Teori Semiotik menurut Charles Sanders Peirce
Teori Semiotik menurut Charles Sanders Peirce yaitu sebagai berikut:
Menurut
Teori Semiotika Charles Sanders
Peirce, teori semiotika
didasarkan pada logika, karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar,
sedangkan penalaran menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda
memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna
pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Kita mempunyai kemungkinan yang
luas dalam keanekaragaman tanda-tanda, dan di antaranya tanda-tanda linguistik
merupakan kategori yang penting, tetapi bukan satu-satunya kategori. Dengan
mengembangkan semiotika, Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda
pada umumnya. Ia memberi tempat yang penting pada linguistik, namun bukan
satu-satunya.
Hal
yang berlaku bagi tanda pada umumnya berlaku pula bagi tanda linguistik, tapi
tidak sebaliknya. Menurut Peirce tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang
menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda
atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Dengan demikian
sebenarnya Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda. Secara lebih
tegas ia telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dalam
tulisan yang tersebar dalam berbagai teks dan dikumpulkan dua puluh lima tahun
setelah kematiannya dalam Ouvres Completes (karya lengkap).
Teks-teks
tersebut mengandung pengulangan dan pembetulan dan hal ini menjadi tugas
penganut semiotika Peirce untuk menemukan koherensi dan menyaring hal-hal yang
penting. Peirce mengehendaki agar teorinya yang bersifat umum ini dapat
diterapkan pada segala macam tanda, dan untuk mencapai tujuan tersebut, ia
memerlukan konsep-konsep baru. Untuk melengkapi konsep itu ia menciptakan
kata-kata baru yang diciptakannya sendiri yaitu.
a. Bagi
Peirce, tanda “is something which stands to somebody for something in some
respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi, oleh
Peirce disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu
terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant. Atas
dasar hubungan ini, Peirce mengadakan klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan
dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign
adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lemah,
lembut, merdu. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada
pada tanda; misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai
keruh yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai. Legisign adalah norma
yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan
hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.
b. Berdasarkan
objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks), dan symbol
(simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya
bersifat bersamaan bentuk alamiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah hubungan
hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya,
potret dan peta. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah
antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau
tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap
sebagai tanda adanya api. Tanda dapat pula mengacu ke denotatum melalui
konvensi. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut
simbol.Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara
penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbriter atau semena,
hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat.
c. Berdasarkan
interpretant, tanda (sign, representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau
dicisign dan argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan
berdasarkan pilihan. Misalnya, orang yang merah matanya dapat saja menandakan
bahwa orang itu baru menangis, atau menderita penyakit mata, atau mata dimasuki
insekta, atau baru bangun, atau ingin tidur. Dicent sign atau dicisign adalah
tanda sesuai kenyataan. Misalnya, jika pada suatu jalan sering terjadi
kecelakaan, maka di tepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa
di situ sering terjadi kecelakaan. Argument adalah tanda yang langsung memberikan
alasan tentang sesuatu.
Komentar
Posting Komentar