Pengertian Kalimat Efektif dan Ciri-cirinya
Tahukah kalian kaliamat egektif? Pada dasarnya kaliamat efektif adalah kalimat yang sudah untuk dipahami oleh pembanca maupun pendengarnya. Mari kita simak penjelasan lebih lengkapnya berikut ini.
A. Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai pada sasaran yang tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah ketepatan penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentupula. Kalimat efektif lebih mengutamakan keefektifan kalimat itu sehingga kejelasan kalimat itu terjamin. Mulyono (2012:73) menjelaskan bahwa kalimat efektif ialah jenis kalimat yang menyatakan informasi secara tajam dengan bentuk pengungkapan yang menarik. Secara tajam artinya informasi itu tersampaikan tidak hanya dengan jelas, melainkan lebih dari itu.
Finoza (2013:185) mengemukakan bahwa kalimat efektif merupakan kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur atau penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca secara tepat pula. Dari pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menimbulkan gagasan atau pikiran, apabila dibaca atau didengar dapat diterima dengan baik dan tepat oleh pembaca atau pendengar sesuai dengan apa yang dimaksud oleh si penulis atau pembicara.
B. Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Ada beberapa ciri-ciri yang perlu diperhatikan untuk menetukan apakah suatu kalimat dapat disebut kalimat efektif. Berikut ini akan dijelaskan tujuh ciri-ciri kalimat efektif.
1. Kesepadanan
Finoza (2013:186) mengemukakan bahwa kesepadanan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu unsur pilihan, bahkan dapat mempertentangkan unsur pilihan yang satu dan yang lainya asalkan ide atau gagasan utamanya satu. keselarasan subjek-predikat, predikat-objek, dan predikat-keterangan. Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa kriteria, seperti tercantum dibawah ini.
a. Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.
b. Tidak terdapat subjek ganda
c. Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada awal kalimat.
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
2. Kepararelan
Hikmat dan Nani Solihati (2013:50) menyatakan paralisme adalah menempatkan gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur atau konstruksi grametikal yang sama pula. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina atau kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk keduanya juga menggunakan verba.
Berdasarkan pada syarat struktur sebuah kalimat, kalimat tersebut sudah memenuhi unsur kelengkapan pembangun kalimat. Namun, diperhatikan lebih cermat lagi, ternyata kalimat memang tersebut tidak memiliki kesamaan pola dalam penyusunannya. Ada yang menggunakan pola kata benda (pengamatan), kata kerja aktif (mengidentifikasi dan menyusun), dan kata kerja pasif (diberi label). Oleh sebab itu, agar menjadi kalimat efektif, kalimat tersebut harus disamakan dalam pola penyusunannya.
3. Ketegasan
Putrayasa (2014: 56) menyatakan ketegasan bahwa adalah upaya pemberian aksentuasi, pemusata perhatian pada suatu unsur kalimat, agar unsur kalimat yang diberi penegasan itu menjadi perhatian dari si pembaca atau pendengar. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ketegasan atau penekanan merupakan perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat.
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
e. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan)
4. Kehematan
Finoza (2013:176) menyatakan bahwa kehematan adalah usaha menghindari pemakaian kata yang memang tidak perlu. Hemat disini berarti tidak memakai kata-kata mubazir, tidak mengulang subjek, tidak menjamakkan kata yang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata, kalimat akan menjadi padat berisi. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
a. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
b. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
d. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
e. Penghematan kalimat dilakukan dengan cara menghindari pemakaian kata-kata yang memang tidak diperlukan dalam kalimat.
5. Kecermatan
Finoza (2013: 188) yang menyatakan, bahwa ketepatan merupakan kesesuaian pemakaian unsur yang membentuk suatu kalimat sehingga menciptakan pengertian yang bulat dan pasti. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulakan bahwa kecermatan bahasa adalah kehati-hatian penulis dalam menyusun kalimat dan bentuk-bentuk kebahasaan yang lain sehingga hasilnya tidak akan menimbulkan tafsir ganda serta tepat dalam pemilihan katanya.
6. Kepaduan
Hikmat dan Nanik Solihin (2013:47) menyatakan kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan nyata antara unsur-unsur (kata atau kelompok) yang membentuk kalimat itu. /
Berikut ini kriteria yang diperhatikan.
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
b. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
c. Kalimat efektif terdapat hubungan yang padu di antara unsur-unsur pembangun/pembentuk kalimat.
7. Kelogisan
Hikmat dan Nani Solihati (2013:50) menyatakan bahwa logika adalah suatu rangkaian berpikir yang berusaha untuk menghubungkan fakta-fakta menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal. Purwanto (2019: 60) menyatakan, bahwa dalam hal kelogisan kalimat, diupayakan agar gagasan kalimat yang disusun masuk akal, sehingga akan mudah dipahami pembaca. Selain itu, diupayakan pula agar kalimat yang disusun bisa menimbulkan/ memunculkan pola pikir yang sistematis pada diri pembaca (misalnya: runtut/teratur dalam penghitungan angka dan penomoran).
Komentar
Posting Komentar