01.01.2-T3-8. Aksi Nyata - Manusia Indonesia bagi Saya
01.01.2-T3-8. Aksi Nyata - Manusia Indonesia bagi Saya
PENERAPAN TANDA DAN SIMBOL KEBHINEKATUNGGALIKAAN DAN NILAINILAI PANCASILA YANG ADA DI EKOSISTEM SEKOLAH DAN PROSES PEMBELAJARAN DI SMP NEGERI 3 KALIBAGOR
Septiyana Dwi Rahayu1 1Program Profesi Guru/Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto
E-mail: septiyanadwi184@gmail.com
Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai kebhineka tunggal ikaan yang ada di ekosistem sekolah. Penghayata nilai-nilai dari pancasila yang terdapat di dalam diri manusia yaitu kebhinekaan, pancasila, dan sikap religiusitas serta menghormati perbedaan antar manusia. Bhinneka Tunggal Ika menjadi cerminanan perbedaan yang menyatukan umat manusia dalam bentuk pemahaman dalam lingkungan sekolah. Melalui penghayatan nilai-nilai pancasila, penghargaan terhadap keberagaman budaya, suku dan ekosistem sekolah penghayatan nilai pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan tanda dan simbol yang terkandung dalam nilai Kebhinekaan Tunggal ika dan Pancasila sebagai identitas manusia indonesia yang diterapkan di SMP Negeri 3 Kalibagor. Di SMP Negeri 3 Kalibagor telah menerapkan nilai-nilai kebinekaantunggalikaan dan Pancasila dengan cukup baik dapat dilihat dari tidak adanya diskriminasi antara pendidik dan peserta didik serta peserta didik dengan peserta didik lainnya serta sikap saling menghargai dan saling toleransi.
Kata Kunci: Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, Sekolah.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang unik karena memiliki ciri khas yaitu banyakmemiliki keragaman dari budaya, suku bangsa, agama, hingga aliran-alirankepercayaan. Keberagaman tersebut terlihat jelas dari Sabang sampai Merauke, semua keragaman tersebut tumbuh dan berkembang didalam kehidupan masyarakatIndonesia, sehingga melahirkan masyarakat yang plural. Keberagaman ras, suku, agama dan golongan masyarakat di Indonesia merupakan hal alamiah bagi negara kepulauan. Sebagai negara kepulauan, perbedaan antar suku yang mendiami satu pulau dengan pulau lain atau berada di satu kawasan berbeda-beda budayanya. Dan Indonesia mempunya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila dibuat untuk menjadi landasan atau pedoman dalam beperilaku sebagai warga negaraIndonesia yang baik. Dengan mengikutinya dan mengimplementasikan dalam kehidupan, maka akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa antar rakyatIndonesia (Nurgiansah, 2021). Seperti menurut Damanhuri, dkk (2016) nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan mengajarkan cara berfikir dan bertindak yang sesuai dengan ideologinegara. Bangsa Indonesia mempunyaimoto atau semboyanyang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila yaitu Bhinneka tunggal Ika. Frasa ini berasal dari bahasa JawaKuno yangartinya adalah “Berbedabeda tetapi tetap satu”. Manusia Indonesia adalah manusia yang membawa jati diri bangsa dengan segala keanekaragaman yang ada di Indonesia dan saling menghormati dan menghargai segala bentuk perbedaan. Ada tiga hal yang menjadi ciri khas manusia Indonesia yakni keBhinnekaan, pancasila dan religiusitas. Keragaman merupakan kekayaan masyarakat Indonesia yang menjadi identitas bangsa Indonesia. KeBhinnekaan adalah kesediaan untuk menerima kelompok lain secara sama sebagaikesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Sebagai bangsa yang berBhinneka tunggal ika kita harus dapat menanamkannilai-nilai Pancasila untuk menyatukan perbedaan yang ada dalam satu titik dan membangun keBhinnekaan pada masing-masing sila terkhusus dalam bidang pendidikan. Pendidikan merupakan proses yang berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending proces), sehingga dapat menghasilkan kualitas yang berkesinambungan, yang ditujukan pada perwujudan sosok manusia masa depan, dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa serta Pancasila (Sujana, 2019). Dalam membangunpendidikan yang kokoh dan unggul, perlu dibangun landasan yang kokoh sebagai dasar pijakan bagi pembangunan pendidikan, dasar tersebut mengacupadanilai-nilai yangberlakudimasyarakat, baik agama, moral,maupunnilaibudayaserta nilai hukum dan norma-normayang mengikat semua pihak sehinggatercapainya kesesuaian dan kesamaan pandangan dalam tercapainya tujuan bangsa dan Negara melalui pendidikan. Sekolah merupakan tempat pengajaran formal yang membentuk landasan dan kepribadian penerus bangsa. Peserta didik harus di tanamkan nilai-nilai pancasila di samping juga peran agama juga sangat mengisi jiwa peserta didik menjadi pribadi mulya dan berjiwa pancasila. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji tentang penghayatan nilai-nilai pancasila yang diharapkan dapat memberikan hubungan keberagaman untuk mewujudkan kebhinneka tunggal ikaan di sekolah. Dimana nilai-nilai tersebut bertujuan agar terciptanya kerukunan, tumbuhnya rasa kedisiplinan, dan sikap toleransi untuk tidak membeda-bedakan orang lain yang dapat membentuk pola perilaku, pola pikir serta pola tindakan dan memberikan arahan dalam menguatkan identitas manusia Indonesia yakni kebhinnekaan,pancasila dan religiusitas.
METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi. Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati objek secara langsung, dengan terlibat (partisipatif) maupun tanpa melibatkan diri (nonpartisipatif). Kebhinekatunggalikaan dan Pancasila Sebagai Identitas Manusia Indonesia yang diterapkan di SMP Negeri 3 Kalibagor. Menurut (Salim, 2017) mengemukakan bahwa frasa Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno dan diterjemahkan dengan kalimat “berbeda- beda tetapi tetap satu”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Makna Kebhinekaan Kebhinekaan diberi pengertian/ makna dengan cara mengadaptasi suatu konsep multikulturalisme, yaitu adanya kesediaan untuk menerima anggota kelompok lain dengan pandangan yang sam untuk kesatuan, tanpamempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Kebihnekaan dibatasi pada suatu ruang lingkup keberagaman yang bersifat kodrat terutama pada etnis, agama, dan budaya. Satuan pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan menengah. Menurut (Rizki & Djufri, 2020), Semboyan Bhineka Tunggal Ika mengajarkan kita makna toleransi. Bhineka Tunggal Ika juga bermanfaat sebagai bahan perdamaian yang mampu membantu menyelesaikan masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Golongan). Praktik-praktik penerapanpendidikan kebhinekaan di sekolah Hasil observasi mengenai tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dan proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan di SMP Negeri 3 Kalibagor menggambarkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran kebinekaan identic dengan pembelajaran multikulturalisme yaitu kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia baik secara gender, ras, suku, etnis, kelas/ golongan sosial.
Implementasi model pembelajaran kebinekaan di sekolah ditunjukkan dengan suasana kelas yang dikembangkan cerminanan 1)keanggotaan kelompok belajar siswa lintas sektoral/kultur; 2) proses belajar memberikan kesempatan kepada siswa dari berbagai ras, suku, etnis untuk berinteraksi dengan mengurangi rasa ketakutan; 3) semua aturan kelas diputuskan secara bersama dan berlaku untuk semua siswa. Upaya penerapan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekolah telah mengembangkan berbagai kebijakan dimana sekolah terbuka untuk menerima peserta didik baru. Sekolah SMP Negeri 3 Kalibagor membangun prinsip toleransi antar sesama peserta didik, memperlakukan peserta didik secara adil dari latar belakang yang berbeda, meningkatkan kesadaran akan kepekaan gender, membangun keberagaman yang inklusif dan membangun kesadaran multikultural di kalangan peserta didik. Implementasi model pembelajaran kebinekaan disekolah ditunjukkan oleh peran guru dalam menyampaikan pembelajaran kebinekaan, antara lain: 1) mendorong siswa belajar tentang hal- hal yang terkait pandangan dan penilaian terhadap individu atau kelompok dan hubungan lainnya yang dianggap tidak biasa yang berdampak negatif nantinya 2) mendorong peserta didik belajar berbagi nilai kebajikan dalam internal kelompok maupun antar-kelompok seperti nilai keadilan kebajikan, kebebasan, perdamaian, kepedulian sosial dll.3) guru membantu peserta didik dalam berinteraksi secara efektif dengan peserta didik lainnya dari berbagai ras, suku, etnis dan agama; 4) guru menggunakan teknik dan pendekatan budaya yang beragam dalam menilai pengetahuan peserta didik dan keterampilan sosialnya.
