Istilah Pembacaan Kembar (Double Reading).
Dalam pendekatan dekonstruksi, oleh Levy-Strauss, dikenal istilah pembacaan kembar (double reading).
Maksud dan wujud double
reading tersebut yaitu:
a.
Pendekatan dekonstruksi, oleh Levy-Strauss dipandang sebagai
sebuah pembacaan kembar, double reading. Maksudya adalah disatu pihak terdapat adanya makna
(semu, maya, pura-pura) yang ditawarkan, di lain pihak dengan menerapkan prinsip
dekonstruksi dapat dilacak adanya makna kontradiktif, makna ironis. Kesemuanya
itu menunjukkan bahwa setiap teks mengandung suatu aporia-sesuatu yang justru
menumbangkan landasan dan koherensinya sendiri, menggugurkan makna yang pasti
ke dalam ketidakmenentuan. Tiap teks, menurut Derrida, akan mendekonstruksi
dirinya sendiri namun sekaligus juga didekonstruksi dan mendekonstruksi
teks-teks yang lain. dengan demikian, paham dekonstruksi tersebut dapat
dikaitkan dengan (atau: ada kaitannya) dengan paham intertekstualnya. Ada atau
tidaknya kaitan antar teks sebenarnya, pembacalah yang menentukannya. Paham
dekonstruksi oleh karenanya ada kaitannya dengan teori resepsi, khususnya teori
resepsi yang dikembangkan oleh Jausz. Dalam
mendekonstruksi sebuah teks, Jausz mempertimbangkan aspek historisnya, yaitu
yang berupa tanggapan pembaca dari masa ke masa yang sering menunjukkan adanya
perbedaan.
b.
Wujud double
reading pendekatan dekonstruksi
misalnya,
tanggapan orang terhadap Rahwana Putih dan puisi-puisi Chairil Anwar pada masa
awal kemunculannya dahulu terlihat negatif, namun dewasa ini siapakah yang
meragukan karya-karya itu sebagai karya yang berhasil. Pembacaan karya sastra
menurut paham dekonstruksi tidak dimaksudkan untuk menegaskan makna sebagaimana
halnya yang lazim dilakukan, sebab sekali lagi tak ada makna yang dihadirkan
oleh suatu yang sudah menentu melainkan justru untuk menemukan makna
kontradiktifnya, makna ironisnya. Pendekatan dekonstruktif bermaksud untuk
melacak unsur-unsur aporia, yaitu yang berupa makna paradoksal, makna
kontradiktif, makna ironi, dalam karya sastra yang dibaca. Unsur atau
bentuk-bentuk dalam karya sastra itu dicari dan dipahami justru dalam arti
kebalikannya. Unsur-unsur yang ‘tidak penting’ dilacak dan kemudian
‘dipentingkan’, diberi makna, peran, sehingga akan terlihat (atau: menonjol)
perannya dalam karya yang bersangkutan. Misalnhya, seorang tokoh cerita yang
tidak penting berhubung hanya sebagai tokoh periferal, tokoh (kelompok)
pinggiran saja, setelah didekonstruksi ia menjadi tokoh yang penting, yang
memiliki (fungsi dan makna) yang menonjol sehingga tak dapat ditinggalkan
begitu saja dalam memaknai karya itu.
Komentar
Posting Komentar