CONTOH MAKALAH ANALISIS KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI “MESTINYA KAU DAN AKU MENGERTI” KARYA MASKUN ARTHA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Puisi merupakan salah satu genre sastra yang makin lama makin berkembang dari waktu ke waktu, baik dari segi bentuk maupun jumlah peminatnya. Sebagai sebuah karya sastra, puisi tentunya memiliki hakikat dan fungsi yang disebut dulce et utile. Dulce artinya menyenangkan, sedangkan utile artinya bermanfaat. Jika menyoroti hakikat dulce, penyair berusaha sebisa mungkin menggunakan berbagai cara untuk membuat puisinya memiliki kesan yang menyenangkan.
Salah satu cara yang digunakan penyair untuk menimbulkan kesan menyenangkan pada puisinya adalah dengan menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi. Ketidaklangsungan ekspresi puisi ini menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 1997: 210) merupakan konvensi tambahan puisi bahwa puisi itu menyatakan pengertian-pengertian atau hal-hal secara tidak langsung, yaitu menyatakan sesuatu hal yang berarti lain.
Tujuan penyair menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah untuk menyembunyikan arti sesungguhnya untuk kemudian menjadi tantangan bagi pembaca. Bagaimana pembaca menginterpretasi dan mengapresiasi puisi yang dibacanya menjadikan puisi itu memiliki fungsi mendidik dan tentunya bisa menjadi sarana hiburan tersendiri. Ketidaklangsungan puisi juga seperti menjadi hal yang wajib ada dalam puisi, karena hampir semua puisi menggunakan ketidaklangsungan ekspresi. Setiap penyair memiliki ciri khas atau gaya sendiri-sendiri dalam menggunakan ketidak angsungan ekspresi. Salah satu penyair yang sering menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah Maskun Artha.
Bertolak dari uraian di atas, maka dalam karya tulis ini penulis berusaha menganalisis dan mengulas ketidaklangsungan ekspresi puisi yang ada puisi karya Maskun Artha yang berjudul Mestinya Kau Dan Aku Mengerti. Alasan penulis memilih puisi karya Maskun Artha sebagai bahan analisis adalah karena puisi dianggap memiliki gaya bahasa dan penyampaian ekspresi yang menarik untuk dikaji.
1.2 Rumusan masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini
antara lain:
1. Bagian puisi mana yang mengandung
ketidaklangsungan ekspresi puisi penggantian arti (displacing) yang ada
dalam puisi “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha.
2. Bagian puisi mana yang mengandung
ketidaklangsungan ekspresi puisi penyimpangan arti (distorting) yang ada
dalam puisi “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha?
3. Bagian puisi mana yang mengandung
ketidaklangsungan ekspresi puisi penciptaan arti (creating of meaning)
yang ada dalam puisi “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha?
1.3 Batasan Masalah
Batasan
masalah dalam suatu kajian atau analisis sangatlah penting dalam
menentukan arah tujuan penulisan. Oleh karena itu penulis membatasi
analisis dengan menggunakan pisau analisis berupa ketidaklangsungan ekspresi
puisi. Puisi yang dianalisis merupakan puisi “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha.
1.4 Tujuan
Berdasarkan pemahaman di atas, maka tujuan yang hendak
dicapai dalam penulisan karya tulis ini antara lain:
1. Memperoleh pengetahuan mengenai pengertian
dan fungsi ketidaklangsungan ekspresi puisi.
2. Memperoleh pengetahuan mengenai cara
menganalisis ketidaklangsungan ekspresi puisi.
3. Dapat menemukan dan menginterpretasi
ketidaklangsungan ekspresi puisi “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha.
4. Dapat menemukan letak estetik ketidaklangsungan ekspresi puisi “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengantar
Landasan teoritik digunakan sebagai landasan kerja konseptual dan
teoritis. Pada bagian ini penulis memaparkan teori-teori ilmiah yang
sudah ada dan relevan dengan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya.
