Penjelasan BSNP (2014) tentang buku teks komponen isi, penyajian, kebahasaan, dan kegrafikan
Berdasarkan
BSNP (2014), kualitas buku teks pegangan siswa dapat diukur berdsarkan empat
komponen. Komponen tersebut adalah komponen isi, penyajian, kebahasaan, dan
kegrafikan. Berikut ini adalah Penjelasannya:
a.
Komponen isi
Secara umum,
kualitas komponen isi pada buku
teks pegangan siswa BIWP berada
pada kategori cukup. Hasil temuan menunjukkan kualitas komponen isi buku teks
pegangan guru BIWP memiliki kategori baik pada komponen isi adalah mencantumkan
sumber rujukan berbasis TIK melalui situs. Peserta didik atau satuan pendidikan
yang memiliki fasilitas internet dapat mengunjungi laman situs tersebut.
Diharapkan penulisan alamat situs tersebut dapat merangsang keingintahuan peserta
didik mengenai objek tersebut melalui eksplorasi situs sejenis baik secara
online atau offline.
Pemahaman materi
merupakan tahap lanjutan setelah membaca dan menyimak teks (percakapan, laporan
utuh, gambar, ilustrasi). Pemahaman teks yang dimaksudkan berupa perintah atau
latihan yang mengarahkan peserta didik untuk memahami bentuk, struktur, dan
isi/pesan teks. Fakta kebahasaan/kesastraan merupakan uraian materi yang
disajikan di dalam teks dalam hal muatan fakta kebahasaan atau kesastraan
dirancang sesuai dengan tuntutan untuk pencapaian KI dan KD berdasarkan ruang
lingkup empat kompetensi inti (kompetensi inti sikap spiritual, kompetensi inti
sikap sosial, kompetensi inti pengetahuan, kompetensi inti keterampilan).
b.
Komponen penyajian
Hasil temuan terkait
komponen penyajian adalah mengenai kelengkapan penyajian buku teks yang tidak
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh BSNP. Hasil temuan menunjukkan
beberapa bagian sajian tidak termuat pada buku teks seperti pada bagian tujuan
penulisan buku teks pelajaran tidak terurai pada halaman tersendiri. Tujuan
penulisan buku hanya termuat pada bagian kata pengantar dengan porsi yang
padat. Selanjutnya, bagian tujuan pembelajaran juga tidak terurai secara
eksplisit dan memiliki space tersendiri pada bagian pendahuluan buku teks pada
setiap bab buku teks. Selanjutnya,
sistematika buku juga tidak secara eksplisit diuraiakan. Sistematika buku hanya
dapat diidentifikasi secara tidak langsung pada daftar isi di bagian
pendahuluan buku teks. Sistematika buku teks tidak dideskripsikan secara khusus
pada halaman tersendiri. Selanjutnya, hal-hal lain yang dianggap penting bagi
peserta didik juga tidak terakomodasi pada halaman tersendiri. Bagian lain yang
teridentifikasi adalah bagian rujukan pada ilustrasi dan tabel tidak memiliki
judul dan rujukan yang jelas. Ilustrasi dan tabel hanya disajikan secara
eksplisit tanpa membubuhkan nama dan rujukan tabel atau ilustrasi dengan jelas.
Pada bagian lain juga, teridentifikasi pada bagian evaluasi tidak termuat pada
akhir bab. Secara keseluruhan buku teks berisi latihan dan tugas. Namun,
disayangkan pada bagian akhir bab tidak memuat evaluasi secara keseluruhan
kegiatan dan tugas yang sudah dilalui pada bagian akhir bab. Lebih lanjut, penyajian
uraian materi mengenai pengenalan, pencermatan, analisis, ringkasan, dan revisi
teks tidak diuraikan pada setiap bab atau jenis teks. Penyajian uraian materi
tersebut dimuat pada bab tersendiri yaitu bab VII dan bab VIII. Untuk
menuntaskan pemahaman peserta didik mengenai setiap jenis teks, sebaiknya tidak
dibahas pada bab yang terpisah. Hal ini menyebabkan pemahaman peserta didik
tidak terserap secara holistik. Hal ini menyebabkan penggunaan buku teks tidak
efektif karena harus “bolak balik” membuka halaman yang berbeda untuk mempelajari
satu jenis teks.
