MATERI PEMEROLEHAN BAHASA

 

PEMEROLEHAN BAHASA

A.     Pengertian Pemerolehan Bahasa

Kata pemerolehan merupakan kata turunan dari kata oleh (KBBI, 1997:702). Pemerolehan berarti proses, perbuatan, dan cara memperoleh. Pemerolehan disebut dalam bahasa Inggris dengan acquisition yang berarti proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara alami terhadap bahasa ibunya (native language). Pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. (Abdul Chair, 2003:167). Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses tertentu yang dilakukan otak manusia dalam memperoleh bahasa yang didapat dari hasil interaksi dari luar lalu kemudian diolah sesuai dengan kemampuan dan pertumbuhan otak manusia.

 

B.     Proses Pemerolehan Bahasa Pertama (B1) Anak

Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (B1) anak terjadi jika anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikataka mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapak satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Menurut Nana Jumhana (2014:112) mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Guru juga memiliki andil dalam mengajarkan bahasa pada anak (Faqihatuddiniyah dan Harun Rasyid 2017). Bahasa memudahkan anak mengekpresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh niali-nilai budaya, moral, agama, dan nila-nilai lain dalam masyarakat. Dalam melangsungkan upaya memperoleh bahasa, anak dibimbing oleh prinsip „jadilah orang lain dengan sedikit perbedaan‟, atau „dapatkan dan perolehlah suatu identitas sosial di dalamnya, dan kembangkan identitas pribadi Anda sendiri‟ (Nana Jumhana, 2014: 112)

 

C.     Teori Pemerolehan Bahasa

Sebelum penulis membahas tentang teori-teori pemerolehan bahasa, ada baiknya dibahas terlebih dahulu tentang psikologi yaitu ilmu yang membahas tentang diri manusia secara umum. Sedangkan psikolinguistik adalah ilmu yang membahas tentang fungsi psikologis bahasa. Jadi terdapat perbedaan dari sisi objek pembahasan dari kedua ilmu tersebut. Sementara itu Effendy (2005:10-12) dalam bukunya Metodologi Pengajaran Bahasa Arab ketika berbicara tentang dasar-dasar teoritis pengajaran bahasa hanya menyebutkan psikologi dan linguistik, sementara itu Effendy tidak membicarakan tentang psikolinguistik sebagai dasar ilmu pemerolehan bahasa.

Untuk lebih jelasnya titik perbedaan antara psikologi dan psikolinguistik, berikut penulis kutip pendapat dari Mamluatul Hasanah (2010:55-56) dalam bukunya Proses Manusia Berbahasa menyatakan:

Pemerolehan bahasa merupakan salah satu bahasan penting yang ada dalam psikolinguistik selain juga psikologi. Ketika membicarakan masalah pemerolehan bahasa agak sulit memang, kalau harus dipilah mana yang menjadi bagian dari psikolinguistik, mana yang menjadi bagian dari psikologi. Kesulitan ini bisa digambarkan ketika misalnya seorang pakar psikologi membahas masalah fungsi psikologis setiap bagian dari manusia, maka dia harus melihat karakteristik dari keadaan yang akan dia deskripsikan fungsi psikologisnya. Dan ketika seorang akan membahas tetang fungsi psikologis bahasa, mau tidak mau harus kembali kepada ilmu bahasa. Meskipun sebenarnya masukan- masukan yang diberikan linguistik belum sepenuhnya bisa menjawab ilmu psikologi. Persoalan ini tidak akan jelas hakekatnya, kecuali kalau hubungan antara bahasa dan fenomena dasar komunikasi manusia terutama yang berkaitan dengan fungsi bahasa sebagai simbol jelas juga hakekatnya. Selain masalah fungsi bahasa hal yang juga menjadi persoalan adalah, apakah tahapan anak memperoleh bahasa menjadi wilayah kajian psikologi ataukah ilmu bahasa? Bagaimanapun, perkembangan bahasa anak termasuk dalam wilayah psikologi perkembangan. Akan tetapi yang bisa menjawab secara detail proses-proses pemerolehannya, baik semantik sintaksis ataupun fonologinya adalah ilmu bahasa.

Dari pendapat Mamluatul Hasanah di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga cabang ilmu yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda terkait masalah manusia, yaitu psikologi, linguistik, dan psikolinguistik. Psikologi adalah ilmu yang membahas tentang fungsi psikologis dalam diri manusia. Sedangkan linguistik merupakan ilmu yang membahas tentang proses pemerolehan bahasa. Sementara psikolinguistik adalah ilmu yang membahas tentang yang menjadi potensi atau fitrah pemerolehan bahasa bagi manusia. Berikut penulis uraikan teori-teori pemerolehan bahasa bagi manusia.

