MAKALAH MATERI DAN IMPLEMENTASI PENGAJARAN PUISI DI SMA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Di SMA mempelajari puisi terdapat dalam KD. 3.17 Menganalisis unsur pembangun puisi, dan KD. 4.17 Menulis puisi dengan memerhatikan unsur
pembangunnya. Puisi di SMA merupakan salah satu karya yang dapat dikaji
dari bermacam-macam aspek. Puisi dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya,
mengingat bahwa puisi merupakan struktur yang tersusun dari bermacam unsur atau
ragam. Puisi juga dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat sepanjang
sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu mengalami perubahan dan
perkembangan. Puisi di SMA termasuk
salah satu jenis sastra yang digemari.
Sebagai
Siswa SMA sudah sepatutnya menyadari bahwa sebuah karya
sastra adalah sesuatu yang sangat kaya dengan makna. Karya tersebut harus dapat
dipahami agar dapat diketahui makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, pengajar dihadapkan pada sebuah tantangan bahwa akan diruntut untuk mempunyai kompetensi untuk
mengajarkan sastra, yang salah satunya adalah pemahaman terhadap genre sastra puisi.
Oleh sebab itu, maka harus senantiasa dapat memahami bagaimana cara atau metode
dalam memaknai sebuah karya sastra yang dalam hal ini adalah puisi.
B. RUMUSAN
MASALAH
Rumusan masalah makalah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana materi pengajaran puisi di SMA?
2. Bagaimana implementasi pengajaran puisi di SMA ?
C. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini
yaitu untuk mengetahui:
1. Materi pengajaran puisi di SMA
2. Implementasi
pengajaran puisi di SMA
BAB
II
PEMBAHASAN
A. MATERI
PENGAJARAN PUISI DI SMA
1.
Pengertian Puisi
Puisiadalah seni tertulis di mana
bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti
semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja
pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun
perbedaan ini masih diperdebatkan. Pandangan kaum awam biasanya membedakan
puisi dan prosa dari jumlah huruf dan kalimat dalam karya tersebut. Puisi lebih
singkat dan padat, sedangkan prosa lebih mengalir seperti mengutarakan cerita.
Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak
sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi
sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati
seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.
Baris-baris
pada puisi dapat berbentuk apa saja. Hal tersebut merupakan salah satu cara
penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi
satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin
membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki
alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi
keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara
puisi lama dan puisi baru
Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi cyber belakangan ini makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri yaitu 'pemadatan kata'. Kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut.Di dalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat puisi itu semakin indah. Majas tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu sindiran langsung dengan kasar. Di beberapa daerah di Indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun. Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.
2.
Unsur-Unsur
Puisi
Unsur-unsur
puisi meliputi struktur fisik dan struktur batin puisi
a.
Struktur Fisik
Puisi
Struktur
fisik puisi terdiri dari:
1)
Perwajahan puisi
(tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata,
tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu
dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut
sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
2)
Diksi, yaitu
pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi
adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak
hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata
dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
3)
Imaji, yaitu kata
atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti
penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh
(imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat,
medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
4)
Kata konkret, yaitu
kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji.
Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret
“salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata
kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi,
kehidupan, dll.
5)
Gaya bahasa, yaitu
penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan
konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis,
artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga
majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi,
litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme,antitesis, alusio,
klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
6)
Rima/Irama adalah
persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima
mencakup: Onomatope
(tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi.
3.
Struktur
batin puisi terdiri dari :
Tema/makna
(sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan
makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun
makna keseluruhan.
Rasa (feeling),
yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan
psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin,
kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan
psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam
menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih
kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak
bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang
terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
Nada (tone),
yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan
rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja
sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja
kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
Amanat/tujuan/maksud (intention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
4.
Jenis-jenis
Puisi
Menurut
zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru
a.
Puisi
Lama
Puisi lama
adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
Jumlah kata dalam
1 baris
Jumlah baris
dalam 1 bait
Persajakan (rima) Banyak suku kata tiap baris
Irama
Ciri puisi lama:
Merupakan puisi
rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan
lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat
oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
Jenis-jenis
puisi lama:
Mantra adalah
ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah
puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari
8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi.
Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi,
agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Karmina adalah
pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah
pantun berkait.
Gurindam adalah
puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah
puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a,
berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah
pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
b.
Puisi
Baru
Puisi baru
bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku
kata, maupun rima.
