ANALISIS IDENTITAS KULTURAL DALAM PUISI LAZUARDI CURUK PUTRI KARYA HERMAN SUPRATIKTO
ANALISIS IDENTITAS KULTURAL DALAM PUISI LAZUARDI CURUK PUTRI
KARYA HERMAN SUPRATIKTO
Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi bahwa karya sastra (puisi) mampu menggambarkan keadaan suatu masyarakat. Puisi lahir dari dinamika kehidupan kultural pengarang dan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis identitas kultural dalam puisi Lazuardi Curuk Putri karya Herman Supratikto. Sumber data berasal dari buku antologi puisi “Kaloka Tanah Pusaka” yang memuat puisi dari 36 penyair asal Purworejo salah satu penyairnya adalah Herman Supratikto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Analisis Isi Kualitatif (Qualitative Content Analysis). Yaitu metode penelitian yang mengkaji dan membahas tentang isi teks dengan cara memberikan interpretasi atas teks yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian. Alasan peneliti memilih metode ini karena metode ini dapat menghindari penafsiran sewenang-wenang atas teks puisi Lazuardi Curuk Putri Karya Herman Supratikto. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa puisi tersebut mengandung unsur identitas kultural di antaranya kidung, lela-lela ledhung, cadas-cadas, mayang, amben.
Kata kunci: Puisi Lazuardi Curuk Putri, Identitas Kultural, Qualitative Content Analysis.Abstrak
tidak memuat sitasi, rumus, tabel dan gambar.
Abstract : The background of this research is that literary
works (poetry) are able to describe the state of a society. Poetry is born from
the dynamics of the author's cultural life and society. The purpose of this
study was to analyze the cultural identity in the poem "Lazuardi Curuk
Putri" by Herman Supratikto. The data source comes from the poetry
anthology book "Kaloka Tanah Pusaka" which contains poems from 36
poets from Purworejo, one of the poets is Herman Supratikto. The method used in
This study uses the Qualitative Content Analysis method, which is a research
method that examines and discusses the content of the text by providing an
interpretation of the text that has been determined according to the research
objectives. The reason the researcher chose this method is because this method
can avoid arbitrary interpretations. authority over the text of the poem
"Lazuardi Curuk Putri" by Herman Supratikto. The results of this
study indicate that the poem contains elements of cultural identity including
kidung, lela-lela ledhung, cadas-cadas,
mayang, amben.
Keywords: Poem Lazuardi Curuk
Putri, Cultural Identity, Qualitative Content Analysis. Abstract does not
contain citations, formulas, tables and figures.
PENDAHULUAN
Sastra adalah sebuah karya seni
berupa hasil cipta, karsa, dan rasa manusia atau bisa di sebut juga sebagai pengarang. Sastra adalah potret hidup
manusia sebab sastra lahir dari pergulatan batin pengarang dan keadaan
disekitarnya, ia lahir sebagai potret keadaan dan dinamika yang terjadi di
sekitar kehidupan manusia termasuk segala aktivitas manusia. Segala yang ada di
sekitar manusia. Salah satu tujuan mempelajari sastra ialah agar kita dapat
merasakan dan memahami karya sastra dalam kehidupan nyata. Melalui karya sastra
seseorang dapat mengekspresikan hasil pemikirannya, imajinasi dan perasaaan
yang di alami oleh penulis. Seperti yang diungkapkan oleh Rusyana dalam
(Ismayani, 2017) bahwa tujuan mempelajari sastra adalah agar kita memperoleh
pengetahuan dan pengalaman sastra.
Sedangkan pengalaman bersastra dapat
di peroleh melalui kegitan berekspresi dan berapresiasi. Menulis ialah salah
satu jenis keterampilan yang membutuhkan proses yang lama untuk mencapai
tingkat keberhasilan yang maksimal. Banyak orang yang sulit menuangkan hasil
pemikirannnya ke dalam bahasa tulis diantaranya karena faktor-faktor tertentu
yaitu kurangnya penguasaan kosakata dalam berbahasa. Menurut Rahmanto dalam
(Sapdiani, Maesaroh, Pirmansyah, & Firmansyah, 2019) pembelajaran puisi
yang memiliki kecocokan untuk memberikan contoh puisi yang sederhana dan bebas
terdapat dalam hasil pemahaman yang berupa pernyataan.
