Artikel Demonstrasi Kontektual Berdiferensiasi

 

Nama: Septiyana Dwi Rahayu (2401640001) 

Kelas: PPG PBSI A Gelombang 1 Tahun 2024


 Demonstrasi Kontektual Berdiferensiasi Artikel


Pengertian Pembelajaran Bersiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan strategi proses belajar mengajar yang mengakomodir, melayani, dan mengakui keberagaman peserta didik dalam belajar sesuai dengan kesiapan, minat dan preferensi belajarnya. Pembelajaran berdiferensiasi sartinya peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai dan kebutuhannya sehingga mereka tidak frustrasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajar-nya. 

Pengertian pembelajaran berdiferensiiasi menurut ara ahli:

Wahyuningsari (2022)

Ada sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa  Pembelajaran  berdiferensiasi  yaitu pembelajaran yang  sepatutnya mengakomodir   kebutuhan  dari siswa   dalam   kegiatan   belajar,. 

Firdaus (2022)

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Wahyuningsari (2022) Firdaus mengemkakan bahwa  pembelajaran berdiferensiasi merupakan upaya yang dilakukan guru untuk memenuhi kebtuhan guru dan harapan murid.Guru memperhatikan ciri khas siswa yang berbeda-beda, sehingga siswa-siswa yang mempunyai ciri berbeda tidak akan diperlakukan sama.

Wulandari (2022) 

Menurut pendapat lain yaitu Wulandari (2022) mengemukakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah  pembelajaran  yang  mengakomodir, melayani,dan  mengakui  keberagaman  siswa  dalam  belajar  sesuai dengan  kesiapan,  minat,dan  preferensi  belajar  siswa.

Kristiani, dkk (2021)

Menurut Kristiani (2021) pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana siswa dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya.

    Selain pemahaman akan teori yang mendasarai keragaman siswa, pendidik juga harus mengetahui wujud diferensiasi yang akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Diferensiasi dalam pembelajaran ini memuat empat aspek, yakni (1) diferensiasi konten, (2) diferensiasi proses, (3) diferensiasi produk, dan (4) lingkungan belajar. Keempat aspek tersebut dapat berjalan simultan atau dapat juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pertama, diferensiasi konten. Hal tersebut berkaitan dengan materi ajar yang akan disampaikan kepada siswa. Hal yang perlu dipersiapkan dalam menyusun materi ajar yang berdiferensiasi adalah dengan memerhatikan tiga hal, yakni kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Dengan pertimbangan ketiga hal tersebut, pembelajaran akan mampu berorientasi pada kebutuhan siswa. Sebagai contoh, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada teks laporan hasil observasi, siswa diminta untuk mengobservasi suatu objek berdasarkan kesukaan terhadap objek tersebut. Dengan didasari minat yang tinggi, pembelajaran juga akan berhasil secara optimal. Kedua, diferensiasi proses. Hal tersebut berkaitan dengan strategi pembelajaran yang dilakukan di kelas. Selain itu, diferensiasi proses juga bisa berkaitan dengan pengaturan penugasan kelas, apakah bersifat individu atau bersifat berkelompok. Seperti halnya diferensiasi konten, diferensiasi produk juga berkaitan dengan analisis kesiapan belajar siswa. Dengan pemahaman yang baik akan kesiapan siswa, guru mampu menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa pada kelas tersebut. Siswa yang memiliki kesiapan belajar yang baik tentu perlakuannya akan berbeda dengan siswa yang belum memiliki kesiapan belajar yang baik. Ketiga, diferensiasi produk. Hal tersebut berkaitan dengan variasi hasil tugas pembelajaran atau variasi penilaian hasil belajar siswa. Masing-masing siswa memiliki bakat dan minat yang berbeda. Sebagai contoh, dalam menyajikan hasil laporan teks hasil observasi, guru memberikan alternatif beragam produk luaran yang adapat dihasilkan dalam teks tersebut. Misalnya, hasil dari teks laporan hasil observasi tersebut dapat diwujudkan dalam artikel, infografik, rekaman audio atau podcast, bahkan video audio visual. Hak tersebut dimaksudkan agar siswa mampu berproses sesuai dengan bakat dan minat yang mereka miliki. Dengan keragaman luaran hasil pembelajaran tersebut, diharapkan semua potensi siswa mampu terfasilitasi. Keempat, lingkungan belajar. Hal tersebut secara umum berkaitan dengan tempat belajar siswa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Lingkungan belajar siswa perlu didesain sebagaimana mestinya agar memiliki nuansa nyaman, aman, dan mampu berpihak pada ekosistem pembelajaran yang baik. Lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan berpihak pada ekosistem pembelajaran yang baik tidak hanya berkutat pada sarana dan prasana. Namun juga iklim sosial antara siswa dengan siswa dan antara siwa dengan guru. Perlu adanya penumbuhkembangan sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling simpati terhadap semua warga belajar di lingkungan belajar tersebut. Dengan lingkungan belajar yang demikian, proses pembelajaran yang berdiferensiasi akan berlangsung dengan optimal.


Contoh Keragaman Anak di Kelas

Peserta didik yang bersekolah bersama belum tentu memiliki minat yang sama, kepribadian yang sama, kesukaan atau ketidaksukaan yang sama. Kemampuannya pun berbeda-beda, ada yang mungkin paham banyak namun ada pula yang tidak paham apa-apa. Mereka mempunyai hal yang berbeda, karena anak-anak ini adalah manusia dengan banyak hal  berbeda tentang dirinya. Mereka berasal dari keadaan, budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda, sehingga hal ini akan sangat mempengaruhi segala sesuatu tentang anak. Ruang kelas yang bercirikan keragaman budaya dan bahasa memerlukan beragam strategi untuk membedakan pengajaran guna memenuhi kebutuhan siswa yang beragam.Hal ini sejalan dengan Firdaus (2022) yang mengemukakan  bahwa kelas  yang  beragam  dengan memberikan kesempatan dalam meraih  konten,  memproses  suatu  ide dan  meningkatkan  hasil  setiap  murid, sehingga  murid-murid akan bisa  lebih belajar dengan efektif. Salah satu paradigma baru yang tecermin dalam Kurikulum Merdeka adalah bahwa setiap pembelajaran haruslah berpusat pada siswa (student centered). Artinya, dibutuhkan pemahaman yang lebih yang tidak hanya sebatas jargon. Implementasi pembelajaran yang berbasis siswa perlu diwujudkan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tersebut. Melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini, guru diharapkan mampu memiliki pemahaman bahwa setiap siswa memiliki keragaman karakter yang harus difasilitasi guna capaian pembelajaran yang tidak hanya optimal, tetapi juga bermakna bagi kehidupan siswa.


Teori Pendukung

Wahyuningsari, D., Mujiwati, Y., Hilmiyah, L., Kusumawardani, F., & Sari, I. P. (2022).
  Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Rangka Mewujudkan Merdeka Belajar.

Jurnal Jendela Pendidikan, 2(04), 529-535.
Wulandari, A.S. (2022). Literature Review: Pendekatan Berdiferensiasi Solusi
Pembelajaran dalam Keberagaman. 
Jurnal Pendidikan MIPA, 12(3), 682-689.
Firdaus,A.M.,&BakhtiarA.M.(2022).Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk
Mengatasi Keberagaman Tingkat Keanggapan Siswa--Siswi Di Upt Sdn 25 Gresik. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 8(2), 2135-2147.

Komentar