Ciri-ciri Puisi
Baru:
Bentuknya rapi,
simetris;
Mempunyai
persajakan akhir (yang teratur);
Banyak
mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
Sebagian besar
puisi empat seuntai;
Tiap-tiap
barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
Tiap gatranya
terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
Jenis-jenis
puisi baru menurut isinya, puisi dibedakan atas :
1)
Balada
Adalah puisi
berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing
dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima
berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan
sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko
Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.
2)
Himne
Adalah puisi
pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu pujian
untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau
almamater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi
berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian
terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan
ketuhanan.
3)
Ode
Adalah puisi
sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya
ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik
terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
4)
Epigram
Adalah puisi
yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani epigramma
yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran
untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
5)
Romansa
Aadalah puisi
yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis
Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu
dendam, serta kasih mesra.
6)
Elegi
Adalah puisi
yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan
rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena
kematian/kepergian seseorang.
7)
Satire
Adalah puisi
yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin Satura yang berarti sindiran;
kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas
pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim, dsb.).
Sedangkan
macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
8)
Distikon
Adalah puisi
yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai)
9)
Soneta
Adalah puisi
yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait pertama
masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta
berasal dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti
suara. Jadi soneta adalah puisi yang bersuara.
5.
Puisi
Kontemporer
Kata kontemporer
secara umum bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman atau selalu
menyesuaikan dengan perkembangan keadaan zaman. Selain itu, puisi kontemporer
dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi
kontemporer berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Puisi
kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun
bahasa, memakai kata-kata yang makin kasar, ejekan, dan lain-lain. Pemakaian
kata-kata simbolik atau lambang intuisi, gaya bahasa, irama, dan sebagainya
dianggapnya tidak begitu penting lagi.
Puisi
kontemporer dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1.
Puisi mantra
Adalah puisi
yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Calzoum Bachri adalah orang yang
pertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi kontemporer. Ciri-ciri mantra
adalah :
Mantra bukanlah
sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu yang disajikan untuk
menimbulkan akibat tertentu.
Mantra berfungsi
sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri.
Mantra
mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran itu terletak
pada perintah.
2.
Puisi mbeling
Adalah bentuk
puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah
ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertama
kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak,
dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado, lembar tersebut diberi nama "Puisi
Mbeling". Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi.
Dasar puisi mbeling adalah main-main.
3.
Puisi konkret
Adalah puisi
yang disusun dengan mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga
menyerupai gambar tertentu. Puisi seperti ini tidak sepenuhnya menggunakan
bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umumnya terdapat
lambang-lambang yang diwujudkan dengan benda dan/atau gambar-gambar sebagai
ungkapan ekspresi penyairnya.
Penyusunan puisi
kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memerhatikan
beberapa unsur sebagai berikut :
Unsur bunyi;
meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk
menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya.
Tipografi;
meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun
sesuai dengan gambar (pola) tertentu.
Enjambemen;
meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris
berikutnya.
Kelakar
(parodi); meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian
puisi yang pekat dan penuh perenungan (kontemplatif)
Contoh Puisi
|
TITIP RINDU
BUAT AYAH Karya
Ebiet G. Ade Di matamu masih tersimpan
selaksa peristiwa |
B. IMPLEMENTASI
PENGAJARAN PUISI DI SMA
Prosedur Pembelajaran (sesuai KD)
1. Mengidentifikasi Suasana, Tema, dan Makna Puisi
Sebelum mengidentifikasi
komponen penting dalam puisi terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
untuk menentukan komponen penting puisi, yaitu :
a.
Suasana dalam
puisi yang dibacakan;
langkah-langkah yang
dilakukan agar mampu menentukann suasana dalam puisi yang dibacakan yaitu
mencermati puisi dengan saksama. Ketika mencermati tersebut, perhatikan juga pilihan kata
(diksi) dalam puisi yang dibaca untuk mengetahui isi
puisi. Diantara kata-kata atau larik-larik yang membangun puisi itu
ada yang menyentuh perasaan maka larik-larik yang membuat
perasaan tersentuh itu dicatat. Kemudian timbullah perasaan setelah
mendengarkan puisi tersebut. Perasaan itu
bisa berupa perasaan sedih, marah, bangga, dan sebagainya. Dengan begitu,
suasana sudah dapat ditentukan.
b. Tema
dalam puisi,
Dalam menentukan tema
puisi, terdapat prosedur yang bisa dilakukan yaitu dengan merunut kata-kata
yang berulang. Kata-kata yang berulang itu merupakan inti puisi.