Puisi merupakan sebuah karya sastra
berupa tulisan yang mengedepankan keindahan, dilihat dari irama, bunyi dan
diksinya puisi dapat di kaji dari struktur, unsur-unsurnya, mengingat bahwa
puisi tersusun dari bermacam unsur dan ragam. Selain itu, puisi juga dapat di
kaji dari identitas kulturalnya dan pada pembahasan ini peneliti akan mengupas
lebih mendalam tentang puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman
Supratikto. Menurut
Zyngier (Nurgiyantoro, 2014) Menekankan pentingnya aspek sosiokultur, faktor kultur yang dimiliki oleh
masyarakat untuk memahami sebuah stile karya sastra. Sebuah masyarakat pasti
memiliki sejarah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kultur. Kultur itu
akan berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan salah satunya yaitu cara berbahasa.
Hal itu menegaskan bahwa stile pasti dipengaruhi oleh kultur masyarakat.
Puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman Supratikto menjadi permasalahan yang jadi
perbincangan hangat di kalangan masyarakat, karena mengandung unsur kultural. Namun, anggapan seperti
itu kiranya harus ditelusuri kembali dengan cara menganalisisnya melalui
pendekatan yang relevan sebagai upaya agar mendapati maksud dari puisi
tersebut. permasalahan ini menarik untuk di ungkap agar memahami unsur-unsur
yang menjadi permasalahan dan ramai di perbincangkan. Hasil yang diharapkan
dalam analisis ini yaitu dapat memaknai isi puisi dengan argumen yang di
buktikan berdasarkan data yang tepat dan dapat dinikmati oleh kalangan pelajar
dan kalangan masyarakat lainnya.
Penelitian mengenai identitas
kultural sudah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Beberapa hasil
penelitian yang relevan yaitu: (1) penelitian Nasution, Ikhwanuddin Surbakti,
Asmyta, Muchtar, Muhizar (2014) yang berjudul “Puisi Puisi Liris Karya Tengku
Amir Hamzah Dalam Persepektif Kajian Budaya”. Persamaan penelitian Nasution,
Ikhwanuddin Surbakti, Asmyta, Muchtar, Muhizar (2014) dengan penelitian ini
adalah membahas identitas kultural pada
puisi. Perbedaan penelitian Nasution, Ikhwanuddin Surbakti, Asmyta, Muchtar, Muhizar
(2014) dengan penelitian ini adalah objek material yang digunakan. Penelitian Nasution,
Ikhwanuddin Surbakti, Asmyta, Muchtar, Muhizar (2014) objek kajianya adalah
puisi puisi Liris Karya Tengku Amir Hamzah sedangkan penelitian ini objek materialnya
adalah puisi Lazuardi Curuk Putri karya
Herman Supratikto
Penelitian lain yang relevan dengan
Analisis Identitas Kultural dalam puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman Supratiko
yaitu penelitian Muhammad Rifa’ie (2018). Persamaan penelitian Muhammad Rifa’ie
(2018) dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisis. Perbedaan
penelitian Muhammad Rifa’ie (2018) dengan penelitian ini dalam hal analisisnya.
Penelitian Muhammad Rifa’ie (2018)
menggunakan analisis sosial budaya, sedangkan penelitian ini menggunakan
analisis identitas
kultural.
Penelitian selanjutnya yang relevan
dengan Analisis Identitas Kultural dalam puisi Surat Kabar Serambi Indonesia karya
Fikar W. Eda (2013). Persamaan penelitian Fakhrurrazi (2013) dengan penelitian ini adalah sama-sama
menggunakan objek puisi dalam menganalisis. Perbedaan penelitian Fakhrurrazi (2013)
dengan penelitian ini dalam hal analisisnya. Penelitian Fakhrurrazi (2013)
menggunakan analisis Sosiologi Sastra, sedangkan penelitian ini menggunakan
analisis identitas
kultural.
Penelitian lain yang relevan dengan
Analisis Identitas Kultural dalam puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman Supratiko yaitu penelitian Muhammad Noor Ahsin
(2017). Persamaan penelitian Muhammad Noor Ahsin (2017) dengan
penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif dalam
menganalisis. Perbedaan penelitian Muhammad Noor Ahsin (2017) dengan penelitian
ini dalam hal analisisnya. Penelitian Muhammad Noor Ahsin (2017) menggunakan
analisis struktur dan nilai konservasi, sedangkan penelitian ini menggunakan
analisis identitas
kultural.