Sistematika komponen penyajian buku teks
disampaikan secara jelas, fokus, dan taat asas dalam setiap bab, yakni ada
bagian pendahuluan (berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, tujuan
pembelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, serta hal-hal
lain yang dianggap penting bagi peserta didik), bagian isi (pembentukan
konteks, uraian, wacana, teks, gambar, ilustrasi, perlatihan, dan pendukung
lain), serta bagian penutup (rangkuman, ringkasan), serta relevan dengan pokok
bahasan sehingga mampu membangkitkan rasa senang dan pemenuhan keingintahuan
peserta didik dalam belajar. Selanjutnya,
materi, perlatihan, atau contoh yang disajikan melalui wacana, teks, gambar,
dan ilustrasi pada buku teks pegangan siswa BIWP kelas VII dapat membuka
wawasan peserta didik untuk mengenal dan menghargai perbedaan budaya, pendapat,
penampilan, dan peninggalan leluhur budaya bangsa, mengenal persebaran
keanekaragaman alam dan makhluk hidup, serta keunikan setiap daerah. Pada
beberapa teks menyajikan kekayaan budaya dan folklor dari beberapa suku yang
ada di Indonesia.
Selain itu, buku
teks pegangan siswa BIWP kelas VII memuat materi melalui wacana, teks, gambar,
dan ilustrasi menempatkan peserta didik se2bagai
subjek pembelajaran sehingga uraian dalam buku mampu membentuk kemandirian
belajar peserta didik, mengakomodasi belajar aktif berorientasi pendekatan
saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksprimen,
mengasosiasikan/mengolah informasi, mengomunikasikan). Penyajian materi
bersifat interaktif dan partisipatif yang memotivasi peserta didik terlibat
secara mental dan emosional dalam pencapaian KI dan KD sehingga peserta didik
termotivasi untuk belajar secara komprehensif tentang berbagai persoalan
kebahasaan dan kesastraan. Buku
teks pegangan siswa BIWP kelas VII pada bagian membangun konteks memuat materi
melalui wacana, teks, gambar, dan ilustrasi yang dapat mengembangkan motivasi
belajar siswa dan merangsang peserta didik untuk berpikir kreatif tentang apa,
mengapa, dan bagaimana mempelajari materi pelajaran dengan rasa senang dalam
mengembangkan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial
c.
Komponen kebahasaan
Pada komponen
kebahasaan, hasil temuan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang tidak sesuai
dengan tingkat perkembangan intelektual siswa. Istilah-istilah yang digunakan
banyak yang harus diterjemahkan dengan menggunakan kamus bahasa. Terdapat
beberapa istilah atau frasa yang membingungkan peserta didik untuk jenjang SMP. Selain itu, uraian
materi tentang ciri ke bahasaan setiap jenis teks tidak memiliki uraian yang
secara khusus menunjukkan ciri kebahasaan jenis teks tersebut. Uraian materi
tentang fitur kebahasaan terkesan sekadar disisipkan pada setiap jenis teks.
Namun fitur
kebahasaan tersebut sebenarnya tidak menunjukkan ciri kebahasaan yang khusus
digunakan pada setipa jenis teks tersebut. Bahkan, persebaran uraian materi
tentang kebahasaan tidak terpetakan dengan baik. Peta konsep materi kebahasaan
tidak sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi peserta didik pada jenjang
SMP.
