkat

Untuk karakter Kakek yang peduli terhadp masyarakat dapat dibuktikan dalm dialog berikut ini:

Nenek       : Tapi kau akan terhina.                

Kakek       : Selama kedudukanku adalah diplomat, dimanapun ditempatkan sama saja terhinanya, sama saj mulianya.

Nenek       : Aku tidak rela kau ditempatkan di pos terhina itu.

Kakek       : Kau belum tahu, justru paling mulia diantara pos-pos di manapun juga.

Nenenk     : Kau sudah tidak waras.

Kakek       : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu dibujuk aagar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri. Tidak sekedar dihalau, diusir, kalau mau ada orang gede lewat aja. Jadi, untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk.

2.      Nenek

Nenek digambarkan sebagai wanita yang romantis, gengsi, dan cengeng. Sama halnya dengan karakter kakek, agar lebih jelasnya akan saya uraikan pembuktiannya satu persatu melalui kutipan dialog berikut.

a.       Romantis

Untuk karakter nenek yang romantis, tergambar pada dialog yang tercetak tebal berikut.

Nenek       : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk di sebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).

Kakek       : Gila. Malah demonstrasi.

Nenek       : Sekali waktu memang perlu

Kakek       : Ya, tapi kan bukan untuk sat ini?

Nenek       : Kukira justru!

Kakek       : Duilah apa-apan ini.

Nenek       : Aagar orang tetap tahu, aku milikmu.

Kakek       : Siapa mengira kita sudah cerai?

Nenek       : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyatan-kenyataan.

 

b.      Cengeng

Karakter tokoh Nenek yang cengeng dapt dibuktikan pada dialog di bawah ini.

Nenek       : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyatan-kenyataan.     

Kakek       : Bagus!

Nenek       : Apa maksudmu?

Kakek       : Tindakan terpuji itu namanya.

Nenek       : He, apa sih maksudmu, Pak?

Kakek       : Mengaku dosa di depan orang banyak!

Nenek       : Hu... hu... hu... (Menangis)

Kakek       : He, ada apa kau Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanyaa?

Nenek       : Kau mem

Nenek       : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut malu toh. Hu... hu... hu...

 

c.       Gengsi

Selanjutnya karakter gengsi Nenek dapat dibuktikan pada dialog yang berikut di bawah ini.

Nenek       : Ah... bagaimana, nanti kalau aku arisan dan ditanya atemen-temen bagaaimana jawabanku, Pak. Ccoba bayangkan, bayangkan...

Kakek       : Istriku, aku mengerti bagaimana kau akan turun gengsi nanti. Tapi kau tidak usah khawatir, kalau kau datang aarisan yang lima ribuan, dan kau ditanya orang-orang apa pekerjaanlu jawab saja diplomat, titik. Kolong jembatannya tidak usah disebut, kalau kau datang ke arisan yang seratusan, saya kira tidak ada salahnya kalau kau ngmong diplomat kolong jembatan.

Nenek       : Tapi kalau teman-temanku arisan lima ribua tanya, di mana posnya?

Kakek       : Ah... (memegangi kepala) Begini, diplomat bagian sosial?

Kakek       : Kau ini bagaimana, diplomat itu serba mungkin asal kau pintar main lidah, beres. Coba, kau kan tahu ada diplomat pimpong, ada diplomasi SPP, diplomasi macam-macam saja ada.

 

Id atau keinginan merupakan struktur paling dasar dari kepribadian seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Id atau keinginan tokoh  utama dalam naskah drama ini adalah tentang pekerjaan yang diinginkan sang Kakek dalam menyikapi persoalan lingkungan sosial yang tengah berkembang.  Hal tersebut dibuktikan dengan dialog dibawah ini.

Kakek       : Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos dikolong jembatan saja.

Nenek       : Ah, gila. Itu pekerjaan gila.

Kakek       : Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.

Nenek       : Tapi kau akan terhina.

Kakek       : Selama kedudukan adalah diplomat, di manapun sama saja terhinanya, sama saja mulianya.

Nenek       : Aku tidak rela kau ditempatkan di pos terhina itu.

Kakek       : Kau belum tahu, justru paling mulia diantara pos-pos di manapun juga.

Nenek       : Kau sudah tidak waras.

Kakek       : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu dibujuk aagar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri.

 

Ego merupakan srtuktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Ego Kakek dalam naskah ini adalah hayalan Kakek tentang pekerjaan yang diinginkan untuk menyikapi persoalan lingkungan yang tengah berkembang, memicu perdebatan dengan sang Nenek sampai emosi sang Kakek meluap. Nenek berusaha menyadarkan sang kakek akan kenyataan hidup yang yang sedang dijalaninnya bersama sang nenek bahwa usia mereka sudah diambang maut. Ego Kakek yang berhayal tentang pekerjaannya padahal sudah lanjut usia dan tidak mungkin akan bisa mendapaatkan pekerjaaan itu. Ego tersebut digambarkan dalam dialog berikut.

Nenek       : Nah, paling terhormat jadilah diiplomat wakil republik kita tercinta di PBB. (Kakek geleng kepal)

Nenek       : Aku sungguh tidak mengerti  cita-citamu, Pak.

Kakek       : Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati itu dokrin-dokrin itu harus...harus...

Nenek       : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau terlaluu semangat begitu.

Nenek       : Kreatiifitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsang...dengan menggoncangkan jiwanya agr tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru...(kakek rebah, nenek menjerit).

 

Superego yaitu merefleksikan tentang nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Superego Kakek yaitu pada akhirnya, menyadari bahwa umurnya sudah tua yang mereka tunggu hanyalah ajal, bukan malah meninggikan niat jadi diplomat untuk mengurusi masalah pemerintah. Memang sudah semestinya mereka juga menjalani kehidupan dengan romantis. Dialog yang memperkuat superego Kakek dan Nenek adalah sebagai berikut.

Nenek       : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk di sebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).

Kakek       : Gila. Malah demonstrasi.

Nenek       : Sekali waktu memang perlu

Kakek       : Ya, tapi kan bukan untuk sat ini?

Nenek       : Kukira justru!

Kakek       : Duilah apa-apan ini.

Nenek       : Aagar orang tetap tahu, aku milikmu.

Kakek       : Siapa mengira kita sudah cerai?

Nenek       : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyatan-kenyataan.   

 

C.     Simpulan

Berdasarkan hasil pembahsan Analisis Psikologi naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto dapat disimpulkan bahahwa tokoh utamanada dua yaitu Kakek dan Nnenek. Tokoh Kakek itu digambarkan sebagai lelaki yang cerdas, kritis terhadap pemerintah, peduli terhadap rakyat kecil dan masyarakat sekitar. Sedangkan  tokoh Nenek yaitu wanita yang romantis, gengsi, dan cengeng. Struktur kepribadian Kakek dan Nenek terdiri Id yaitu keinginan terbesarnya Kakek adalah ingin menjadi diplomatik bekerja dipemerintahan. Egonya adalah menghayal dan mengharapkan mendapatkan pekerjaan itu padahal usianya sudah tua. Superegonya yaitu mereka adalah pasangan yang saling setia walau sudah tua menjalani kehidupan mereka dengan romantis walaupun terkadang bermasalah namun Nenek akhirnya berhasil menyadarkan Kakek.

Komentar

Postingan Populer