METODE
Metode penelitian ialah sebuah cara
ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiono,
2016). Metode merupakan cara yang dipergunakan u peneliti untuk mencapai
tujuan. Hal ini lakukan agar peneliti dapat menghasilkan penelitian yang di
inginkan. Penelitian ini merupakan penelitian deskripstif kualitatif (Qualitative Content
Analysis) merupakan penelitian yang mengkaji dan membahas tentang isi teks
dengan cara memberikan interpretasi atas teks yang telah ditentukan sesuai
dengan tujuan penelitian. Hal tersebut dinilai valid untuk menganalisis puisi ini. Sumber data dalam
penelitian berasal dari antologi puisi “Kaloka Tanah Pusaka” yang diterbitkan tahun 2020. Buku ini
terdapat puisi salah satunya adalah puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman Supratikto yang akan dianalisis.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil penelitian pada puisi yang
dikaji dalam analisis dengan identitas kultural sastra yaitu: puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman
Supratikto.
Hasil penelitian analisis identitas kultural pada puisi Lazuardi
Curuk Putri karya Herman Supratikto menunjukan bahwa puisi tersebut
mengandung berbagai unsur identitas kultural ada lima identitas kultural diantaranya kata kidung terdapat pada bait ke-satu, kata lela-lela ledhung terdapat pada bait ke-satu, kata cadas-cadas terdapat pada bait ke-dua, kata mayang terdapat pada bait ke-dua dan kata amben terdapat pada
bait ke-satu.
Pembahasan
Puisi Lazuardi Curuk Putri karya Herman
Supratikto adalah
sebagai berikut :
Kuingat kelahiranku tahun enam lima
di lembah Curuk Putri berbuih kesturi
tangan dukun bayi yang kasar berkepal
menggebrak amben tua bertikar pandan
menangislah!
Lalu lela-lela ledhung jadi kidung rindu
dalam timang dan buai ibu.
Sigendol
Sigendol
batu curam menonjol
tempat memandang hamparan sutra emas kedamaian
cadas-cadas berjajar menyangga hutan pinus
di sela Gunung Bengkuk dan Bukit Putri
melengkung tangga bidadari
alirkan Sungai Gandasuli yang dingin mewangi
bersama angin menyerbuk ladang kopi.
Semilir angin gunung, riapkan rebung betung
nyiur mayang mekar menghampar
ke pundak petani yang kekar.
Gerimis jadi doa petani
karena esok hari, tanah basah kembali
bersama butiran keringat yang meleleh membasahi
nurani.
Purworejo, Maret 2020
Di bawah ini adalah kajian
mengenai identitas kultural yang terkandung dalam puisi Lazuardi Curuk Putri karya Herman
Supratikto.
Kuingat kelahiranku tahun enam lima
di lembah Curuk Putri berbuih kesturi
tangan dukun bayi yang kasar berkepal
menggebrak amben tua bertikar pandan
menangislah!
Lalu lela-lela ledhung jadi kidung rindu
dalam timang dan buai ibu.
Isi teks pada bait pertama
terdapat kata “Aku” sebagai tokoh dalam teks puisi. Kata “Aku” berpatok pada pengarang
atau penulis di dalam kehidupan nyata. Tokoh “Aku” menyatakan bahwa ia adalah anak
yang pernah dilahirkan dari rahim ibunya di di lembah Curuk Putri.
1. Kidung
Menurut Ricklefs (Nurhata, 2017)
Istilah “Kidung” biasanya di dendangkan untuk meyebut naskah jawa tengahan.
kerajaan majapahit seperti kidung rangga lawe, sunda dan lain-lain. Selain itu terdapat juga
kidung paling terkenal didaerah Jawa, kidung itu adalah Kidung Nabi. Kidung
Nabi diyakini sebagai ciptaan Sunan Kalijaga. Kidung nabi berisi tetang
ketuhanan, kemanusian, dan alam. Selain itu terdapat juga kidung paling
terkenal di kalangan masyarakat Jawa, kidung itu adalah Kidung Nabi. Kidung
Nabi diyakini sebagai ciptaan Sunan Kalijaga. Kidung merupakan bagian seni di
pulau jawa yang memiliki ciri khas tersendiri . Oleh sebab itu, tokoh “Aku” teringat dengan
dimana dia dilahirkan yaitu di di lembah Curuk Putri disaat kidung atau adzan
berkumandang. Hal tersebut
mengandung nilai
kebaikan tentang ketuhanan, dan kemanusiaan. Dan penulis mencoba mengangkat
persoalan identitas kultural ini dalam puisinya yang di maksudkan agar pembaca
dapat berintropeksi diri terhadap makna kebudayaan dan tetap dapat
melestarikannya sebagai wujud kecintaanya terhadap tanah kelahiran.
2.
