Beberapa Masalah Dalam Pendekatan Penulisan Buku Teks Bahasa

    Dalam pendekatan penulisan buku teks bahasa disentuh beberapa masalah, diantaranya : a) posisi bahasa dalam struktur otak manusia; b) prinsip-prinsip psikologi yang berkenaan dengan motivasi, kognisi, intelegensi, dan emosi; c) pemerolehan bahasa; dan d) teori-teori pembelajaran dalam rangka meningkatkan pencapaian hasil pembelajaran bahasa. Berikut ini adalah penjelasan lengkapnnya:

a.      Posisi bahasa dalam struktur otak manusia

Belajar merupakan rangkaian proses mental yang aktif dalam mencari, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam pengetahuan yang memungkinkan perubahan dalam perilaku. Proses yang terjadi itu, baik yang terlihat mata maupun yang tidak terlihat, mempunyai saluran dan tempatnya sendiri pada struktur otak manusia, sebagaimana terlihat pada gambar berikut. (Millrood 2001a: 105).

Gambar fungsi otak belahan kanan dan belahan kiri (Millrood 2001a: 106):

Dari gambar di atas terlihat fungsi-fungsi yang berhubungan dengan bahasa berada pada otak belahan kanan dan belahan kiri. Pada otak belahan kanan yang terhubung ke anggota tubuh bagian kiri terdapat fungsi insight (tilikan, bashirah), art (seni), dan imajinasi; sedangkan pada otak belahan kiri yang terhubung keanggota tubuh bagian kanan terdapat fungsi bahasa tertulis, reasoning (penalaran), bahasa lisan, dan keilmuan.  Friederici 2002 mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai aktivitas syaraf otak ketika mendengarkan kalimat kompleks dan kalimat sederhana, dan membicarakannya dengan sangat mendalam dalam TRENDS in Cognitive Sciences Vol.6 No.2 February 2002 dengan artikelnya yang berjudul “Towards a neural basis of auditory sentence processing”. (Friederici 2002: 83).

Implikasi dari struktur otak di atas dalam penulisan buku ajar adalah perimbangan dan keterpaduan isi strand bahasa yang meliputi: 1) bahasa untuk informasi dan pemahaman; 2) bahasa untuk merespons dan mengekspresikan kesusastraan; 3) bahasa untuk analisis dan evaluasi kritis; 4) bahasa untuk interaksi sosial; dan 5) bahasa dalam integrasinya dengan teknologi.

b.      Prinsip-prinsip psikologi yang berkenaan dengan motivasi, kognisi, intelegensi, dan emosi

Motivasi sebagai dorongan internal yang mengarahkan kepada sebagian tujuan dipengaruhi kekuatan internal seperti rasa ingin tahu, kesanggupan (selfefficacy), sikap, kebutuhan, kemampuan, dan faktor-faktor eksternal seperti fleksibilitas, kreativitas dan keajegan dari strategi belajar-mengajar, dan situasi yang menye-nangkan. (Frith 1997: 1-6). Kognisi atau knowledge (pengetahuan) yang diperoleh melalui suatu proses dan dapat menimbulkan perubahan perilaku, perlu ditingkatkan menjadi metakognisi yaitu: pengetahuan tentang pemikiran kita sendiri yang meliputi perpaduan dari berpikir, mengetahui, belajar dan kontrol.

Misalnya guru meminta kepada seorang dari siswanya untuk merefleksikan karyanya dalam portofolio dan mengevaluasinya dengan singkat mengapa ini merupakan karyanya yang paling baik. (Adkins 1997: 1-6; Horodezky 1999: 1-3). Banyak hasil penelitian yang menghubungkan kognisi atau metakognisi dengan rancangan pengajaran, misalnya Skinner (1904-1990) dengan Operant (Instrumental) Conditioning (Mergel 1998); dan Cooper 1998 dengan Research into Cognitive Load Theory and Instructional Design at UNSW Australia, dan menyarankan agar pelajaran (instruktional) disiapkan dengan sebaik-baiknya agar memori kerja (working memory) yang sangat terbatas dari instruksional tersebut dapat dikirimkan ke memori jangka panjang (long term memory) yang tidak terbatas. (Cooper 1998: 1-14).

