Naskah Drama Untuk Performance

Drama menjadi salah satu pertujukan yang digemari banyak orang. Drama biasanya disajian di televisi yang disebut sinetron yang sering emak-emak suka dan terkadang berebut remot dengan emak. Di sekolah pun dalam pembelajaran bahasa Indonesia kita tidak terlepas dari tugas membuat drama. Lalu bagaimana cara kita membuat drama yang bagus. Pastinya dengan teks atau naskah drama sebelum pratek ke dramanya. Jadi, simaklah contoh naskah drama berikut ini yang diperankan olehh 12 tokoh. 

JODOH SEHIDUP SEMATI
Tokoh :
Bapak 6. Mas Ganang 11. Ibu Biyem
Ibu Lastri 7. Diana 12. Siska
Anak pertama : Siti 8. Ibu Wanti
Anak Kedua : Sekar 9. Ibu Dewi
Anak Ketiga : Sari 10. Pak Damar

Babak 1 
Adegan 1
Adzan maghrib telah berkumandang mengiringi langkah Siti masuk ke rumahnya, sebelum masuk ke rumah Siti yang baru saja pulang bekerja memarkirkan sepeda tuanya itu di samping sepeda Bapak, lalu melepas sepatunya dan diletakan di rak sepatu kecil yang dibuatkan Bapak.
Siti : “Assalamu’alaikum........”(sambil membuka pintu)
Ibu Lastri : “Wa’alaikumsalam nduk....” (Suara dari ruang dapur)
Siti : “Bapak sedang sholat magrib ya, Bu?” (Menghampiri Ibunya dan berjabat  tangan)  
Ibu Lastri : “Iya, cepat sana kamu mandi lalu menyusul ikut berjamaah dengan Bapak dan Sari.”
Siti : “Tidak lah, Bu. Saya sholat sendiri saja.”
Sekar : “Sudah pulang to mbakku?” (berjabat tangan dengan Siti)
Siti : “Ya sudah lah. Kamu pikir aku kih sopo kalau bukan mbakmu?”
Sekar : “Ya, tak pikir ada tetangga bertamu maghrib-magrib kan ganggu mbak”
Ibu Lastri : “Sudah-sudah, Siti Sekar sana sholat maghrib, sampai habis nanti waktunya, Ibu lagi ndak sholat, jadi kalian yang seharusnya sholat bareng Bapak biar pahalanya lebih banyak daripada sholat sendiri-sendiri.”
Siti : “Hmmm... kebiasaan Ibu malah ceramah.” (beranjak pergi meninggalkan dapur bersama Sekar yang mengikutinya)
Ibu Lastri : “Anak jaman sekarang susah kalau dibilangin” (menggeleng-gelengkan kepala)