1.      Teori Behavioristik

Salah satu upaya yang paling masyhur untuk membangun model behavioristik atas perilaku linguistik tertuang dalam karya klasik B. F. Skinner, Verbal Behavior (1957). Behaviorisme adalah aliran psikologi yang mempelajari tingkah laku yang nyata yang dapat diukur secara obyektif. Dan bahasa dalam konsep behavioristik adalah perilaku verbal. Teori ini mendeskripsikan dan menjelaskan perilaku bahasa dengan bantuan model S-R (Stimulus-Respon). Pada teori ini ada hubungan antara situasi stimulus (S) dari luar atau dalam organismenya dan suatu reaksi (R) dari organisme tersebut. Jadi perilaku bahasa yang efektif sebagai wujud tanggapan yang tepat terhadap stimulus. Jika respons tertentu dirangsang berulang-ulang, ia lantas menjadi kebiasaan, atau terkondisikan.

Karena teori behavioristik itu harus menjelaskan kelakukan belajar semua makhluk hidup, maka tidak ada tempat untuk pengertian mentalistik, seperti kesadaran, rencana, maksud, dan konsep. Analisis kelakuan behavioristik didasarkan atas aksioma: 1) semua perilaku merupakan akibat rangsangan faktor-faktor lingkungan, 2) perilaku dapat diubah sesuai dengan perkembangan lingkungan. Pada tahun 1968, Skinner mengatakan bahwa berbahasa haruslah ditanggapi sebagai satu respon operan berkondisi terhadap stimulus tersembunyi baik yang internal atau eksternal. (Mamluatul Hasanah: 68) Kondisi operan atau operant conditioning adalah pengkondisian untuk membuat organisme manusia memberi tanggapan, atau operant (berupa kalimat atau ujaran), secara spontan; operant itu dipertahankan (atau dilatih) dengan perangsang tertentu (misalnya, respons positif dari orang lain, baik verbal maupun nonverbal).

Sebagai penjelasan lebih lanjut dari teori ini bisa digambarkan tentang bagaimana seorang bayi mulai berbahasa. Pada tahapan ketika anak memperoleh sistem bunyi bahasa ibunya, semula dia mengucapkan sistem bunyi yang ada di semua bahasa yang ada di dunia ini. Akan tetapi karena lingkungan telah memberikan contoh terus-menerus terhadap sistem bunyi yang ada pada bahasa ibunya, dan dimotivasi terus untuk menirukan sistem bahasa ibunya, maka yang akhirnya dikuasai adalah sistem bahasa ibunya. (Mamluatul Hasanah: 68- 69)

2.      Teori Nativis

Istilah nativis diambil dari pernyataan dasar mereka bahwa pemerolehan bahasa sudah ditentukan dari sananya, bahwa kita lahir dengan kapasitas genetik yang mempengaruhi kemampuan kita memahami bahasa di sekitar kita, yang hasilnya adalah sebuah konstruksi sistem bahasa yang tertanam dalam diri kita.

Chomsky (1965) mengemukakan adanya ciri-ciri bawaan bahasa untuk menjelaskan pemerolehan bahasa asli pada anak-anak dalam tempo begitu singkat sekalipun ada sifat amat abstrak dalam kaidah-kaidah bahasa tersebut. Sebenarnya setiap manusia memiliki kemampuan belajar bahasa yang dibawa sejak lahir yang disebut dengan jihaz iktisab al-lugah atau Language Acquistion Device (LAD). Menurut Chomsky, proses belajar bahasa adalah proses pembentukan kaidah (rule formation process), bukan proses pembentukan kebiasaan (habit formation process). Ia berpendapat bahwa manusia memiliki apa yang disebut innate capacity”, suatu kemampuan pada dirinya untuk memahami dan menciptakan ungkapan-ungkapan baru. (Mujandto Sumadi: 1996, 19) inilah kritik Chomsky terhadap teori psikologi behavior yaitu untuk landasan pembelajaran bahasa karena kemampuan bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor dari luar (eksternal), melainkan juga faktor dari dalam (internal).

McNeill dalam Douglas Brown (2008:31) memaparkan LAD meliputi empat perlengkapan linguistik bawaan: 1) kemampuan membedakan bunyi wicara dari bunyi-bunyi lain di lingkungan sekitar. 2) kemampuan menata data linguistik ke dalam berbagai kelas yang bisa disempurnakan kemudian. 3) pengetahuan bahwa hanya jenis sistem linguistik tertentu yang mungkin sedangkan yang lainnya tidak. 4) kemampuan untuk terus mengevaluasi sistem linguistik yang berkembang untuk membangun kemungkinan sistem paling sederhana berdasarkan masukan linguistik yang tersedia. McNeill dan para peneliti lain dalam tradisi Chomskyan secara meyakinkan berpendapat mengenai sasaran LAD, yang sangat bertolak belakang dengan teori stimulus-respons (S-R) aliran behavioristik yang begitu terbatas dalam menjelaskan kreativitas yang terdapat dalam bahasa anak-anak. (Douglas Brown (2008:31). Nana Jumhana (2014:115) menjelaskan bahwa LAD merupakan piranti pemerolehan bahasa. Titik tolaknya adalah perbedaan antara struktur lahir dan struktur batin pada kalimat.