Kiranya perlu pula untuk diperhatikan keseimbangan antara aspek pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) agar dapat membentuk kepribadian anak didik yang seimbang pula. Bloom menyebut aspek-aspek di atas sebagai kognitif, afektif dan psikomotor. (Clark 2000: 1- 5). Faktor intelijensi dan emosi, meskipun berbeda, sebenarnya apabila ditelusuri dari mana sumber atau asalnya mungkin dapat dikembalikan pada otak belahan kiri dan belahan kanan. Sebab belahan otak kiri berhubungan dengan aktivitas yang bersifat ketrampilan, kepandaian dan yang serupa dengannya; sedangkan otak belahan kanan berhubungan dengan aktivitas yang bersifat emosi, intuisi dan yang serupa. Oleh karena itu, keseimbangan dan keterpaduan antara faktor-faktor intelijensi dan emosi dalam materi dan latihan dalam buku ajar harus tetap dijaga agar terbentuk kepribadian yang seimbang dan utuh pada diri siswa. Dan pada gilirannya standar nasional mengenai performansi akademik atau standar kompetensi nasional, dapat diwujudkan; sebab setiap kurikulum tentu akan melakukan benchmark untuk mengevaluasi dan mengontrol tingkat pencapaian belajar yang diterapkan di setiap sekolah atau daerah, setelah siswa berada pada tahapan tertentu. (Puskur 2002, Penilaian Berbasis Kelas: 1-2; Kansas State Board of Education 2000: 42-67). Tinggal dipilih tingkatan yang mana saja dari tingkatan-tingkatan yang dibenchmark itu, akan dibenchmark secara nasional, untuk memenuhi standar nasional.

c.       Pemerolehan bahasa

Proses pemerolehan bahasa (language aquisition) bagi BA di tingkat SMU, sudah berakhir dan tidak ada lagi, sebab sebagaimana dikatakan Piaget, perkembangan kognisi siswa SMU sudah mencapai tingkat operasi formal seperti layaknya orang dewasa atau sudah matang, yakni mulai usia 12 tahun ke atas. (http://www.crystalink.com/piaget.htm). Dalam tingkatan ini intelijensi ditunjukkan melalui penggunaan logis dari lambang-lambang yang berhubungan dengan konsep yang abstrak. Namun, tidak semua anak dapat mencapai kematangan ini. Hanya 35% yang dapat mencapainya, dan selebihnya kembali lagi ke tingkat sebelumnya. Bahkan banyak orang yang tidak dapat berpikir secara formal selama masa dewasa mereka. (Huitt 1998: 2). Millrood juga mengeluarkan pernyataan yang hampir sama dengan Piaget, yaitu pada usia 5 dan 6 tahun, anak-anak belum menyadari bahwa kalimat seperti “The rabbit is nice to eat” dan kalimat “The rabbit is eager to eat” mempunyai makna dasar yang benar-benar berbeda. Kemudian sejak umur 6 sampai 12 tahun, anak-anak mulai memperlakukan bahasa dengan sadar dan memahami makna kalimat yang tersembunyi dalam dan juga struktur kalimat. Akhirnya, sejak umur 12 tahun, anak-anak menempuh jalannya sendiri menuju pemikiran abstrak yang lebih matang tentang bahasa. (Millrood 2001: 70). Pada usia SMU ini pemerolehan bahasa (language aquisition) berubah menjadi pembelajaran bahasa (language learning). Maka yang diperlukan adalah perawatan dan perhatian dari guru agar siswa tidak kembali lagi ke tingkat di bawahnya.

d.   Teori-teori pembelajaran dalam rangka meningkatkan pencapaian hasil pembelajaran bahasa

Banyak teori pembelajaran bahasa yang dapat diadopsi dan digunakan untuk pembelajaran BA sebagai asing di kelas. Namun sebelum teori-teori itu digunakan, terlebih dahulu harus dijabarkan menjadi strategi-strategi pembelajaran dan teknik-teknik operasional yang dapat dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar bahasa. Beberapa teori pembelajaran bahasa dapat disebutkan di sini, misalnya inkuiri, konstruktivisme, diskusi (KBK 2002, KBM: 1-5), pengelompokan yang heterogen, pembelajaran kooperatif, pembelajaran bermakna, proyek efikasi, akitivitas kolaboratif,KWL.

    Hal terpenting yang harus dilaksanakan oleh guru bahasa di dalam kelas adalah amanat kurikulum itu sendiri dalam memandang peserta didik. Meskipun guru bebas untuk menggunakan strategi dan teknik pembelajaran, tetapi kurikulum mengamanatkan agar proses pembelajaran di kelas didasarkan pada teori pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner-centered curriculum), apapun strategi dan teknik yang digunakannya. Implikasinya bagi penulisan buku teks ialah buku siswa dibuat sesuai dengan kebutuhan belajar dan kegiatan siswa baik di kelas maupun di rumah, dan mempertimbangkan gaya belajarnya. Di samping itu, harus disediakan pula buku guru yang memberi petunjuk peran apa yang dapat dilakukannya dalam setiap satuan pelajaran.

Komentar