Adegan 2
Setelah semuanya selesai melaksanakan sholat maghrib, Bapak, Ibu Lastri, Siti, Sekar dan Sari pun bersama-sama makan malam di ruang tengah tempat berkumpul untuk sekedar menonton tv maupun digunakan untuk makan bersama. Namun, pada malam ini berbeda dengan malam-malam biasanya, Bapak yang biasa makan dengan lahap sekarang seperti tidak nafsu makan karena memikirkan sesuatu.
Ibu Lastri : “Bapak sehat, Pak, seperti lemes gitu?” (memperhatikan raut muka Bapak)
Sari : “Mungkin Bapak tidak suka sama lauknya, atau nasinya terlalu keras, atau karena tidak ada ayam goreng, Pak.” (mencoba menghibur ayah)
Siti : “Huss.... adek, bicara yang sopan sama Bapak.”
Sari : “Abisnya Bapak diam muluk sih.”
Bapak : “Bapak sehat-sehat aja kok. Tapi Bapak ingin bicara kepada kalian putri-putri Bapak, kalian dengarkan baik-baik ya. Bapak ini sudah tua, Siti sudah bekerja bisa menghasilkan uang sendiri, Sekar juga sudah lulus kuliah, sedangkan Sari fokus dulu dengan SMP nya.” (sambil memainkan sendok yang sedang dipegangya.)
Sekar : “Lalu apa yang Bapak inginkan?”
Bapak : “Bapak ingin kalian ada yang menikah, dan jika kalian menikah , menihkalah secara berurutan, jangan ada yang mendahuli karena kalian itu saudara perempuan. Pilihlah laki-laki yang satu agam dengan kita, bertanggung jawab dan mau bekerja keras untuk menggantikan Bapak dikehidupan kalian nanti, kalau Ibu apakah setuju dengan keinginan Bapak ini?”
Ibu Lastri : “Iya, Pak. Ibu tentu setuju dengan apa yang Bapak katakan, tapi juga harus yang berpunya, jelas bibit, bebet, bobotnya.”
Siti : Maafkan Siti, Pak, Bu.Tapi Siti belum ada calon yang sesuai dengan pilihan Siti. Apa mungkin tidak usah urut saja, Biarkan Sekar yang menikah terlebih dahulu jika Sekar memang sudah ada calon. (tawar Siti kepada Ayah Ibunya)
Bapak : “Tidak bisa begitu Nduk, kalian harus menikah secara urut dari kamu yang akan pertama, kemudian baru bisa adik-adikmu”.
Sari : “Bu, sari masuk ke kamar dulu ya, habis makan ngantuk.” (Bisik sari kepada Ibunya)
Ibu Lastri : “Jangan langsung tidur, nunggu nasinya turun dulu yaa nduk.”
Sari : “Siap, Bu.”
Sedangkan Bapak, Ibu Lastri, Siti, dan Sekar masih melanjutkan perbincangannya.
Sekar : Kenapa, meski begitu? (raut muka penasaran dan sedikit kesal)
Bapak : “Karena kita ini orang Jawa, harus menghormati orang yang lebih tua. Seperti hal nya dengan acara pernikahan tidak boleh untuk melangkahi kakaknya. Ini sudah menjadi kepercayaan dan adat yang harus kita ketahui dan laksanakan.” (tegas ayah)
Siti : “Bagaimana mungkin itu bisa terjadi,Pak? Bukankah itu akan menyiksa sang adik jika ia yang justru sudah siap untuk menikah?”
Bapak : “Bapak yang menjadi kepala keluarga, apapun keputusan yang sudah Bapak buat kalian seharusnya nurut saja tidah usah banyak pertanyaan!”
Siti : “Kami hanya ingin tahu, Pak. Tidak maksud untuk menentang Bapak.”
Ibu Lastri : “Kok malah jadi saling emosi gini, beresi meja makananya dan Bapak istirahat saja, toh mungkin Bapak juga kecapean.” (mencoba menenangkan suasana)
Sekar dan Siti kemudian memberesi bekas makan malam tadi, sedangkan Bapak dan Ibu lastri beranjak meninggalkan mereka berdua.

