01.01.2-T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

 

01.01.2-T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

Nama : Septiyana Dwi Rahayu NIM : 2401640001 Kelas : PPG PBSI A Gelombang 1 tahun 2024 Tugas Filosofi Pendidikan Koneksi Antar Materi Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional Mulai Dari Diri dan Komitmen Diri Pada tahap ini, Mahasiswa meninjau ulang keseluruhan materi dari ‘Mulai dari Diri’ hingga ‘Elaborasi Pemahaman’ untuk membuat ‘Koneksi Antar Materi’ sebagai kesimpulan penguasaan materi ‘Perjalanan Pendidikan Nasional’ dengan uraian tugas sebagai berikut: Tinjau kembali tugas individu dan kelompok yang telah dikembangkan pada fase Mulai Dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi dan Demonstrasi Kontekstual. Buatlah sebuah kesimpulan dan penjelasan untuk menguatkan pemahaman Anda tentang materi Perjalanan Pendidikan Nasional. Buatlah sebuah refleksi dari pengetahuan dan pengalaman baru yang Anda peroleh dalam materi ini dan perubahan diri yang yang Anda alami dan akan Anda praktekan di sekolah dan kelas Anda. Jawab: Keinginan saya memilih menjadi guru ketika melihat perjuangan orang tua saya. Saya menyadari bahwa selela-lelahnya Saya dalam mencari ilmu masih lebih lelah lagi orang tua Saya yang panaspanasan di sawah kerjanya berat demi anaknya supaya memiliki ilmu dan pendidikan yang tinggi. Saya tidak mau ilmu saya hanya berhenti di Saya saja. Dengan menjadi seorang guru ilmu yang saya dapatkan akan bermanfaat untuk orang lain. Selain itu saya percaya bahwa guru sosok seseorang yang digugu dan ditiru. Guru merupakan sosok yang menjadi panutan karena tidak hanya memberikan ilmu, guru juga menjadi contoh berperilaku yang baik. Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pembaharu dalam dunia pendidikan nasional pahlawan nasional ini dikenal sebagai bapak yang memperjuangkan serta juga mengangkat martabat bangsa melalui bidang pendidikan.Masyarakat merasa memiliki kewajiban untuk memajukan dan memperbaiki berbagai dalam pendidikan semenjak kemerdekaan Indonesia. Tetapi tidak ada contoh yang baik untuk diterapkan di sekolah. Kemudian tidak ada cukupnya motivasi untuk mencari pengetahuan sendiri dan hanya berfokus pada nilai yang tinggi pada rapor. Oleh karena itu Indonesia hanya dipandang sebagai objek perdagangan selama masa penjajahan.Adanya intruksi untuk mengajarkan kepada rakyat untuk belajar membaca, menulis dan berhitung seperlunya saja. Selain itu didirikan juga "sekolah-sekolah kabupaten" yang hanya untuk mendidik calon pegawai. Upaya untuk mendidik kaum muda merupakan syarat utama dalam membebaskan diri dari jeratan penjajah.Pendidikan yang ada pada masa kolonial tidak mencerdaskan, melainkan mendidik manusia untuk tergantung pada nasib dan bersikap pasif. Pada tahun 1922 Ki Hajar Dewantara memiliki cita-cita yang sangat mulia, beliau menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai tokoh nasionalis yang memperjuangkan bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Taman Siswa ialah sebuah perguruan. Istilahnya bahwa perguruan ini sengaja dipakai untuk membedakannya dari kata sekolah yang pada masa itu merupakan pabrik yang tak berjiwa di mana sekolah yang hanya menghasilkan orang-orang yang pintar Perguruan ialah tempat tinggal guru dan juga tempat guru mendidik murid-muridnya. Hubungan batin antara murid dengan murid, antara guru dengan murid selalu erat. .Diharapkan nantinya seorang pendidik mampu mendidik peserta didik dengan memegang semboyan dari Ki Hajar Dewantara yakni, ing ngarso sung