Dengan bantuan LAD, seorang anak dapat menemukan struktur batin kalimat-kalimat yang dijumpainya dan kemudian ia dapat membentuk kalimat yang sebelumnya belum pernah dijumpainya. Gramatika yang dibentuk dengan bantuan LAD itu mengandung sifat-sifat khas suatu bahasa tertentu, tetapi di atas itu juga mengandung sifat- sifat universal.

 

3.      Teori Fungsional

Dalam catatan Douglas Brown (2008:35) terdapat pergeseran dalam pola- pola penelitian tentang bahasa. Pergeseran ini tidak jauh dari matarantai generatif/kognitif menuju esensi bahasa. Dua penekanan muncul: 1) para peneliti mulai melihat bahwa bahasa hanyalah salah satu manifestasi kemampuan kognitif dan afektif manusia dalam kaitannya dengan dunia, orang lain, dan dengan diri sendiri. 2) lebih jauh, kaidah- kaidah generatif yang ditawarkan oleh kaum nativis adalah abstrak, formal, eksplisit, dan logis, tetapi mereka hanya bersentuhan dengan bantuk-bentuk bahasa dan tidak dengan makna, sesuatu yang terletak pada tataran fungsional yang lebi mendalam yang terbangun dari interaksi sosial. Contoh bentuk–bentuk bahasa adalah morfem kata, kalimat, dan kaidah yang mengatur semua itu. Fungsi adalah tujuan interaktif dan bermakna di dalam suatu konteks sosial (pragmatis) yang penuh dengan bentuk-bentuk.

Gleitman dan Wanner (1982) mengatakan dalam tinjauannya atas kemajuan terbaru penelitian bahasa anak- anak, “cara anak-anak belajar bahasa dilengkapi dengan kemampuan interpretatif     konseptual       untuk mengkategorikan dunia. Para pembelajar digiring untuk memetakan tiap-tiap ide semantik atas unit linguistik kata”. Dari pendapat Gleitman dan Wanner di atas dapat dikatakan bahwa belajar bahasa tergantung dengan perkembangan kognitif dan kompleksitas bahasa yang dipelajari. Hal ini juga dikatakan Slobin (dalam Douglas Brown: 2008, 37) bahwa dalam semua bahasa, pembelajaran semantik bergantung kepada perkembangan kognitif dan rangkaian perkembangan lebih ditentukan oleh kompleksitas semantik ketimbang kompleksitas struktural. Maknanya, ketika anak memperoleh bahasa dari luar, ia akan memproses bahasa tersebut dengan memahami makna yang sesuai dengan kontek munculnya bahasa tersebut sesuai dengan kemampuan kognitifnya tanpa mengindahkan struktur yang ada. Dapat dijelaskan bahwa bahwa input bahasa masuk kepada diri manusia untuk diproses dan diberikan pemaknaan tanpa mengindahkan struktur. Lalu kemudian, hasil pemaknaan itu dikeluarkan dengan bahasa sendiri.

 

D.     SIMPULAN

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan, yaitu:

Pemerolehan bahasa merupakan proses tertentu yang dilakukan otak manusia dalam memperoleh bahasa yang didapat dari hasil interaksi dari luar lalu kemudian diolah sesuai dengan kemampuan dan pertumbuhan otak manusia.

Bagi teori behavioristik, stimulus atau rangsangan merupakan faktor penentu bagi munculnya respon untuk dapat memperoleh bahasa. Jika stimulus dilakukan terus-menerus dan bentuk positif, maka respon akan mengikutinya dan menirukannya. Artinya dalam berbahasa, menurut teori behavior ini bahwa manusia dapat berbahasa karena adanya stimulus dari luar.

Sementara itu, teori nativis bertolak belakang dari teori behavior yang mengatakan bahwa manusia memiliki LAD untuk memperoleh bahasa tanpa bergantung pada stimulus. Maknanya bahwa dalam diri manusia sudah ada potensi yang dapat mengolah dan memproduksi bahasa baru.

Teori ketiga adalah teori fungsional. Dapat dikatakan bahwa teori ini merupakan lanjutan dari nativis. Di mana perbedaannya adalah bahwa bahasa yang diperoleh dari luar akan diproses dengan memberikan pemaknaan tanpa terikat dengan struktur yang sudah ada.

Komentar