CONTOH NASKAH DRAMA 6 ORANG TEMA PENDIDIKAN
Tokoh
1. Faiz : Anak laki-laki
2. Maria : Pengadu
domba,nyinyir
3. Nurham : Guru BK
4. Septi : Ibu Sakit
5. Sri : Anak perempuan suka
bolos dan nyinyir
6. Lusi : Temannya Faiz
ADEGAN 1
Setelah
peninggalan bapaknya Faiz tinggal hanya bersama dengan sang ibu, dan sebelum
berangkat sekolah ia selalu membantu ibunya didapur, biasanya dia membantu
ibunya memasak dan mencuci piring. Di pagi itu tiba-tiba ibunya berkata....
Ibu Septi :
“Faiz setelah lulus sekolah nanti, sepertinya ibu sudah tidak sanggup lagi
untuk menyekolahkanmu. Kau tau kan biaya kuliah sangatlah mahal maafkan ibu ya
nak”
Faiz : “Iya Bu gapapa Faiz paham ko,
tapi bermimpi faiz bisa kuliah boleh dong heheh” (bercandaan faiz agar ibunya
bisa tersenyum).
Ibu Septi : “Ibu akan selalu mendoakanmu agar
cita-cita dan mimpimu suatu saat bisa tercapai nak”
Faiz : ”Ibu
pokoknya ngga boleh kerja cape-cape, inget pentingin kesehatan ibu aja oke”
Ibu Septi : “Iya nak, ya udah sana berangkat nanti
telat loh!”
Faiz : “ Ya bu Faiz berangkat dulu ya
Assalamualaikum” (sambil mencium tangan ibunya)
Ibu Septi : ”Waalaikumsalam, hati-hati dijalan yah”
ADEGAN 2
Dilain
situasi sekitar jam 07.30 suasana sekolah sudah mulai sepi karena semua siswa
sudah masuk kelas, pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Sri datang ke sekolah
terlambat karena semalam bermain game online hingga larut malam.
Sri : “Sial banget bisa-bisanya aku kesiangan”( sambil lari menuju gerbang
sekolah)
Tiba-tiba
datang teman sekelas Sri yaitu Maria yang pada pagi itu juga terlambat.
Maria : “Tunggu Sri tunggu aku Sri
Sriiiiiii” (melambai lambaikan tangannya)
Mereka
pun menyelinap masuk lewat gerbang
sekolah
Sri :
“Santai aja kali Mar....buru-buru amat”
Maria :
“Yah, kamu Sri.... udah telat masih bisa bilang santai”
Sri : “Memang sekarang jam
berapa?”
Maria : “07.45 menit, oh iya sekarang
kan pelajaran matematika”
Sri : “Wah, hampir telat 1 jam
kita nih, gimana kalo kita bolos jam pelajaran pertama ke kantin yuk, sambil
nunggu pelajaran pertama selesai.”
Maria : “Oke deh yuk yuk, tapi aku
tlaktir yah hehehhe”
Sri : “Gampang lah masalah itu”
Akhirnya
mereka berdua pun lebih memilih untuk pergi ke kantin ketimbang harus memasuki
kelas. Sambil mengendep-ngendap mereka pun berjalan menuju kantin.
ADEGAN 3
Kring kring kring
(bel istirahat berbunyi). Semua anak pun menuju kantin namun tidak dengan Faiz.
Faiz termenung di kursi
duduknya. Ia tak menyadari bahwa kegelisahannya tersebut sejak tadi telah
diperhatikan oleh sahabatnya Lusi.
Lusi : “Hei, kamu ini bel istirahat sudah berbunyi kamu melamun saja.”
Faiz : “Ya ampun Lusi, kamu mengagetkanku tahu! Kalau jantungku copot
bagaimana? Kamu mau ganti?
Lusi :
”He… he. Maaf maaf.”
Faiz : “Ada apa Lus?”
Lusi : “Ya tidak apa-apa. Eh ngmong-gomong ke kantin hayyuk
Iz.” (ajak Lusi)
Faiz : “Mau ke kantin, aku tidak punya uang he…he....he.....”
Lusi :
“Udah tenang aja aku yang
tlaktik, ngga usah kawatir santai aja kya sama siapa.”
Mereka berdua pun
berjalan menuju kantin. Mereka membeli makanan dan duduk sambil
berbincang-bincang.
Lusi : “Oh ya, ngomong-ngomong rencanamu setelah
lulus apa? Pasti kamu mau mengambil jurusan pendidikan guru kan? Sejak dulu kamu bicara tentang mimpimu
untuk bisa berkuliah di jurusan itu.”
Faiz :
”Entahlah Lus.”
Lusi :
“Loh, kok entahlah. Ada apa ini kawan? Bukankah kamu bercita-cita untuk menjadi
seorang guru?”
Faiz :
“Iya, memang benar. Tapi entahlah Lus.”
