Pola Pemadanan Istilah Asing dalam Bahasa Indonesia

 A.    KONSEP DASAR DALAM TERMINOLOGI

1.    Kosakata (Vocabulary)

a.  Kosakata umum (common words): istilah yang berasal darii bidang tertentu yang karena dipakai secara luas menjadi unsur kosakata umum.

b. Kosakata Khusus (terms): istilah yang makna dan pemakaiannya terbatas pada bidang tertentu.

2.    Tata istilah/ terminologi (terminology)

a.    Istilah kata atau gabungan kata (frasa) yang dengan cermat mengungkapkan konsep, progres, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan dan seni

b.   Perangkat asas dan ketentuan pembentukan istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya.

3.    Tata nama (nomenklatur)

a.  Nama: kata atau frasa yang berdasarkan kesepkatan menjadi tanda pengenal benda, orang, hewan,  tumbuhan, tempat, atau keadaan.

b. Tata nama: perangkat peraturan penamaan dalam ipteks, seperti kimia, biologi, beserta kumpulan nama  yang dihasilkan.

4.    Istilah sumber dan istilah sasaran

a.    Istilah sumber: istilah yang menjadi bahan pembentukan istilah

b.    Isrtilah sasaran: istilah hasil pembentukan istilah.

c.    Bahan baku istilah:

bahasa Indonesia

bahasa Nusantara

bahasa Asing

 

B.     SEJARAH PERISTILAHAN INDONESIA

1.    1938 Kongres Bahasa Indonesia (KBI) I di Solo

a.  Amir Sjarifoedin: Menjesoeaikan Kata dan Faham Asing kepada Bahasa Indonsia (menekankan pentingnya peristilahan Indonesia dalam mengungkapkan berbagai konsep keilmuan)

b.      Rekomendasi KBI tidak ditindaklanjuti

2.    1942 Indonesiago Seibu Inkai (Panitia Goena Manjempoernakan Bahasa Indonesia)

3.  1947 Panitia Pekerja Bahasa Indonesia (Ketua: Sutan Takdir Alisajahbana) bertugas mengembangkan peristilahan Indonesia

4.    1950 Komisi Istilah (Panitia: Prijana, Nur Sutan Iskandar, Datuk Besar)

a.       Sekertariat Fakultas Sastra, Universitas Indonesia

b.      Terdiri atas 20 seksi

c.       Bubar tahun 1966

5. 1972 Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (terbentuk kerja sama kebahasaan Indonesia dan Malaysia) 1975 menjadi lembaga resmi pemerintah di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

6.    1987 Panitia Kerja Sama Kebahasaan (Pakersa)

a.       Panitia khusus peritilahan di bawah pusata pembinaan dan pengembangan bahasa

b.  Bekerja dalam kerangka Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Darusalam, Indonesia dan Malaisia)

7.    2013 Sidang Komisi Istilah (SKI)

a.       Mulai menghentikan pertukaran istilah dalam kerangka Mabbim

b.      Bersidang sedikitnya dua kali setahun

 

C.    PROSES PEMBAKUAN ISTILAH

1.    Penyeragaman konsep dan istilah

2.    Definisi istilah

3.    Pengurangan homonim, polisemi, dan sinonimi

4.    Penetapan penyebutan (designation) termasuk singkatan, lembaga, dan penciptaan istilah baru

5.    Kaidah penyerapan berdasarkan ejaan, bukan berdasarkan bunyi untuk kemudahan menelusuri kata sumber (aspek etimologis)

 

Pembakuan istilah= keseragaman

Bertujuan untuk kemudahan komunikasi antar pakar

Pembakuan istilah : ISO/ TC 37

Standar pembakuan : taktaksa dan seragam

1.      Tanpa polisemi

Morfologi (biologi)                      morfologi (linguistik)

Lema (lema)                                 lema (leksikografi)

2.      Tanpa homonim

Parabola (satelite dish)                 parabola (parabole)

Solar (solar)                                  solar (diesel fuel)

3.      Tanpa Sinonimi

Pertusis batuk rejan, batuk seratus hari, pertusis

Travelers chogue (cek musafir, cek perjalanan, travel cek, TO)