Adegan  3
Waktu menunjukan pukul 21.30 WIB, Sekar yang berada di kamarnya tidak bisa tidur hanya memikirkan apa yang diucapkan oleh ayahnya bahwa menikah harus secara berurutan. Mengapa harus demikian, ini tidak adil buatnya. Karena hal tersebut Sekar lantas berniat menemui Siti kakaknya menuju kamar yang tepat disampingnya.
Sekar : “Mbak.... Mbak....., Apa mbak Siti sudah tidur ya?” (sambil mengetok pintu kamar)
Siti : “Belum, Dek. Masuk saja pintunya tidak Mbak kunci.”
Sekar : “Bapak kok tega bener ya Mbak?”
Siti : “Maksudnya gimana? Ada apa? Mbak belum paham maksud tujuanmu.”
Sekar : “Itu loh Mbak yang tadi Bapak katakan, menikah harus sesuai urutan untuk saling menghormati. Lebih-lebih Bapak mengaitkan dengan adat orang Jawa. Huhhh.... kalau aku yang mau menikah duluan gimana, Mbak? Mbak tidak apa-apa kan?”
Siti : (Terdiam sesaat, dan menatap wajah adiknya itu seraya heran) “Jadi itu yang kamu ingin tanyakan malam-malam ke kamar Mbak.”
Sekar : “Emmm... Iya, Mbak.”
Siti : “Mbak sangat tidak masalah jika kamu ingin menikah terlebih dulu, Mbak juga belum menemukan calonnya. Kamu ingin menikah memangnya kamu sudah memiliki orang yang benar-benar kamu cintai, apa sudah sesuai dengan yang diharapkan Bapak dan Ibu. Jika belum, bisa-bisa kamu tidak direstui bukan semata kamu melangkahi Mbak, tapi takutnya tidak bisa menggantikan sosok Bapak seperti yang Bapak katakan.”
Sekar : “Aku telah mencintai Mas Ganang sejak kami duduk di bangku SMA. Mas Ganang juga menjanjikan untuk menikah setelah aku lulus kuliah. Aku mohon Mbak bantu aku untuk mewujudkan cinta ini kejenjang pernikahan.” (Matanya berkaca-kaca hampir menetes, namun tertahan)
Siti : “Mbak hanya bisa merestui kamu, dan mendoakan kamu, Dek. Sepenuhnya ada ditangan orang tua. Jika serius Mas Ganang mencintaimu suruhlah menemui Bapak, dan Ibu atau seenggaknya main ke rumah biar keluarga mengenalnya lebih dekat.”
Sekar : “Dia akan datang, besok karena hari libur. Niatnya mau ngajak jalan. Mbak benerankan tidak apa-apa jika aku yang ingin menikah dulu?”
Siti : “Bagus deh kalau begitu, Mbak bahagia jika kamu bahagia, Dik.” (saling tersenyum dan Siti memeluk Sekar.)
Sekar : “Terima kasih, ya Mbak. Aku kembali ke kamar dulu.” (beranjak pergi meninggalkan kamar Siti)
Siti : “Mimpiin Mas Ganang tuh,” (Ledek Siti)

Babak 2
Adegan 1
Suara kokok ayam membangunkan setiap insan, yang menandakan hari telah berganti. Dan hari itu adalah hari minggu, Mas Ganang laki-laki yang janji akan menikahinya datang menemui Sekar, namun apa yang terjadi? Terdapat perselisihan antara Mas Ganang dan Orang tua Sekar. Sekitar pukul 09.00 WIB Ibu Lastri sedang menyapu teras rumahnya, dan tibalah Mas Ganang di rumah Sekar tersebut.
Mas Ganang : “Assalamu’alaikum” (suara salamnya mengejutkan Ibu Lastri)
Ibu Lastri : “Wa’alaikumsalam, maaf cari siapa, Nak?” 
Mas Ganang : “Perkenalkan Bu, saya Ganang temannya Sekar.” (berjabat tangan dengan Ibu)
Ibu Lastri : “Temannya Sekar, kok Ibu jarang liat, ya.”
Mas Gang : “Kami dulu satu SMA, Bu. Tapi memang jarang kelihatan karena saya tidak melanjutkan kuliah seperti Sekar, setelah tamat SMA saya bekerja karena orang tua saya tidak mampu meguliahkan saya.”
Ibu Lastri : “Oh, begitu memangnya kamu bekerja dimana? “Dan menduduki sebagai apa?” (menatapnya penasaran)
Sekar : (tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan) “Eh Mas Ganang sudah sampai, kok tidak disuruh masuk dulu,Bu? Mari Mas masuk dulu.”
Mas Ganang : “Tidak usah kar, di sini saja.”
Sekar : “Okee, aku juga sudah siap.” (menatap ke arah Mas Ganang)
“Bu, Sekar pamit mau jalan-jalan dulu sama Mas Ganang.” (menatap ke arah Ibu)
Mas Ganang : “Izin main sama Sekar ya,Bu.” (berjabat tangan dengan Ibu)
Ibu Lastri : “Hati-hati di jalan, pulang jangan malam-malam lo. Nanti jadi bahan gunjingan tetangga.”
Sekar : “Siap, Ibu negara” (Seka tersenyum bahagia)