Lusi : “Ada apa ini kawan? Ada masalah apa sebenarnya? Ayo ceritakan padaku!”
Faiz : “Tentang mimpi-mimpiku itu Lus, rasanya aku tak bisa terus memupuknya. Ibuku tidak sanggup membiayai kuliah pendidikan tinggi.”
Lusi :
“Wah, rumit juga ya. Semangat Izzz!”
Maria dan Sri yang
mendengar percakapan mereka berdua pun menghampiri Faiz dan Lusi.
Maria : “Woy anak miskin kaya kau ini ku dengar-dengar mau kuliah ha...hha...ha... jangan mimpi
ketinggian deh Iz"
Sri : “Ngaca dulu makannya kamu itu siapa dan punya apa, anak miskin aja so so
an mau kuliah.”
Maria : “Jawab woy dasar anak miskin” (sambil menepuk pundak Faiz)
Sri : “Udah deh kamu tuh pantesnya nyangkul aja disawah jadi babu kotor-kotoran sekalian” (nyinyir)
Lusi : “Eh kalian jaga yah mulutnya.” (bentak Lusi)
Maria : “Eh lus kamu masih
mau temenan sama orang miskin
kya dia, kalau aku sih ogah
banget iyuh”
Lusi : “Heh dari pada temenan sama kalian
bisa-bisa aku kebawa buruknya kalian kan suka bolos, kerjaannya cuma nongkrong gajelas ga bakal
ada masa depannya anak kya kalian ini”(sambil menunjuk pada maria dan sri)
Faiz : “Udah yuk kita pergi saja, mereka ngga usah diladenin lagi” (menarik lusi
pergi)
Maria : “Woy mau kemana kita belum selesai ngomong woy”
(Faiz dan Lusi
tetap pergi tanpa mempedulikan mereka lagi)
ADEGAN 4
Sebenernya Faiz agak sakit hati si
mendengar omongan maria dan sri. Tapi setelah menceritakan semua permasalahannya tadi ke Lusi, Faiz agak sedikit lega. Setidaknya ia sedikit
bisa mengurangi beban dihatinya karena telah bercerita dengan sahabatnya itu.
Lusi :
“Iz aku punya ide begini saja Iz, kita konsultasikan masalahmu ini kepada Ibu Nur. Mungkin saja beliau punya masukan terbaik yang
bisa membantu semua persoalanmu itu.” (tiba-tiba saja omongannya mengagetkan Faiz)
Faiz :
“Baiklah, jam istirahat kedua setelah shalat dhuhur ya Lus. Waktu istirahat pertama kita sudah mulai
habis ini.”
Lusi :
“Baiklah, ayo kita masuk ke kelas!”
Faiz dan Lusi pun akhirnya menuju kelas mereka. Setelah
jam istirahat kedua selepas shalat dhuhur, mereka berdua pergi menuju ruang ibu
Nur yang merupakan guru Bimbingan Konseling di kelas mereka.
Faiz :
“Assalamualaikum.” (seraya mengetuk pintu ruangan)
Ibu Nur :
“Waalaikumsalam. Silahkan masuk Bu!”
Lusi :
“Terima kasih bu. Ayo Faiz, kita masuk!”
Faiz :
“Iya. Selamat siang bu.”
Ibu Nur :
“Oh Lusi, Faiz, ada apa ini? Apa ada yang mau kalian diskusikan kepada ibu?”
Lusi : “Oh iya bu, ada sesuatu hal penting yang ingin kami diskusikan. Kami
yakin akan dapat menemukan solusi terbaik jika masalah ini kami sampaikan
kepada ibu Nur.”
Ibu Nur : ” Baiklah, ceritakanlah masalahmu itu pada ibu! Barangkali ibu bisa
membantu.”
Lusi : “Ini bukan tentang saya bu, tapi Faiz. Nah, Iz ceritakanlah masalahmu itu!”
Fai : “Baiklah.”
Setelah menceritakan semua masalah Faiz kepada Bu Nur. Akhirnya Bu Nur memutuskan untuk membawa persoalan ini ke
wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Dan wakil kepala sekolah menyuruh
Bu Nur untuk langsung meng-agendakan untuk menemui orang tua dari Faiz untuk menjelaskan hal-hal penting seputar pendidikan
serta solusi agar Faiz dapat tetap melanjutkan pendidikan tingginya.
Faiz :
“Kalau hari minggu pagi bagaimana Bu? Insya Allah orang tua saya tidak ke sawah.
Apa Ibu Nur tidak keberatan meluangkan waktu libur di hari itu?”
Ibu Nur :
“Tentu saja tidak, Faiz. Ibu merasa harus memperjuangkan nasib pendidikanmu. Karena kamu adalah salah
satu siswa terbaik kami di sekolah ini.”
Keesokan harinya di hari minggu pagi. Bu Nur pergi berkunjung ke rumah Faiz Setibanya di rumah Faiz.