Landasan teori dalam analisis ini membahas mengenai ketidaklangsungan ekspresi
puisi yang meliputi 1)penggantian arti (displacing), 2) penyimpangan
arti (distorsing) dan 3) penciptaan arti (creating of meaning).
Menurut Teeuw (dalam Pradopo, 1995:146) analisis struktural yang
digabungakan dengan analisis semiotik disebut strukturalisme dinamik. Hal
ini untuk mengatasi keterbatasan strukturalisme murni yang perspektif
tinjauannya sinkronis yang tak sepenuhnya dapat menangkap relevansi
eksistensial (rangka sosial-budaya) dan makna historis.
Sastra (puisi) merupakan sistem tanda (semiotik) tingkat kedua yang
merupakan sistem tanda tingkat kedua setelah bahasa. Di dalamnya terdapat
konvensi sastra sendiri yang disebut sebagai konvensi tambahan (tambahan di
luar konvensi bahasa). Salah satu dari konvensi tambahan itu adalah
konvensi bahasa kiasan yang menyatakan pengertian-pengertian dan hal-hal secara
tidak langsung. Konvensi tambahan dalam sastra di antaranya konvensi
bahasa kiasan, persajakan, pembagian bait, persajakan, bahkan juga enjabement (perloncatan
baris) dan tipografi (susunan tulisan).
Ketidaklangsungan pernyataan dalam puisi itu menurut Riffaterre dalam
Pradopo (1995: 210) disebabkan oleh penggantian arti (displacing),
penyimpangan arti (distorsing) dan penciptaan arti (creating of
meaning).
2.2
Penggantian Arti
Penggantian arti merupakan penggunaan kata yang menggantikan arti sebenarnya.
Menurut Riffaterre (dalam Pradopo. 1987: 212) dalam hal ini penggantian arti
menggunakan bahasa kiasan yang berarti tidak menurut arti sesunguhnya.
Bahasa kiasan itu diantaranya menggunakan majas-majas seperti perbandingan, metafora,
personifikasi, sinekdoki dan lain sebagainya.
Contohnya terdapat pada penggalan puisi Chairil Anwar “Sajak Putih” (bait
kedua, baris pertama) yang berbunyi : “Sepi menyanyi, malam dalam mendoa
tiba”. Penggalan ini menggunakan bahasa kiasan atau majas personifikasi
yang mengibaratkan sepi yang sedang bernyanyi. Di sini, sepi menyanyi
bukan diartikan sebagai sepi yang menyanyi, melainkan suasana sepi yang
dirasakan oleh penyair ketika malam dimana saat khusuk berdoa.
2.3
Penyimpangan Arti
Menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 1995: 148) penyimpangan arti terjadi
bila dalam sajak ada ambiguitas, kontradiksi ataupun nonsense.
2.3.1
Ambiguitas
Salah satu sifat karya sastra khususnya puisi adalah polyinterpretable yang
artinya menimbulkan banyak penafsiran atau makna ganda. Contohnya: ingin
kupetik seribu kupu-kupu dari hatimu. Ini dapat diartikan bahwa penyair
(aku) ingin merebut hati si (mu) yang indahnya ibarat kupu-kupu. Dapat juga
diartikan bahwa penyair (aku) ingin merebut hati si (mu) namun terlalu sulit
karena hati si (mu) terlalu liar, berterbangan seperti kupu-kupu yang jumlahnya
seribu.
Ambiguitas biasa digunakan oleh penyair untuk memberikan kebebasan pada pembaca
untuk mengartikan sendiri makna puisinya. Sehingga, setiap kali dibaca
oleh pembaca yang berlainan, maka akan menimbulkan makna-makna baru.
