Koneksi Antar Materi Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional Mulai Dari Diri dan Komitmen Diri
Nama :
Septiyana Dwi Rahayu
NIM :
2401640001
Kelas :
PPG PBSI A Gelombang 1 tahun 2024
Tugas
Filosofi Pendidikan
Koneksi
Antar Materi Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional Mulai Dari Diri dan Komitmen Diri
Pada
tahap ini, Mahasiswa meninjau ulang keseluruhan materi dari ‘Mulai dari Diri’
hingga ‘Elaborasi Pemahaman’ untuk membuat ‘Koneksi Antar Materi’ sebagai
kesimpulan penguasaan materi ‘Perjalanan Pendidikan Nasional’ dengan uraian
tugas sebagai berikut: Tinjau kembali tugas individu dan kelompok yang telah dikembangkan
pada fase Mulai Dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi dan Demonstrasi
Kontekstual. Buatlah sebuah kesimpulan dan penjelasan untuk menguatkan
pemahaman Anda tentang materi Perjalanan Pendidikan Nasional. Buatlah sebuah
refleksi dari pengetahuan dan pengalaman baru yang Anda peroleh dalam materi
ini dan perubahan diri yang yang Anda alami dan akan Anda praktekan di sekolah
dan kelas Anda.
Jawab:
Keinginan saya memilih menjadi guru ketika melihat perjuangan orang tua
saya. Saya menyadari bahwa selela-lelahnya Saya dalam mencari ilmu masih lebih
lelah lagi orang tua Saya yang panas-panasan di sawah kerjanya berat demi
anaknya supaya memiliki ilmu dan pendidikan yang tinggi. Saya tidak mau ilmu
saya hanya berhenti di Saya saja. Dengan menjadi seorang guru ilmu yang saya
dapatkan akan bermanfaat untuk orang lain. Selain itu saya percaya bahwa guru
sosok seseorang yang digugu dan ditiru. Guru merupakan sosok yang menjadi
panutan karena tidak hanya memberikan ilmu, guru juga menjadi contoh
berperilaku yang baik.
Menurut Ki Hajar
Dewantara Pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi
pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Ki
Hadjar Dewantara merupakan tokoh pembaharu dalam dunia pendidikan nasional
pahlawan nasional ini dikenal sebagai bapak yang memperjuangkan serta juga
mengangkat martabat bangsa melalui bidang pendidikan.Masyarakat merasa memiliki
kewajiban untuk memajukan dan memperbaiki berbagai dalam pendidikan semenjak
kemerdekaan Indonesia. Tetapi tidak ada contoh yang baik untuk diterapkan di
sekolah. Kemudian tidak ada cukupnya motivasi untuk mencari pengetahuan sendiri
dan hanya berfokus pada nilai yang tinggi pada rapor. Oleh karena itu Indonesia
hanya dipandang sebagai objek perdagangan selama masa penjajahan.Adanya
intruksi untuk mengajarkan kepada rakyat untuk belajar membaca, menulis dan
berhitung seperlunya saja. Selain itu didirikan juga "sekolah-sekolah
kabupaten" yang hanya untuk mendidik calon pegawai.
Upaya untuk mendidik kaum muda
merupakan syarat utama dalam membebaskan diri dari jeratan penjajah.Pendidikan
yang ada pada masa kolonial tidak mencerdaskan, melainkan mendidik manusia
untuk tergantung pada nasib dan bersikap pasif. Pada tahun 1922 Ki Hajar
Dewantara memiliki cita-cita yang sangat mulia, beliau menghendaki perubahan
radikal dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Ki Hajar Dewantara dikenal
sebagai tokoh nasionalis yang memperjuangkan bangsa Indonesia, khususnya dalam
bidang pendidikan. Taman Siswa ialah sebuah perguruan. Istilahnya bahwa
perguruan ini sengaja dipakai untuk membedakannya dari kata sekolah yang pada
masa itu merupakan pabrik yang tak berjiwa di mana sekolah yang hanya
menghasilkan orang-orang yang pintar Perguruan ialah tempat tinggal guru dan
juga tempat guru mendidik murid-muridnya. Hubungan batin antara murid dengan
murid, antara guru dengan murid selalu erat. .Diharapkan nantinya seorang
pendidik mampu mendidik peserta didik dengan memegang semboyan dari Ki Hajar
Dewantara yakni, ing ngarso sung tuladha (dimuka memberi contoh), ing madya
mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), tut wuri handayani (mengikuti dan
mendukungnya).