Ibu Nur : “Assalamualaikum.” (sambil mengetuk pintu)
Faiz :
“Waalaikumsalam.” (beberapa saat setelah megetuk pintu). “Silahkan masuk Bu Nur.”
Bu Nur :
“Terima kasih Faiz. Ibumu ada kan?”
Faiz :
“Ada Bu, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu Bu. Tak lama kemudian, Ibunya Faiz datang ke ruang tamu menyambut Bu Nur.”
Ibu Septi :
“Wah, ada tamu spesial rupanya. Bu Nur, apa kabar? Ini Ibu Nur gurunya Faiz di sekolah ya?”
Ibu Nur :
“Betul bu, saya guru di sekolahnya Faiz.”
Ibu Septi : “Maaf bu. Tempatnya begini
adanya.”
Bu Nur :
“Ah, tidak apa-apa bu. Terima kasih sudah diperbolehkan saya untuk berkunjung.”
Ibu Septi :
“Kalau boleh tahu, angin apa yang membawa ibu
ke rumah kami ini? Apa Faiz membuat masalah di sekolah.”
Ibu Nur :
“Oh, tidak bu. Sama sekali tidak. Justru Faiz adalah salah satu anak yang membanggakan
yang kami miliki di sekolah”
Ibu Septi :
“Syukurlah kalau begitu Bu, lantas ada masalah apa ya Bu?”
Ibu Nur :
“Begini Bu langsung saja ke pokok permasalahan. Beberapa hari yang lalu Faiz menyampaikan bahwa dirinya ingin sekali melanjutkan
pendidikannya di perguruan tinggi. Saya ingin mengklarifikasikan kepada ibu
selaku orang tua dari Faiz. Apakah betul ibu tidak memperkenankan Faiz untuk berkuliah?” Karena begini bu, saya rasa sangat disayangkan bahwa anak
secerdas Faiz tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Sementara Faiz ingin sekali untuk belajar di perguruan tinggi.”
Bu Septi : “Begitu rupanya. Sebelumnya terima kasih atas perhatian ibukepada anak saya. Begini Bu, alasan saya tidak memperkenankan
Faiz untuk berkuliah di perguruan tinggi tidak lain dan tidak bukan adalah
karena keterbatasan keuangan Bu. Saya ini hanya buruh tani di sawah. Penghasilan hanyalah cukup untuk makan sehari-hari dan membayar uang
sekolah.”
Bu Nur : “Begini bu. Maaf kalau saya lancang. Faiz harus tetap melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Pendidikan itu teramat penting yang harus
diperjuangkan dengan gigih. Rasanya terlalu dini untuk menganggap persoalan
ekonomi adalah faktor penghambat utama.”
Ibu Septi :
“Saya sebenarnya ingin
Faiz melanjutkan kuliah, tapi saya tak berkemampuan untuk membiayai Faiz, khususnya ketika ia akan melanjutkan
pendidikannya di perguruan tinggi.”
Faiz : “Betul bu. Kami benar-benar kesulitan masalah keuangan. Kami tak ingin mengeluh,
namun inilah hambatan terbesar kami saat ini.”
Bu Nur :
“Ibu. Kedatangan saya ke sini bukan hanya untuk menceramahi akan pentingnya pendidikan, bukan
itu. Saya ke sini juga membawa sebuah solusi yang cukup baik untuk Ibu, khususnya untuk Faiz.”
Ibu Septi : “Wah, apa itu Bu?”
Bu Nur :
“Faiz tetap bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi bu,
melalui program beasiswa bidik misi. Program ini ditujukan kepada calon mahasiswa
berprestasi dan tidak mampu. Beasiswa yang akan diberikan berupa uang tunai dengan
besaran yang telah ditentukan oleh pemerintah. Mengenai mekanisme pendaftarannya,
sekolah akan membantu Faiz.”
Ibu Septi :
“Masya Allah, alhamdulillah kalau begitu. Terima kasih banyak Bu Nur.”
Faiz : “Betulkan bisa begitu pak, bu? Saya sangat bersyukur
kalau memang bisa tetap melanjutkan pendidikan.” (Menangis haru?)
Ibu Septi : “Kau
tetap bisa berkuliah nak. Berterima kasihlah pada, ibu gurumu ini!” (sambil batuk karena memang ibu Faiz sudah dalam kondisi
sakit-sakitan)
Faiz :
“Terima kasih banyak telah banyak membantu saya Bu. “(menangis haru sambil mencium tangan Bu Nur)
(Bu Nur tidak mampu berkata-kata, hanya tersenyum
sambil menahan air mata haru)
Akhirnya Faiz tetap bisa melanjutkan cita-citanya untuk
berkuliah di perguruan tinggi dengan bantuan beasiswa yang difasilitasi oleh
sekolahnya. Iya akan membuat bangga Ibunya. Dan membuktikan pada
temannya yang suka nyinyirin dan ngomporin terutama si maria dan sri bahwa dia
akan jadi orang sukses.
Komentar
Posting Komentar