Akhirnya inti puisi yang merupakan tema dapat disimpulkan dengan
menyertakan alasan-alasan yang mendukung tema.
c. Makna
dalam puisi,
Ketika hendak menentukan
makna puisi, langkah-langkah berikut ini akan membantu yaitu pertama kali
carilah larik-larik yang mendukung makna. Kemudian maknai masing-masing larik
tersebut. Berdasarkan makna larik-larik tersebut dapat disimpulkan makna puisi
secara utuh.
2. Cara Membacakan Puisi
Selain
mengidentifikasi komponen puisi, terkadang perlu membaca puisi untuk lebih
memahami puisi. Agar penjiwaan, ekspresif, dan volume suara tepat dan
mengena saat pembacaan puisi, langkah awal yang harus dan mutlak dilakukan
adalah membaca dan memahami isi puisi. Pemahaman
terhadap isi puisi ini tidak hanya untuk mendapatkan tafsir makna
terhadap puisi yang akan dibacakan melainkan juga untuk menentukan bagaimana
lafal, nada, tekanan serta intonasi diucapkan saat pembacaan puisi.
Memusikalisasikan
Puisi
Sebelum memusikalisasikan atau menyanyikan puisi
dengan diiringi musik, lakukanlah langkah-langkah sebagai berikut :
a.
Pahamilah suasana,
tema, dan makna puisi tersebut Pemahaman ini didapatkan setelah
mengidentifikasi komponen puisi yaitu suasana, tema dan makna puisi.
b.
Setelah memahami komponen puisi,
buatlah aransemen sederhana berdasarkansuasana, tema, dan makna puisi tersebut.
c.
Kemudian berlatihlah menyanyikan
puisi tersebut dengan iringan aransemen yang telah dibuat.
3.
Menganalisis unsur pembangun puisi
Untuk
menganalisis unsur pembangun puisi, ada beberapa langkah yang harus dilakukan:
a. Memahami makna judul
Pertama kali yang dibaca dalam puisi adalah
judul. Judul merupakan identitas atau cap sebuah puisi. Biasanya judul
sudah memberikan gambaran isi sebuah puisi secara garis besar. Mursal Esten
mengibaratkan judul sebagai sebuah lubang kunci untuk menengok makna
keseluruhan puisi itu. Bahkan melalui judul tersebut dapat terbuka makna yang
ada dalam sebuah puisi. Untuk memahami makna sebuah judul, harus
dicari dulu makna lugasnya. Usahakan memahami makna kata, frase, atau
kalimat demi kalimat. Untuk mencari makna judul sebuah puisi, sebaiknya
menggunakan makna baku terlebih dahulu seperti yang ada dalam kamus. Setelah
itu baru mencari makna tambahannya.
b.
Memahami Makna Kata Kunci
Dalam setiap
puisi terdapat beberapa kata yang menentukan makna puisi itu. Kata-kata seperti
itu dinamakan kata kunci. Kata kunci adalah kata yang sering diulang penyair
dalam puisinya, misalnya kata yang menunjukan waktu dan tempat, kata-kata
asing, atau kata-kata yang sengaja diberi perhatian khusus oleh penyair dengan
memberi garis bawah, mencetak miring, dan sebagainya.
Makna kata
dalam sebuah puisi meliputi makna lugas atau makna leksikal, makna citraan atau
makna imaji, dan makna lambang. Jadi untuk memahami puisi, ketiga makna
tersebut harus diungkapkan.
i. Makna
Lugas
Makna lugas adalah sebuah kata, frase, atau kalimat
yang maknanya sesuai dengan makna leksikal atau makna yang terdapat dalam
kamus. Beberapa kata mungkin perlu dicari maknanya di dalam
kamus agar makna kata tersebut bisa dipahami dengan baik.
ii. Makna
Citraan atau Makna Imaji
Dalam memilih sebuah kata, seorang
penyair tidak hanya bermaksud menyampaikan makna lugas saja. Lebih dari
itu, penyair membentuk citraan atau imaji tertentu pada pikiran pembacanya.
Makna yang ditimbulkan itu disebut makna citraan atau makna imajis.
iii. Makna
Lambang
Penyair seringkali memberi beban pada kata tertentu
melebihi makna yang biasa dikandung makna kata tersebut. Dalam puisi, sebuah
kata dapat saja merupakan lambang dari sesuatu di samping memiliki makna
yang biasa. Beban tambahan itu disebut makna lambang sebuah kata. Pembaca harus
berupaya untuk menyingkapkan makna lambang sebuah kata dalam puisi dengan
beberapa kemungkinan yang ada.