Hal yang harus mendapat perhatian dalam implementasi model pembelajaran kebinekaan di sekolah adalah adanya pembelajaran transformasi informasi dengan menggunakan anggota masyarakat dan orang tua sebagai sumber belajar bagi peserta didik. SMP Negeri 3 Kalibagor tidak membedakan keragaman agama. Terdapat 3jenis agama yaitu agama Hindu, Kristen, dan Islam, selain itu peserta didik juga memiliki suku yang beragam dimana terdiri dari suku batak, Chinese, melayu, jawa dll, . Meskipun memiliki peserta didik beragam agama,suku dan ras dan budaya, pihak sekolah dan sesama peserta didik lainnya itu tetap saling menghargai dan tidak membedakan satu sama lainnya. Peserta didik pun menerima dan bersedia berteman dengan teman yang berbeda agama dan suku bahkan berteman dengan akrab. hal ini juga terlihat dalam proses pembelajaran dan penggunaan fasilitas sekolah, semuanya peserta didik mendapat hak yang sama. Ketika saya PPL di SMP Negeri 3 Kalibagor, saya telah melakukan observasi sekolah dan saya paham bahwa dalam proses pembelajaran penting untuk mengembangkan pemahaman terhadap kebhinekatunggalikaan.
Melalui observasi di sekolah, saya memahami bagaimana sekolah sebagai lembaga pendidikan mampu menjadi wadah yang mencerminkan kebhinekatunggalikaan. Tanda dan simbol di sekolah mencakup beragam aspek, mulai dari lambang negara hingga penggunaan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran. Penggunaan tanda dan simbol, seperti Bendera Merah Putih dan Lambang Garuda, dihormati dan diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Selain itu, saat saya melakukan observasi bagaimana budaya, dan religius juga tercermin dalam pembelajaran kurikulum merdeka. Upaya menanamkan rasa nasionalisme dan religiusitas difasilitasi melalui kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). P5 mengintegrasikan nilai-nilai kebinekaan dan mendorong pemahaman tentang keanekaragaman budaya di Indonesia. Ini membantu peserta didik memahami dan menghargai perbedaan serta memupuk rasa cinta tanah air. Dengan demikian, pendidikan Indonesia menggabungkan unsur-unsur keberagaman budaya dan agama untuk memperkuat identitas nasional. Memupuk persatuan, dan membangun kesadaran kebangsaan dalam pembelajaran. Penghayatan nilai-nilai Pancasila yang ada di sekolah untuk menguatkan identitas manusia Indonesia sangat penting. Menurut saya lembaga pendidikan memliki peran untuk memperkuat identitas manusia Indonesia melalui pengamatan dan analisis kritis. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia meliputi Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan juga Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat dijadikan pedomanan untuk menguatkan identitas manusia Indonesia. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa contohnya tercermin dalam upacara bendera atau kegiatan pembelajaran dengan berdoa untuk mengawali dan mengakhiri pembelajaran di sekolah. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab contohnya sekolah-sekolah saat ini semakin menyadari adanya perbedaan dengan menghindari diskriminasi dan bullying. Program-program anti-bullying semakin umum diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Persatuan Indonesia contohnya kegiatan upacara bendera, peringatan hari nasional. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan contohnya dalam proses pengambilan keputusan di sekolah, seperti pemilihan ketua kelas, memilik ketua osis dilakukana dengan pemilihan umum. Sekolah-sekolah perlu memastikan bahwa pengambilan keputusan bersifat inklusif dan melibatkan semua peserta didik. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia contohnya bantuan sosial dan program beasiswa peserta didik untuk peserta didik yang kurang mampu sudah ada di banyak sekolah. Sekolah-sekolah perlu memastikan bahwa akses pendidikan tetap terbuka bagi semua lapisan masyarakat, dan peserta didik yang kesusahan ekonomi mendapatkannya pendidikan yang sama. Jika dilihat dari hasil observasi pengamatan secara langsung juga terlihat bahwa peserta didik tidak memilih- milih dalam berteman, seperti contoh berteman hanya dengan sesama gender atau berteman melihat warna kulit teman sebayanya. Banyak kumpulan peserta didik yang terdiri dari dua gender dan dengan warna kulit yang berbeda-beda . dimana Tidak ada kesenjangan gender hal itu terbukti dengan baik laki-laki maupun Wanita bisa ikut di semua ekstrakurikuler. Wakil kurikulum juga mengatakan tidak ada perundungan disekolah selama ini yang diketahui oleh pihak sekolah. Dalam kegiatan OSIS wanita bisa mencalon menjadi ketua OSIS. Menurut (Incing, Hardianto, & Rusmiwari, 2013), Gender dapat diartikan sebagai perbedaan peran laki-laki dan