Adegan 2
Di sepanjang perjalanan dengan motor vespanya yang melaju pelan, Sekar bertanya-tanya sebenarnya ia akan dibawa main kemana oleh Mas Ganang setelah sekian lama tidak ia jumpai.  Hari itu menjadi hari yang sangat bahagia bagi Sekar, meskipun perkataan ayahnya terus menggema di telinga Sekar, “pernikahan yang seharusnya dilakukan secara berurutan tidak boleh melangkahi kakakya.” Namun, tidak menjadi masalah baginya saat lelaki yang ia cintainya sedang berada disampingnya.
Sekar : “Mas, ini kita mau kemana si?”
Mas Ganang : “Lihat saja nanti.”
Sekar : “Iya, tapi kemana?”
Mas Ganang : “20 menit lagi sampai, sabar ya.”
Sekar : “Bukankah ini menuju jalan rumah Mas Ganang?”
Mas Ganang : “Iya, Mas akan perkenalkan kamu dengan Ibu, Ma.”
Sekar : “Kan sudah kenal, Mas.”
Mas Ganang : “Itu dulu Sekar yang masih anak SMA, lain dengan sekarang kan sudah menjelma meenjadi bidadari.” (ledek Mas Ganang)
Sekar : “Hihhh, Apa sih Mas.” (Sekar malu)
Merekapun akhirnya sampai di rumah Mas Ganang

Adegan 3 
Mas Ganang memarkirkan motornya di halaman rumah, melepaskan helm yang dipakai oleh Sekar. Kemudian menggandeng Sekar menuju pintu masuk rumah. Mas Ganang akan memperkenalkan Sekar kepada Ibunya. Hatinya Sekar dag dig dug karena akan bertemu dengan Ibunya Mas Ganang setelah sekian lama tidak bertemu. Ia berharap dan berdoa dalam hati semoga ia tidak melakukan kesalahan di depan Ibunya Mas Ganang.
Mas Ganang : “Assalamualaikum, Ibu. 
Ibu Wanti : “Ko kedengeran seperti Ganang..., waalaikumsalam”(Ibu Mas Ganang beranjak dari kursinya dan membukakan pintu)
Sekar : “Assalamualaikum Ibu” (ucap salam Sekar sabil mencium tangan Ibu Mas Ganang)
Ibu Wanti : ”Walaikumsalam, wah siapa ini cantik sekali?” (Ibu Mas Ganang masih belum mengenali Sekar)
Sekar : “Saya temennya Mas Ganang waktu SMA dulu Bu” (jawab sekar belum menyebutkan namanya kepada Ibu Wanti)
Ibu Wanti : “Mari masuk mari sini Cah Ayu, di ajak masuk temennya toh Ganang” (ajak Ibu Wanti sambil meledeki anaknya sampai tersipu malu). Mereka bertiga pun duduk di ruang tamu sambil bercengkerama
Ibu Wanti : “Jadi cah ayu ini siapa namanya ko ga di kenalin ke Ibu toh Ganang?”
Mas Ganang : “Ini temen Ganang waktu SMA dulu lho Bu”.
Sekar : “Nama saya Sekar Bu”.
Mas Ganang : “Ibu pasti lupa Sekar karena sekarang Sekar tambah cantik menjelma seperti bidadari iya kan bu? “ (Tanya Ganang sembari menggoda Sekar) 
Ibu Wanti : “Owalah Sekar yang dulu pernah ke sini, beda banget pantesan ibu pangling cah ayu, bener kata Ganang ayu seperti bidadari”.
Sekar : (Sekar tersipu malu) “Ibu bagaimana kabarnya?
Ibu Wanti : “Alhamdulilah Ibu baik, sehat juga cah ayu. Sekarang kesibukannya
apa Sekar?”
Sekar : “Sekar sekarang masih kuliah Bu, sebentar lagi lulus doakan ya bu agar dilancarkan kuliah Sekar.”
Ibu Wanti : “Pasti cah ayu, Ibu doakan semoga kuliahnya lancar”.
Setelah lama bercengkerama Sekar pamit pulang dan diantar oleh Mas Ganang 
Malam harinya setelah kedatangan Sekar ke rumah, tanpa basa basi Mas Ganang langsung menanyakan tetang rencana melamar Sekar pada Ibunya.
Mas Ganang : “Jadi tadi itu adalah wanita pilihan Ganang bu, Ganang berniat ingin melamarnya Bu. Apakah ibu setuju?” 
Ibu Wanti : “Wah ibu ya setuju-setuju aja, malah ibu senang anak ibu akhirnya memperkenalkan wanita baik dan ayu seperti Sekar, disegerakan saja Ganang.”
Mas Ganang : “Baik Bu, Minggu depan adalah hari yang baik, rencana Ganang di hari itu Ganang akan melamar Sekar”.
Ibu Wanti : “Baguslah kalau begitu, ibu sepakat denganmu.”