4.
Menulis puisi
Selain
menikmati puisi karya orang lain, terkadang kita juga ingin mengungkapkan
perasaan dalam bentuk puisi. Selain itu, peristiwa yang terjadi di sekitar kita
mungkin begitu mengesankan sehingga menarik kita untuk menuliskannya dalam
puisi. Menulis puisi yang baik harus memerhatikan unsur pembangunnya
(tema, diksi, gaya bahasa, imaji, struktur, perwajahan. Dengan demikian
terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan
a.
Menentukan tema
Sebelum menulis
puisi, pertama kali harus ditentukan temanya. Dalam hal ini, pilihlah sesuatu
yang membuat kita terinspirasi. Tema merupakan suatu gagasan yang dituangkan
dalam sebuah bentuk puisi. Misalkan puisi bertemakan tentang cinta, ketuhanan,
kemanusiaan, keindahan alam, dan sebagainya.
b.
Menggambarkan Suasana Puisi
Setelah itu, perlu digambarkan suasana puisi yang akan dibangun dalam puisi
yang dibuat. Suasana puisi maksudnya adalah gambaran perasaan penyair dalam
puisi. Jika suasana bahagia bahasa yang digunakan romantis, lembut, dan indah.
Begitu juga sebaliknya jika suasana yang dirasakan sedang sedih, bimbang,
penggunaan bahasa dalam membuat puisi menggunakan bahasa yang sinis dan keras.
c.
Mendaftar kata-kata yang sesuai
Setelah menggambarkan suasana, perlu mendaftar atau menggunakan kata-kata
yang diwarnai dengan ungkapan-ungkapan yang bermakna. Misalnya ungkapan rasa
sayang terhadap ayah. Ayah, luasnya bumi tak seluas sayangku padamu.
d.
Memilih diksi
Setelah mendaftarkan kata yang sesuai, perlu dilakukan pemilihan kata atau
diksi. Pilihlah kata-kata yang memberikan nilai rasa tertentu. Selain itu,
perhatikan juga makna lugas, makna citraan, dan makna lambanga setiap kata yang
akan dituliskan dalam puisi.
e.
Menulis Puisi
Setelah keempat langkah diatas telah dilakukan, maka barulah membuat sebuah
puisi. Yang dimulai dari inspirasi yang telah didapat
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk
kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Penekanan
pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan
rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih
diperdebatkan. Pandangan kaum awam biasanya membedakan puisi dan prosa dari
jumlah huruf dan kalimat dalam karya tersebut. Di SMA mempelajari puisi terdapat dalam KD. 3.17 Menganalisis unsur pembangun puisi, dan KD. 4.17 Menulis puisi dengan memerhatikan unsur
pembangunnya. Puisi di SMA merupakan salah satu karya yang dapat dikaji
dari bermacam-macam aspek. Puisi dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya,
mengingat bahwa puisi merupakan struktur yang tersusun dari bermacam unsur atau
ragam. Puisi juga dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat sepanjang
sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu mengalami perubahan dan
perkembangan. Puisi di SMA termasuk
salah satu jenis sastra yang digemari.
B. SARAN
Hendaknya pengajaran puisi di SMA
perlu untuk memahami makna
secara keseluruhan puisi perlu dianalisis unnsur pembangun puisi dan dalam menulis harus
memperhatikan unsur-unsur pembangun dalam puisi. Secara
struktural adalah analisis yang melihat bahwa unsur-unsur struktur puisi itu
saling berhubungan erat, saling menentukan artinya. Sebuah unsur tidak
mempunyai makna dengan sendirinya terlepas dari unsur-unsur lainnya. Sebuah puisi tersusun
oleh tanda-tanda yang bermakna dan bersistem sehingga dapat didekati dengan
analisis unsur pembangunnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Syafriyadi. 2012. Makalah Bahasa Indonesia Tentang Puisi,
[Online]. Tersedia: http://syafriadi-argamakmur.blogspot.com. [30 April 2021 12:31]
Admin. 2014. Puisi, [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org. [30 April 2021 12:34]
Samono, Sapri. 2013. Contoh Makalah Bahasa Indonesia Puisi,
[Online]. Tersedia: http://ajunsapri.blogspot.com. [30 April 2021 12:36]
Komentar
Posting Komentar