Teori Kemunculan Bahasa beserta Tokohnya
Bahasa muncul pasti dikarenakan suatu hal. Apakah kalian tahu dari mana munculnya teori bahasa dan siapakah tokoh dari pencetus teori-teori tersebut?
Untuk mengetahuinya mari kita simak ulasan berikut ini.
Teori-teori awal mula munculnya bahasa beserta tokohnya berikut ini:
1. The Social Pressure Theory
Teori tekanan sosial (The social pressure theory) dikemukakan oleh Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments (hal.343 dan seterusnya). Teori ini bertolak dari anggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitive dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila mereka ingin menyatakan obyek tertentu, maka mereka terdorong pula untuk mengucapkan bunyi-bunyi tertentu. Bunyi-bunyi yang selalu mengiringi usaha mereka untuk menyatakan obyek-obyek yang mereka kenal baik, akan dipolakan oleh anggota-anggota kelompok dan akan dikenal sebagai tandauntuk menyatakan hal-hal itu. Demikian pula terjadi kalau pengalaman mereka makin bertambah. Mereka akan berusaha pula untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman baru itudengan bunyi-bunyi tertentu pula.
Teori ini tidak mempersoalkan bahwa fisik manusia primitive sebenarnya berkembang secara perlahan-lahan, sehingga kemampuan secara berbahasa juga akan berkembang secara perlahan-lahan. Adam Smith menggambarkan dalam teorinya itu seolah-olah manusia tiba-tiba sudah mencapai kesempurnaan fisik itu, sehingga kapasitas mentalnya pada awal perkembangannya juga sudah tercapai. Tutur merupakan produk dari tekanan sosial bukan hasil dari perkembangan manusia itu sendiri.
2. Interjection Theory
Teori Interjeksi (Interjection Theory), teori ini juga dikenal dengan nama Teori Pooh-Pooh. Teori ini bertolak dari asumsi, bahasa lahir dari ungkapan-ungkapan instinktif karena adanya tekanan-tekanan batin, perasaan mendalam, dan rasa sakit yang dialami manusia. Seandainya pendapat ini benar, maka kita dapat menduga bunyi ouch timbul karena konotasi rasa orang yang menderita.
Agaknya teori ini mulai dilancarkan oleh sejumlah filsuf, dan kemudian diterima sebagian karena usaha Whitney. Sesudah mengemukakan teori onomatopetik, Whitney mengemukakan juga bahwa adalah wajar bila orang-orang yang tidak terpelajar dan belum berkembang mengucapkan ujaran-ujaran tertentu, sementara itu wajah mereka secara alamiah mengekspresikan keadaan jiwanya. Dan ekspresi jiwa ini akan member makna pada ujaran-ujaran yang diucapkan dalam suasana batin tertentu. Whitney menghubungkan teori ini dengan teori onomatopetiknya dengan mengatakan bahwa karena ketakutan, kegembiraan, dan sebagainya binatanga atau manusia akan mengucapkan ujaran tertentu, dan ujaran-ujaran itu kemudian ditiru oleh manusia lainnya. Seperti halnya dengan teori onomatopetik, maka kenyataan manusia akan mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu untuk menyatakan kejijikan, keheranan, dan sebagainya dengan ujaran-ujaran tertentu yang sekarang dikenal denganistilah interyeksi atau kata seru. Kata seru memang oleh beberapa ahli ditolak sebagai satu kelas kata. Bahasa afektif bukan hanya terjadi pada orang-orang yang kurang terpelajar dan belum berkembang, tetapi juga terjadi pada orang-orang terpelajar dan yang sudah maju dalam perkembangannya.
Komentar
Posting Komentar