2.3.2
Kontradiksi
Kontradiksi disebut juga sebagai ironi, yaitu cara penyair menyampaikan
maksud secara berlawanan. Contoh: sekilas ia tersenyum menertawai
kemiskinannya. Kata tersenyum dan menertawai di sini sangat berlawanan arti
dengan kata kemiskinan. Kemiskinan biasanya diibaratkan dengan sesuatu yang
menyedihkan atau suram, namun penyair menggambarkannya secara
kontradiktif menggunakan kata tersenyum dan menertawai.
2.3.3
Nonsense
Nonsense adalah bentuk kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai
arti sebab tidak terdapat dalam kosakata, misalnya penggabungan dua kata atau
lebih sehingga menjadi bentuk baru. Contoh: sepisaupi, sepisaupa.
Dapat pula berupa pengulangan suku kata dalam satu kata. Contoh:
terkekeh-kekehkekehkeh.
2.4
Penciptaan
Arti
Penciptaan arti terjadi bila dalam ruang teks diorganisasikan untuk membuat
tanda-tanda yang di kuar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara
linguistik tidak ada artinya, misalnya simitri (keseimbangan), rima, tipografi,
enjabement dan sebagainya. Contoh:
Elang yang
gugur tergeletak
Elang yang
tergugur terebah
Satu harapku
pada anak
Ingatkan
pulang pabila lelah
Dalam bait sajak itu terdapat simitri (keseimbangan) berupa persejajaran
bentuk yang menimbulkan persejajaran arti: bahwa bagaimanapun hebatnya elang,
sekali-kali ia gurur tergeletak dan terebah, begitu pula si anak akan lelah
juga dan ingatlah akan pulang.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1
Metode Kualitatif
Kirk dan Miller dalam Indtayanto (2010) mendefinisikan metode kualitatif
adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental
bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan
dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. Karya
tulis ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan pada
puisi untuk kemudian dianalisis berdasarkan teori ketidaklangsungan ekspresi
puisi.
3.2
Data
Data merupakan informasi atau bahan yang harus dicari dan dikumpulkan untuk
menjawab permasalahan yang akan dikaji dalam suatu penulisan karya ilmiah. Data
dalam karya tulis ini adalah “Mestinya Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha.
3.3
Sumber Data
Sumber data merupakan aspek yang sangat penting karena ketepatan memilih
dan menentukan sumber data akan menentukan validitas data atau informasi yang
disajikan. Ada pun data yang menjadi sumber dalam karya tulis ini dibagi
menjadi dua yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer berasar dari
puisi “Mestinya
Kau Dan Aku Mengerti” karya Maskun Artha. Sedangkan untuk sumber sekunder
berasal dari buku-buku dan artikel-artikel dari internet yang memuat
teori-teori yang relevan dengan pembahasan.
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan
mengumpulkan bahan pustaka, membaca, memilah data, mencatat, mengidentifikasi
dan memantapkan kebenaran data untuk kemudian digunakan sebagai bahan
analisis. Pengumpulan data dilakukan untuk menjaga kealamiahan data yang
diperoleh. Dalam karya tulis ini, pengumpulan data dilakukan dengan teknik
pustaka yaitu dengan mengumpulkan berbagai sumber pustaka seperti puisi “Mestinya Kau Dan Aku
Mengerti” karya Maskun Artha serta pustaka-pustaka penunjang
berupa teori-teori mengenai ketidaklangsungan ekspresi puisi.
3.5
Teknik Analisis
Teknik analisis data adalah proses mengatur urutan data dengan
menggolongkannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Teknik analisis
data yang digunakan dalam karya tulis ini antara lain dengan identifikasi,
interpretasi, analisis dan pemberian kesimpulan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisis
Puisi “Mestinya Kau dan Aku Mengerti” Karya: Maskun Artha
Puisi ini menceritakan bagaimana
para tokoh sejarah berjuang mendirikan Masjid Agung di Purworejo sebagai tempat ibadat untuk kau dan aku
(artinya kita sebagai manusia) untuk senantiasa selalu dekat dan tunduk kepada
Allah. Maskun Artha mengekspresikan jiwanya melalui puisi dengan kata-kata
sederhana yang mengandung ketidaklangsungan ekspresi sebagai pewarna yang
memperindah karyanya.