Pendidikan
setelah kemerdekaan tidak jauh berbeda saat dijajah oleh Jepang, hanya saja sudah
menggunakan kurikulum sebagai dasar acuan dalam tujuan Pendidikan di Indonesia,
sejak jaman kemerdekaan hingga saat ini, kurikulum Indonesia telah mengalami
perubahan terusmenerus. Tujuannya untuk memperbaiki Pendidikan dengan mengikuti
perkembangan jaman. Namun menurut saya, kurikulum yang berubah terlalu cepat
bahkan belum dievaluasi bagaimana praktiknya dan hasilnya hanya akan membuat
pendidik dan siswa menjadi bingung dalam belajarnya. Mereka menjadi tidak focus
untuk mengajar dan menerima pembelajaran. Padahal, untuk mempersiapkan anak
pada Pendidikan abad 21, tentu bukan hanya materi pelajaran saja yang harus
dikuasi siswa. Siswa harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan dalam segala
jaman dan teknologi yang bahkan belum ada. Mental anak harus menjadi mental
yang pemberani, siap siaga, berwawasan global, kreatif, inovasi, menyelesaikan
masalah, namun tetap tidak melupakan Pendidikan karakter yang berbudaya juga
berakhal mulia.
Refleksi diri
Setelah saya mempelajari
topik 1 pada mata kuliah Filosofi Pendidikan, saya memperoleh banyak
pengetahuan baru dan terdapat beberapa perubahan yang saya rasakan, sebagai
berikut:
Saya
dapat mengetahui sejarah perjalanan Sistem Pendidikan Nasional dari masa
sebelum kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan bahkan pendidikan saat ini. Saya
dapat mengetahui beberapa pemikiran yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara
dalam kaitannya dengan Filosofi Pendidikan yang selanjutnya diadaptasi dan
diimplementasikan pada pendidikan saat ini. Saya menjadi tahu bahwa guru sejatinya
bukan sekedar mengajar, namun harus menjadi teladan, membangun cita-cita, dan
memberi dukungan kepada peserta didik. Ketika nanti saya menjadi guru, maka
saya akan menerapkan prinsip kemerdekaan belajar atau merdeka belajar dengan
cara memberikan kebebasan kepada setiap peserta didik untuk mengembangkan minat
dan potensi yang ada di dalam dirinya. Sebagai guru saya juga harus turut
terlibat dalam menumbuhkan karakter peserta didik. Guru merupakan sosok yang menjadi panutan
karena tidak hanya memberikan ilmu, guru juga menjadi contoh berperilaku yang
baik. Dengan ilmu yang diberikan kepada peserta didik dan dapat mengantarkan
mereka pada kesuksesan dimasa depan. Hal itulah yang membuat saya semakin
mantap untuk memutuskan menjadi seorang guru. Untuk menjadi seorang guru yang
berpihak kepada peserta didik, tentunya terlebih dahulu saya harus mengetahui
kebutuhan dari peserta didik itu sendiri. Hal tersebut dapat menjadi pondasi
untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Setelah melihat
kebutuhan dari peserta didik, barulah saya bisa menerapkan pemmbelajaran yang
berpihak pada peserta didilk. Hal ini dapat dillakukan dengan cara memetakan
kesiapan belajar peserta didik, kemudian minat belajar, dan profil atau gaya
belajar dari peserta didik. Oleh karena itu, pilihan model pembelajaran yang
telah dipilih oleh peserta didik peserta didik tidak akan membuat mereka bosan
saat menerima pelajarannya. Guru menjadi fasilitator dan menjembatani ilmu
pengetahuan yang sumbernya boleh dari mana saja dan gaya pembelajarannya pun
disesuaikan dengan hasil dari pemetaan dan gaya yang disukai peserta didik
sehingg menjadi guru yang berpihak pada peserta didik.
Komentar
Posting Komentar