Selanjutnya,
uraian teoretis mengenai sastra pada buku teks pegangan siswa memiliki porsi
yang tidak berimbang dengan materi kebahasaan. Uraian materi mengenai sastra
hanya dimuat pada bab tersendri adalah teks cerita pendek. Sedangkan, genre
sastra lain seperti puisi, novel, dan drama tidak memiliki ruang pembahasan
pada bab tersendiri. Kondisi ini menjadi isu klasik yang tidak memiliki masa
depan yang jelas dalam dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Selanjutnya, uraian
substansi antarbab tidak proporsional dengan KI dan KD. Secara keseluruhan,
beberapa perlatihan, contoh, ilustrasi, atau gambar secara tidak seimbang
dengan kebutuhan tiap-tiap pokok bahasan. Terdapat dua bab yang membahas
tentang teks eksposisi. Komposisi tersebut tidak berimbang dibandingkan materi
teks lain yang masing-masing dibahas dalam satu bab. Jika komponen kompleksitas
teks dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan komposisi halaman, teks yang
lain juga seharusnya memiliki porsi yang sama. Hal ini mengingat tradisi
literasi peserta didik sangat rendah.
Pada jenjang
sebelumnya, peserta didik tidak memiliki kompetensi yang mumpuni untuk
berhadapan dengan pembelajaran berbasis teks isinyalir kondisi ini disebabkan
karena jumlah teks yang akan dipelajari selama dua semester adalah lima buah
jenis teks. Tentusaja jumlah ganjil tersebut menyulitkan penulis untuk membagi
pembahasan ke dalam dua semester. Hal ini menyebabkan sebuah teks terpaksa
dibahas masing-masing dalam satu bab pada semester ganjil dan genap.
d.
Komponen kegrafikan
Lebih lanjut,
komponen kegrafikan buku teks pegangan siswa termasuk pada kategori baik.
Seluruh subkomponen pada komponen kegrafikan buku teks telah memenuhi kriteria
kelayakan dari segi ukuran, desain kulit buku, dan desain isi buku. Ukuran buku
teks pegangan siswa BIWP kelas VII sesuai dengan standar ISO yaitu ukuran B5
(176 mm x 250 mm).
Toleransi
perbedaan ukuran antara 0 s.d. 20 mm. Desain kulit buku dirancang dengan baik,
tipografi yang proporsional, ilustrasi yang menarik dan sesuai dengan isi buku.
Sedangkan, desain isi buku dirancang dengan layout standar yang intens, judul
pada bab/subbab ditulis dengan warna kontras, hirarki penomoran yang konsisten,
dan tipografi isi buku yang proporsional.
Namun, hasil
temuan lain terkait kualitas buku teks pegangan siswa BIWP kelas VII adalah
beberapa komponen/subkomponen isi termasuk kategori cukup/kurang. Hasil temuan
pada komponen isi menunjukkan terdapat beberapa uraian materi pada buku teks
pegangan guru BIWP kelas VII tidak sesuai dengan KI dan KD pada silabus.
Uraian materi
pada buku teks belum menunjukkan kriteria kelengkapan dan kedalamannya. Lingkup
materi untuk semua jenis teks pada silabus mencakup pengenalan struktur teks,
perbedaan teks dengan teks lain dilihat dari struktur isi, perbedaan teks
dilihat dari fitur bahasanya, klasifikasi teks, kelebihan teks dari aspek isi
dan bahasanya, kekurangan teks teks dari aspek isi dan bahasanya, pemahaman
kata, istilah dalam teks, pemahaman isi teks, langkah men-yusun teks, aspek
penelahaan teks, merevisi isi dan bahasa teks, langkah menyusun ringkasan.
Selain aspek
kelengkapan materi, aspek kedalaman materi belum terpenuhi pada buku teks
pegangan siswa BIWP kelas VII. Materi yang diuraiakan pada buku teks hanya
ulasan umum. Uraian teoretis materi sangat terbatas untuk dijadikan sebagai
acuan dalam memahami konsep pada setiap teks. Implikasi kedalaman materi pada
berbagai jenis teks menerapkan konsep kegiatan pembelajaran melalui pembangunan
konteks, pemodelan, latihan/tugas/kegiatan kelompok maupun mandiri.
Komentar
Posting Komentar