Ketidaklangsungan ekspresi sudah
dapat dilihat pada baris pertama puisi: Mestinya kau dan aku mengerti.
Kata mestinya mengandung
penggantian harus atau seharusnya. Kata mengerti mengandung
penggantian arti dari paham atau memahami, sedangkan kau dan aku menggantikan
arti dari kamu dan saya. Di sini, digambarkan kamu dan aku seharusnya paham.
Baris kedua: Karena harus
selalu memikirkan dan mematai. Baris ini mengandung penyimpangan arti,
khususnya ambiguitas. Interpretasi pertama adalah si kau dan aku tidak
tahu apa yang akan dipikirkan dan di mata-matai. Sedangkan interpretasi
kedua adalah si aku dan kau tidak tahu harus berbuat apa selain memikirkan dan
mematai.
Baris ketiga: Bahwa sejak tanggal dua puluh tujuh Februari.
Saking banyaknya angka di tanggalan yang ada, penyair menyebutkan tanggal dan
bulan untuk menegaskan berdirinya suatu tempat yang sesungguhnya.
Pada baris keempat: Seribu
delapan ratus tiga puluh satu, tahun Masehi. bisa berarti si penyair melanjutkan dan
mempertegas kembali berdirinya suatu tempat tersebut dengan penambahan tahun.
Penciptaan arti tercipta dari
baris kelima dan keenam: Nama Purworejo sebagai warisan leluhur ini
nampilkan diri/Sebagai kademangan, kepatihan atau distrik diakui resmi.
Rima akhir yang dibentuk menimbulkan kesan paralel yang memberi arti baru bahwa
Nama Purworejo telah diakui secra resmi. Sehingga penyair mengumumkan adanya
warisan leluhur yang sudah diakui secara resmi .
Penciptaan arti juga terdapat
dalam baris ke-7 dan ke-8: Mestinya kau dan aku tahu dan ingat/Ditahun
Masehi, seribu delapn ratus tiga puluh empat. Persejajaran bentuk ini
menimbulkan persejajaran arti: bahwa kau dan aku (kita) sama-sama
semestinya ingat di tahun Masehi seribu delapan ratus tiga puluh empat para
tokoh sejarah telah berjuang membangun kademangan.
Nampaknya bahasa kias selalu
mengiringi isi puisi. Penyair menggunakan istilah seperti pada baris ke-9
sampai ke-15: Bahwa Cokronegoro I di sini mendirikan tempat
ibadat/Bahwa beliau lengkapi masjid itu dengan bedhug unik riwayat/Dari
Pendhowo kayu jati raksasa ditarik dan diangkat/Karena rakyat mentaati wulangan
Wali dalam tradisi dan syari’at/Dalam rangkain kerja itu, aneka macam doa dan
sambat/Dengungan segenap priyayi, pidak pedaran maupun rakyat/Di sela
memerintah, mencari rejeki dan menjalani ibadat. Penyair ingin menlukiskan
betapa hebatnya perjuangan para tokoh sejarah untuk mendirikan sebuah tempat
peribadatan dan rakyat sangat mentaati ajaran para Wali.
Pada baris ke-16 sampai ke-18:
Di masa kau dan aku kini warisan leluhur jadilah Masjid Agung/Dan kayu jati
raksasanya jadilah Bedhug Agung/Dan cukup ramilah massa tertarik dan berkunjung.
Tiga baris ini menggambarkan warisan para leluhur yang telah menjadi masjid Agung disertai dengan Bedhug dan
banyak masa yang tertarik dan juga berkunjung ke sana. Berisi pengulangan kata
jadilah yang menimbulkan penciptaan arti yakni untuk menekankan kembali
perasaan penyair yang sudah dijelaskan seperti apa yang ada di baris tersebut.