Lela-lela ledhung
Tembang Tak Lela Lela Ledhung ini merupakan sastra lisan yang
di wariskan secara turun temurun dari orang-orang terdahulu yang menyanyikannya
saat ada seorang anak kecil menangis. Saat anak dinyanyikan lagu tersebut bahwa
tembang Tak Lela-Lela Ledhung ini merupakan tembang pengantar tidur anak yang
di dalamnya terkandung sebuah makna kasih sayang dan harapan dari setiap orang
tua terhadap anaknya kelak nanti. Analisis yang dilakukan berkaitan dengan
tembang ini merupakan analisis yang bersifat literal. Oleh karena itu penulis
merasa perlu untuk mengkaji lebih lanjut tembang ini, akan tetapi dalam
kaitannya dengan konteks budaya atau latar budaya yang lebih dominan melingkupi
tembang tersebut.
3.
Cadas-cadas
Cadas merupakan batuan alam. Menurut proses terjadinya, kada
digolongkan ke dalam batu robohan atau lempung. Yaitu, semacam lapisan yang
terdiri dari bermacam-macam kontak mineral, diantaranya adalah kuarsa, mika
fesper, kapur, dan lempung.
4.
Mayang
Mayang merupakan perahu klasik yang
berfungsi sebagai penangkap ikan dan alat transportasi di pantai utara Jawa.
Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia, menuliskan
bahwa perahu khas Jawa itu mengunakan kerangka badan yang mengikuti dinding
sekat kedap air yang khas Cina. Kapal jenis Mayang tidak muncul dalam relief di
kaki Candi Brobudur melainkan muncul di gambar-gambar Eropa sejak abad ke-18.
5.
Amben
Amben merupakan balai-balai dari bamboo yang digunakan
sebagai tempat tidur atau tempat duduk. Tempat untuk melahirkan tokoh aku pada
saat ibunya melahirkan di Curuk Putri tepat di atas amben tersebut. Nilai
budaya terdapat pada kata amben karena amben digunakan oleh orang-orang dizaman
dahulu namun hingga saat ini masih melekat dikalangan masyarakat.
SIMPULAN
Penelitian
analisis identitas kultural puisi Lazuardi Curuk Putri karya Herman Supratikto
menunjukan bahwa puisi tersebut mengandung unsur identitas kultural diantaranya
kidung, lela-lela ledhung, cadas-cadas, mayang,
amben. Secara keseluruhan puisi ini menekankan akan pentingnya meningkatkan dan
mengangkat kearifan budaya indonesia dan identitas kultural dengan cara
menentukan posisinya dalam keterhubungan antara kebudayaan, keberagamaan,
sejarah peradaban ketuhanan, kemanusiaan dan kebijakan yang sama-sama memiliki
nilai ketuhanan, kebaikan, manfaat, dan juga kepatuhan agar orang-orang tak
mengesampingkan budaya yang harus di lestarikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2013. Pengantar Apresiasi Karya
Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Bamantia, Ibrahim. 2017. Teori Kultual
Studies Kajian Budaya.
https://bramantiaibrahim.blogspot.com/2017/04/teori-cultural-studies-kajian budaya.html?m=1.
Ismayani. 2017. "Kreativitas Palam Pembelajaran
Literasi Teks Sastra". Jurnal RM Sematik 2 (2), hal 67-86.
Kridalaksana, Harimurti, Mongin – Ferdinand De Saussore. 2002. Peletak Dasar
Structural-Liberal. Jakarta: Gemalnsani Press.
Luxemburg, Jan Van dkk. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Gramedia.
Nurgiantoro, Burhan. 2014. Penilaian Pembelajaran
Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE.
Nurhata, N. 2017. Naskah Kidung Nabi: Analisis Tema Dan Fungsi Sosial (the
Manuscript of “Kidung Nabi”: Theme and Social Functions Analysis). Metasastra.
Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rifa’ie, Muhammad. 2018. Identitas Kultural dalam
Puisi Ibu Indonesia Karya Sukmawati Soekarnoputri. Yogyakarta:
https://www.researchgate.net/publication/324220689.
Roland, Barthes. Petualangan Semiologi. 2007. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Rusyana, Yus. 1982.
Metode Pengajaran Sastra.
Bandung: Gunung Larang.
Santoso, Budi. 2006.
"Bahasa dan Identitas Budaya". Jurnal Kajian Kebudayaan, 16(1), 74 - 92.
Sapdiani, Maesaroh, Pirmansyah, Firmansyah. 2019. Pembelajaran Puisi.Yogyakarya: Gema
Media.
Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan Dengan Puisi. Yogyakarta: Gema Media.
Segers, Rien T. 2002. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: Adicita.
Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra( diindonesiakan Rachmat Djoko
Pradopo).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Supratikto, Herman . 2020. Lazuardi Curuk Putri. Purworejo: (Kopisisa) & CV
Nuhantara Production.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusateraan. Terjemaahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Komentar
Posting Komentar