Latar belakang timbulnya krisis sastra
Latar belakang timbulnya krisis sastra yaitu berawal dari meninggal Chairil Anwar pada 28 April 1949 sehingga timbul gejala :
- Pada sastrawan tampak kehilangan vitalitasnya misal Asrul Sani dan Rivai Apin
- Golongan Angkatn 45 kehilangan masa jayanya sehingga mereka merasa pesimis merasa timbul krisis
- Sesudah penyerahan kedaulatan RI tahun 1949 dirasakan timbulnya krisis, akibat kisis kepemimpinan politik.
Pendapat H. B. Yassin tentang ’’Krisis Sastra Indonesia’’ yaitu tidak ada krisis, tidak ada impasse dalam sastra Indonesia. Suara-suara impasse kurang lebih tahun 1953 simposium Amsterdam. Pada ha sekitar tahun itu banyak terbit buku-buku, misalnya karya Pramudya.
Keluarga Gerilya adalah hasil pengarang Indonesia yang berakar pada bumiya dan bukan untuk dibicarakan dalam hubungan ada tidaknya impasse.
Reaksi krisis sastra Indonesia menurut Asrul Sani yaitu dalam simposium di Amsterdam tahun 1953 mengakui adanya impasse, tetapi impasse itu hanya bersifat sementara. Impase itu dilihatnya sebagai akibat dari putusnya hubungan dengan hidup kedesaan dan belum sampai hidup kekotaan pada nilai-nilai yang benar. Diakui ada kegiatan sastra misalnya cerpen, sedang roman tebal tentang revolusi belum masanya ditulis.
Tokoh yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia tidak mengalami krisis sastra yaitu :
- Nugroho Noto Susanto
- Boejoeng Saleh
- Sitor Situmorang
- H. B. Yassin
3 Kemungkinan kelesuan sastra menurut Nugroho Noto Susanto yaitu :
- Mungkin mite kelesuan terlahir dari pesimisme umum. Artinya pesimisme orang-orang tentang zaman sesudah pemulihan kedaulatan. Pesimisme itu disatu pihak dikandung oleh mereka yang hidupnya pada zaman federal lebih enak, dan di lain pihak dikandung oleh mereka yang pada waktu hidup sulit pada zaman revolusi punya impian-impian yang indah dan muluk tentang zaman sesudah perang kolonial.
- Kemungkinan yang kedua menurut Nugroho, ialah bahwa golongan “old craks” di kalangan sastrawan yang pada periode 45 mengalami zaman keemasan padahal pada periode 50 mulai mundur, berpegangan erat pada masa silam yang indah itu dengan mengagung-agungkan zaman gemilangnya dan menjelekkan zaman ini, di mana muncul banyak tokoh-tokoh baru.
- Kemungkinan ketiga ialah bahwa sastrawan 45 sangat berorientasi ke sastra Belanda, dank arena di negeri Belanda sehabis PD II kesusastraan mengalami kelesuan, karena matinya pemimpin-pemimpin gerakan pembaharuan, maka angkatan sastrawan Indonesia yang menjajarkan diri dengan angkatan Marsman capon, sekarang juga mau meniru memproklamasikan kelesuan Indonesia.
Istilah ’’Sastra Majalah’’ pertam kali dilansir oleh Nugro Notosusanto dalam tulisannya ’’Situasi 1945’’ yang dimuat dalam majalah ’’Kompas’’ yang dipimpimnya.
3 Majalah sastra dalam periode 1953-1961 yaitu :
- Gelanggang
- Mimbar Indonesia
- Pujangga Baru
Komentar
Posting Komentar