Adegan 4
Hari ini adalah hari baik dimana Mas Ganang dan Ibu akan ke rumah Sekar untuk melamar. Mas Ganang telah mempersiapkan semuanya untuk di bawa ke rumah Sekar. Rasanya dag dig dug ia terus saja berdoa agar segalanya lancar dan lamarannya diterima baik oleh keluarga Sekar. Setelah semunya di rasa cukup, Mas Ganang pun berangakat menuju rumah Sekar.
Ibu Wanti : “Ayo nak kita berangkat ke rumah Sekar sudah siap toh semuanya”.
Mas Ganang : “Sudah, Bu ayo”.
Merekapun akhirnya sampai di rumahnya Sekar. Sekar sebelumnya sudah memberi tahu pada Ibu dan Bapaknya serta Kakak dan Adiknya bahwa Mas Ganang dan Ibunya akan datang ke rumah. Kedatangan Mas Ganang dan Ibunya disambut baik oleh keluarga Sekar. Sampai pada akhirnya mereka mulai membicarakan hal serius tentang lamaran keduanya.
Mas Ganang : “Jadi, saya berencana untuk melamar Sekar, apakah bapak dan Ibu menerima lamaran dari saya?”
Bapak : “Sekar apakah ini laki-laki yang menjadi pilihanmu?”
Sekar : “Iya Pak, Sekar telah memilih Mas Ganang kami sudah dekat sejak masa SMA Pak.” (Jelas Sekar Pada Bapaknya)
Ibu Lastri : “Memangnya pekerjaan nak Ganang apa ya? (tanya Ibu Sekar mengintrogasi) 
Mas Ganang : “Saya bekerja sebagai kuli bangunan Bu.”
Bu Lastri : “Kuli bangunan, memangnya dapat mencukupi kebutuhan anak saya nantinya, karena hidup itu bukan Cuma makan cinta lho nak Ganang”.  
Mas Ganang : “Insya Allah saya pasti akan bertanggung jawab untuk menafkahi Sekar semampu saya nantinya”.
Ibu Wanti : “Iya Bu, anak saya adalah anak yang bertanggung jawab saya kenal betul dengan anak saya. Semenjak Bapaknya meninggal Ganang lah yang menggantikan sosok Bapak dan bertanggung jawab atas semua kebutuhan saya”. (Ibu Mas Ganang membela anaknya dan meyakinkan orang tua Sekar)
Bapak : “Mohon maaf Bu, masalahnya bukan hanya tentang itu karena Sekar memiliki kakak yang belum menikah, jadi Sekar tidak bisa melangkahi kakaknya. Harus berurutan jika akan menikah mulai dari anak yang lebih tua dahulu”.
Sekar : “Sekar sudah membicarakan itu dengan Mbak Siti, dan itu bukan masalah. Mbak Siti juga tidak apa-apa katanya kalau Sekar harus menikah terlebih dahulu, iya kan Mbak?”
Siti : “Iya Pak, Bu siti tidak masalah kalau Sekar menikah duluan malah Siti ikut senang kok”. 
Bapak : “Tidak bisa begitu nduk, semua ada aturannya dan kalian harus nurut sama Bapak. Mohon maaf sekali lamaran Nak Ganang kami tolak  sekali lagi mohon maaf ya nak Ganang dan Ibu Wanti”. (ucap Bapak tegas menolak lamaran Mas Ganang) 
Raut wajah Sekar berubah penuh kesedihan, begitupun dengan Mas Ganang dan Bu Wanti. Mas Ganang berusaha menerima dengan lapang dada. Mereka pun pamit untuk pulang.
Mas Ganang : “Ndak papa Pak, mungkin suatu saat nanti Bapak dan Ibu berubah pikiran. Ya sudah kalau begitu Saya dan Ibu pamit pulang.
Ibu Wanti : “ Mari Pak, Bu.” (sambil tersenyum ramah)
Mas Ganang : “ Assalamualaikuam.”
Keluarga Sekar : “Waalikumsalam.”
Bayangan Mas Ganang dan Ibu Wanti berangsur mulai menghilang dari rumah Sekar.