Selanjutnya, pada baris ke-19, 20
dan ke-21: Ah, tapi di antar
rombongan wisatawan tour/Banyak yang sering menggeletak tidur/Maka perlu adanya
pengatur, pengarah dan penegur. Kata-kata yang digarisbawahi
mengandung penggantian arti. Wisatawan dapat berarti sebagai pelancong
atau turis yang ,mengunjungi suatu tempat untuk tujuan berlibur. Banyak yang sering menggeletak tidur/Maka
perlu adanya pengatur, pengarah dan penegur. Penggalan baris ini
menceritakan betapa tidak terurus keadaan orang-orang saat berwisata tidur di sembarang di tempat peribadatan,
oleh karena itu diperlukan petugas untuk mengatur, mengarahkan dan menegur para
wisatwan saat berkunjung.
Baris ke-22 sampai ke-24: Wahai
kau dan aku marilah dimanfaatkan warisan tokoh sejarah/Yang mewariskan
peninggalan indah dan penuh berkah/Mengilhami kau dan aku tuk senantiasa dekat
tunduk kepada Allah. Kata-kata yang tersebut mengandung penggantian
arti. Dimanfaatkan dapat berarti digunakan atau berguna. Peninggalan bisa
diartikan warisan. Tunduk mengandung penggantian arti patuh atau taat. Pentyair
pada penggalan baris ini memberi pesan agar kau dan aku (kita) bisa
memanfaatkan warisan para tokoh sejarah dengan senantiasa taat terhadap apapun
yang Allah perintahkan.
BAB V
PENUTUP
4.1
Simpulan
Ketidaklangsungan ekspresi puisi
adalah salah satu cara yang digunakan penyair untuk menimbulkan kesan
menyenangkan pada puisinya. Ketidaklangsungan ini dapat berupa pengantian
arti, penyimpangan arti (ambiguitas, kontradiksi, nonsense) dan penciptaan
arti. Tujuan penyair menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah
untuk menyembunyikan arti sesungguhnya untuk kemudian menjadi tantangan bagi
pembaca.
Setiap penyair memiliki
ciri khas atau gaya sendiri-sendiri dalam menggunakan ketidaklangsungan
ekspresi dalam puisinya. Dalam puisi Mestinya Kau dan Aku
Mengerti karya Maskun Artha, penulis telah menguraikan analisis
ketidaklangsungan ekspresi Di antara ragam jenis ketidaklangsungan ekspresi
puisi, dalam puisi yang dianalisis, penggantian artilah yang paling banyak
muncul jika dibandingkan dengan penyimpangan arti maupun penciptaan arti.
4.2
Saran
Ketidaklangsungan ekspresi memang
seperti menjadi hal yang wajib ada dalam puisi. Hal ini bukan semata-mata
untuk memberikan kesan estetik pada puisi, namun juga mengandung unsur mendidik
pembaca. Namun alangkah baiknya apabila sebagai pembaca, tidak hanya
terus-menerus bentindak sebagai konsumen atau penikmat puisi karya orang
lain. Terlebih dengan seringnya membaca puisi karya-karya penyair seperti Maskun Artha ini, setidaknya
pembaca mendapat pengetahuan lebih dan dimungkinkan mendapat inspirasi untuk
ikut berkarya. Dalam berkarya nantinya, ketidaklangsungan ekspresi puisi
dapat dipakai sebagai sarana menyampaikan maksud di dalam puisi secara halus,
berseni dan mendidik
DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, R.D. 1995. Beberapa Teori Sastra,
Metode Kritik, dan Penerapannya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pradopo, R.D. 1997. Pengkajian
Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.Indrayanto.2010.“PengertianMetodeKualitatif”.(online) http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2027031-pengertian-metode-kualitatif/. Diakses 20 Juni 2021.
Komentar
Posting Komentar