tuladha (dimuka memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya). Pendidikan setelah kemerdekaan tidak jauh berbeda saat dijajah oleh Jepang, hanya saja sudah menggunakan kurikulum sebagai dasar acuan dalam tujuan Pendidikan di Indonesia, sejak jaman kemerdekaan hingga saat ini, kurikulum Indonesia telah mengalami perubahan terusmenerus. Tujuannya untuk memperbaiki Pendidikan dengan mengikuti perkembangan jaman. Namun menurut saya, kurikulum yang berubah terlalu cepat bahkan belum dievaluasi bagaimana praktiknya dan hasilnya hanya akan membuat pendidik dan siswa menjadi bingung dalam belajarnya. Mereka menjadi tidak focus untuk mengajar dan menerima pembelajaran. Padahal, untuk mempersiapkan anak pada Pendidikan abad 21, tentu bukan hanya materi pelajaran saja yang harus dikuasi siswa. Siswa harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan dalam segala jaman dan teknologi yang bahkan belum ada. Mental anak harus menjadi mental yang pemberani, siap siaga, berwawasan global, kreatif, inovasi, menyelesaikan masalah, namun tetap tidak melupakan Pendidikan karakter yang berbudaya juga berakhal mulia. Refleksi diri Setelah saya mempelajari topik 1 pada mata kuliah Filosofi Pendidikan, saya memperoleh banyak pengetahuan baru dan terdapat beberapa perubahan yang saya rasakan, sebagai berikut: Saya dapat mengetahui sejarah perjalanan Sistem Pendidikan Nasional dari masa sebelum kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan bahkan pendidikan saat ini. Saya dapat mengetahui beberapa pemikiran yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kaitannya dengan Filosofi Pendidikan yang selanjutnya diadaptasi dan diimplementasikan pada pendidikan saat ini. Saya menjadi tahu bahwa guru sejatinya bukan sekedar mengajar, namun harus menjadi teladan, membangun cita-cita, dan memberi dukungan kepada peserta didik. Ketika nanti saya menjadi guru, maka saya akan menerapkan prinsip kemerdekaan belajar atau merdeka belajar dengan cara memberikan kebebasan kepada setiap peserta didik untuk mengembangkan minat dan potensi yang ada di dalam dirinya. Sebagai guru saya juga harus turut terlibat dalam menumbuhkan karakter peserta didik.Guru merupakan sosok yang menjadi panutan karena tidak hanya memberikan ilmu, guru juga menjadi contoh berperilaku yang baik. Dengan ilmu yang diberikan kepada peserta didik dan dapat mengantarkan mereka pada kesuksesan dimasa depan. Hal itulah yang membuat saya semakin mantap untuk memutuskan menjadi seorang guru. Untuk menjadi seorang guru yang berpihak kepada peserta didik, tentunya terlebih dahulu saya harus mengetahui kebutuhan dari peserta didik itu sendiri. Hal tersebut dapat menjadi pondasi untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Setelah saya melihat kebutuhan dari peserta didik, barulah saya bisa menerapkan pemmbelajaran yang berpihak pada peserta didilk. Hal ini dapat dillakukan dengan cara memetakan kesiapan belajar peserta didik, kemudian minat belajar, dan profil atau gaya belajar dari peserta didik. Oleh karena itu, pilihan model pembelajaran yang telah dipilih oleh peserta didik peserta didik tidak akan membuat mereka bosan saat menerima pelajarannya. Guru menjadi fasilitator dan menjembatani ilmu pengetahuan yang sumbernya boleh dari mana saja dan gaya pembelajarannya pun disesuaikan dengan hasil dari pemetaan dan gaya yang disukai peserta didik sehingg menjadi guru yang berpihak pada peserta didik. 

Link Uploud Artikel: 

https://septiyanadwiofficial.blogspot.com/2024/02/koneksi-antar-materi-relevansi.html


Komentar