Babak 3
Adegan 1 
Rumor lamaran Mas Ganang yang di tolak oleh kedua orang tuanya Sekar sampai ke telingan para tetangga. Mereka pun membicarakan tentang Sekar dan keluarganya yang menolak lamaran karena bibit bobot dan bebetnya kurang, serta aturan bapaknya yang harus menikah secara berurutan. Saat penjual sayur lewat ibu-ibu langsung menyerbu gerobak sayur pak Damar.
Pak Damar : “Yur... sayur... sayur... (suara Pak Damar menjajakan dagangannya)
Bu Dewi : “Beli sayur Pak berhenti. (Suara Bu Dewi dan kemudian disusul oleh Bu Biyem dan Siska)
Sambil memilih sayuran Bu Biyem mulai menggibah.
Bu Biyem : “Eh eh tau ga si gosip tentang Sekar yang katanya menolak lamaran itu tuh”. 
Bu Dewi : “Mbok yang bener to Bu gimana toh ceritanya (Bu dewi mulai penasaran)
Siska : “Itu emang bener Bu, Siska juga denger katanya emang ditolak”.
Bu Biyem : “Usut punya usut si katanya karena calonnya Sekar itu miskin kerjanya serabutan makanya ngga di terima tuh”. 
Bu Dewi : “Wah berari Sekar tuh matre dong ups”.
Bu Biyem : “Kyanya si Bu Lastri ngga mau yah punya menantu yang mlarat hahaha”.
Siska : “Tapi selain itu karena Siti anak pertamanya belum menikah, jadi Sekar ngga boleh ngelangkahi Mbaknya oh sungguh malang nasibnya Sekar yah ups”.
Bu Dewi : “Ternyata begitu toh walah walah”.
Bu Biyem : “Berapa ini semua Pak? (Tanya Bu Biyem telah selesai memilih sayuran) 
Pak Damar : “Totalnya dua puluh ribu Bu”.
Bu Biyem : “Ya sudah saya duluan ya Bu Dewi, Siska” (setelah memberikan uang pada pedagang sayur) 
Bu Dewi : “Oke Bu, kabar-kabar kalo ada info terbaru tentang Sekar itu.
Pak Damar : (Dasar Ibu-ibu sukanya menggunjing menggibah orang, Pak Damar geleng-geleng kepala)
Bu Dewi dan Siska pun pulang dan berlalu sudah obrolan tersebut.