Keberterimaan Istilah

1.      Bentuk singkat

2.      Bunyi sedap didengar

3.      Makna baku

4.      Tak berkonotasi negatif

5.      Lazim digunakan

 

D.     PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH (PUPI)

1.      Edisi 1: 1975

2.      Edisi 2: 1988 (Kepmendikbud No. 0389/0/1988)

3.      Edisi 3: 2004 (Kepmendikbud No. 146/U/2004)

4.      Edisi 4: 2020 (naskah selesai, masih dalam proses pengundangan)

 

E.     PERSYARATAN ISTILAH YANG BAIK

1.   Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling tepat untuk mengungkapkan konsep termasuk dan tidak menyimpang dari makna itu.

2.   Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling singkat diantara pilihan yang tersedia yang mempunyai rujukan sama.

3.      Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang bernilai rasa (konotasi) baik.

4.      Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang baik dengar (eufonik).

 

F.     PEMBENTUKAN ISTILAH

Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia dan jika perlu ke salah satu bahasa rumpun, dilakukan lewat:

1.      Penerjemahan

a.      Penerjemahan Harfiah

Proses mengalihbahasakan istilah sumber ke istilah Indonesia yang dilakuakn berdasarkan kata per kata.

Contoh:

bounded zone                kawasan berikat

track record                   rekam jejak

talkshow                        gelar wicara                

b.      Penerjemahan Konsep

Proses mengalihbahasakan istilah sumber ke istilah Indonesia berdasarkan kesesuaian makna sekalipun bentuknya tidak sepadan.

Contoh:  bear(is h) market                     pasar lesu

               invention                                 reka cipta

               medical practitioner                dokter

2.      Penyerapan

a.       Dapat meningkatkan ketersalinan bahsa asing dan bahasa Indonesia secara tibal balik

Contoh:

Trolley diserap menjadi troli (lebih rigkas daripada kereta dorong)

b.      Lebih sesuai dan tepat diserap karena tidak mengandung konotasi buruk

Contoh:

Feses tidak berkonotasi buruk dibandingkan tahi

Nitrogen lebih tepat dari pada zat lemas

c.  Mempermudah komunikasi antar pakar jika padanan terjemahannya terlalu banyak sinonimnya.

Contoh:

Ideal diserap menjadi ideal dan bukan idaman, impian, cita-cita

Teller diserap menjadi teller dan bukan juru bayar, kasir, juru hitung

d.      Mempermudah pemahaman teks oleh pembaca Indonesia karena dikenal lebih dahulu

Contoh:

Efektif yang dikenal lebih dahulu daripada berhasil guna atau mangkus

Efisien yang dikenal lebih dahulu daripada berdaya guna atau sangkil

 

3.      Gabungan penerjemahan

a.      Perangkat bersistem

Asing

Indonesia

Makna

-able

ter-...(-kan/i)

‘dapat di-‘

detachable prefix

prefix tertanggalkan

‘dapat ditanggalkan’

exachange cation

kation tertukarkan

‘dapat dipertukarkan’

extractable phospht

fosfat terekstrakkan

‘dapat diekstrak’

Flammable

ternyalakan

‘dapat dinyalakan’

loanable fund

dana terpinjamkan

‘dapat dipinjamkan’

reneweble energy

energi terbarukan

‘dapat dibarukan’

 

b.      Gabungan bentuk bebas dan terikat

adi-:                    adikarya masterpiece               adikuasa superpower

catur-:                 catureulan quarter                   caturlarik quatrain

dwi-:                  dwimingguan biweekly           dwibahasa bilingual

eka-:                   ekamatra unidimension           ekasuku monosyllable

nir-:                    nirlama on-profit                     nirgelar nondegree

su-:                     susastra literary canon             susila good morals

tak-:                    akorganik inorganik                takadil unjust

tri-:                     trilipat threefold                      triunsur triadic

4.      Perekaciptaan

a.   Dilakukan untuk konsep baru yang belum ada istilahnya atau konsep yang sudah ada dengan menciptakan istilah, baik memanfaatkan kosakata yang lazim maupun menciptakan istilak baru.

Contoh:

Fondasi cakar ayam

Halalbihala

Penyangga sorobahu

Komentar