Adegan 2 
Siti dan Sekar pun terus membujuk Ayah dan Ibunya agar menerima lamaran dari Mas Ganang memberi tahu bahwa Mas Ganang adalah lelaki yang bertanggung jawab, dan menikah itu tidak harus berurutan mengikuti budaya jaman dulu. Hingga akhirnya hati Bu Lastri dan Bapak luluh mau menerima lamaran Mas Ganang. Tidak lama setelah itu setelah lamaran Bapak dan Ibu merestui Mas Ganang dan Sekar menikah. 
Mas Ganang : “Terima kaksih Pak Bu telah merestui kami berdua”. (ucap Mas Ganang bahagia)
Sekar : “Pak, Bu Sekar bahagia sekali menikah dengan lelaki yang Sekar cintai selama ini maksih yah udah ngerestuin Sekar meikah dengan Mas Ganang. (sambil meneteskan air mata kebahagiaan)
Bapak : “Tolong bahagiakan anak saya nak Ganang, sayangi dan lindungi Sekar, bimbing dengan tulus anak saya agar dia menjadi lebih baik kedepannya”. (pesan Bapak pada Mas Ganang)
Mas Ganang : “Pasti Pak”. (jawab Mas Ganang penuh keyakinan)
Bu Lastri : “Ibu bahagia melihat kamu bahagia nduk (tangisnya pecah sambil memeluk Sekar erat-erat)
Bu Wanti : “Ibu akan menyayangi Sekar seperti akan Ibu sendiri cah ayu.” (Sambil memeluk Sekar setelah pelukan Ibunya) 
Siti : “Selamat ya Dek semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah”.
Sekar : “Amin”. Semoga Mbak Siti juga segera menyusul Sekar untuk menikah hehhe.” (ledek Sekar pada Mbanya yang belum kunjung menemukan jodohnya)
Siti : “Doakan saya Dek”.
Sari : “Selamat menempuh hidup baru Mbak Sekar”.
Sekar : “Makasih adekku tersayang, sekolah yang bener yah.” (sambil mengacak-acak rambut adeknya)
Suasana penuh kebahagiaan menghinggapi keluarga keduanya, karena pada ahkirnya Mas Ganang dan Sekar direstui untuk menikah.

Adegan 3
Setelah bulan madu selama satu minggu Mas Ganang dan Sekar pun memutuskn unruk pulang ke rumah. Mereka pulang dengan menyewa mobil beserta supirnya. Diperjalanan mereka sangat happy dan selalu tertawa bercanda penuh kehangatan.  
Mas Ganang : “Sekar kamu sayang ga sama Mas”.
Sekar : “Kok Mas nanyanya kaya gitu sih”.
Mas Ganang : “Udah jawab aja buruan”. (Mas Ganang memaksa)
Sekar : “Ya sayang dong, sayang banget banget malahan. Kalo ngga sayang aku ga akan mau menikah sama Mas Ganang”. 
Mas Ganang : “Trus misalnya aku ngga ada bagaimana?”
Sekar : “Maksudnya Mas Ganang apaan si?” (bingung ada apa dengan suaminya itu mengapa menanyakan hal yang aneh-aneh)
Mas Ganang : “Kalo Mas dipanggil Tuhan duluan kamu gimana”.
Sekar : “Aku bakal ikut sama Mas, karena aku ga bisa hidup tanpa Mas Ganang”.
Tidak lama setelah itu mobil yang ditumpangi mereka menabrak pembatas jalan dan mereka berdua pun kehilangan nyawanya. Diana yang mengetahui kejadian itu langsung menghubungi keluarganya. Diana merupakan seorang polisi yang ikut mengevakuasi kecelakaan maut Mas Ganang dan Sekar.
Diana : “Assalamualaikum, apakah ini benar keluarganya Mas Ganang dan Sekar”.
Siti : “Waalaikumsalam, benar saya Siti Mbaknya sekar”.
Diana : “Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa saudara Ganang dan Sekar mengalami kecelakaan maut di Tol Gagorawi. Jenazah mereka berudua akan dibawa ke rumah duka setelah di lakukan pemeriksaan”.
Siti : “Apa ngga mungkin adik saya ngga mungkin meninggal”. (Siti menangis histeris, hal itu di dengar oleh Bapak, Ibu Lastri, Ibu Wanti dan Sari. Mereka ikut menangis tak percaya bahwa anaknya telah tiada)
Setelah tiba di rumah duka jenazah Mas Ganang dan Sekar disolatkan. Kemudian mereka di bawa menuju ke pemakaman. Pada akhirnya diputuskan bahwa Mas Ganang dan Sekar akan di makamkan di satu liang lahat. Hingga maut memisahkan mereka selalu bersama. Karena cinta mereka sehidup semati.

Komentar