perempuan, fungsi, status, dan tanggung jawab yang dihasilkan dari struktur sosial budaya yang berakar dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Pancasila di SMA Negeri 11 Palembang Banyak penghayatan nilai-nilai Pancasila di sekolah SMA Negeri 11 Palembang, nilai-nilai Pancasila juga merupakan suatu pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila juga adalah nilai-nilai yang sesuai dengan hati nurani bangsaIndonesia, bersumber pada kepribadian bangsa. Nilai-nilai Pancasila ini menjadi suatu landasan dasar, serta menjadi suatu motivasi dari segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kenegaraan. Dalam kehidupan kenegaraan, perwujudan nilai dari Pancasila harus tampak dalam suatu peraturan perundang-udangan yang berlaku di Indonesia. Karena dengan tampaknya Pancasila dalam suatu peraturan dapat menuntun seluruh masyarakat, mahasiswa dan peserta didik untuk bersikap sesuai dengan peraturan perundangan yang disesuaikan dengan Pancasila. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila adalah sebagai berikut:
Ketuhanan Yang Maha Esa: Bentuk pengamalan dari sila tersebut contohnya adalah Menumbuhkan rasa hormat dan kerja sama antar pemeluk agama dan pemeluk agama yang berbeda kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mayoritas peserta didik di SMP Negeri 3 Kalibaor Palembang banyak muslim walau ada yang beragama. Penerapan nilai agama terlihat shalat wajib pada waktu zhuhur dan asar di musolah yang telah difasilitasi untuk siswa. Oleh maka dari itu segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelengaraan Negara bahkan moral Negara, moral penyelengara Negara, politik Negara, pemerintahan Negara, hukum dan peraturan perundng-undangan Negara, kebebasan dan hak asasi warga Negara harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Penghayatan sila kedua yaitu terlihat darisemua guru telah memenuhi hak dan kewajiban sebagai seorang pendidik dalam proses pembelajaran. Peserta didik mendapatkan haknya berupa mendapat pengajaran dan pendidik dari guru. Peserta didik juga melakukan kewajibannya sebagai peserta didik dengan mengikuti semua rangkaian kegiatan sekolah yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, memberi perhatian saat guru sedang mengajar. masuk ke kelastepat waktu, tidak ada kegaduhan saat guru mengajar dan mengikuti pelajaran sesuai jadwal (tidak ada bolos). Menurut (Kaelan dan Zubaidi, 2017), sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab.
Persatuan Indonesia: Penghayatan sila ketiga adalah membantu berbagai kegiatan sekolah, bekerja sama dan Bersatu demi kepentingan sekolah. Dimana SMP Negeri 3 Kalibagor. Pada saat kegiatan upacara setiap kelas diberikan giliran untuk bertugas dalam petugas pelaksanaan kegiatan upacara bendera setiap hari senin, setiap siswa yang bertugas dalam kegiatan upacara akan melakukan latihan sebelum hari kegiatan kenaikan bendera hari senin. Menurut (Pusdatin, 2021), Sila ketiga persatuan Indonesia menyangkut amalan yaitu kesanggupan untuk mendahulukan persatuan, kesatuan dan kepentingan serta keamanan rakyat dan negara di atas kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Mampu dan rela berkorban bila perlu untuk kepentingan negara dan bangsa.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanan dan Permusyawaratan/Perwakilan: Penghayatan pada sila keempat di SMP Negeri 3 Kalibagor terlihat ketika diskusi dikelas dan seperti Ketika peserta didik lain sedang memaparkan presentasi. Ketika sesi tanya jawab pada saat presentasi terjadi diskusi antara pemberi materi, pemberi pertanyaan dan guru. Peserta didik mengerti etika-etika dalam berdiskusi dan Ketika dikelas diskusi berjalan lancar, peserta didikmengerti cara berdiskusi dengan baik dan ketika berdikusi mereka mendengarkan dengan baik saat peserta didik lain sedang memberikan opini mereka. Menurut (Kaelan dan Zubaidi, 2007), Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat merupakan subjek pendukung pokok Negara.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, contoh sikap yang sesuai dengan sila kelima adalah Menghormati hak masing-masing teman di kelas, Melakukan tugas di sekolah dengan sungguh - sungguh, Suka menolong teman atau anggota warga sekolah yang sedang kesusahan. Penghayatan pada sila kelima terlihat dari keadilan akan aturan sekolah dan kegiatan lainya, seperti contoh aturaan sekolah berlaku untuk semua peserta didik tanpa terkecuali. Jika ada peserta didik yang mengganggu hak milik peserta didik lainnya akan diberi hukuman sesuai yang berlaku disekolah. Semua peserta didik boleh mengikuti semua kegiatan seperti kegiatan ekstrakulikuler dan kebebasan untuk mengikuti lomba apa pun. Siapa pun yang mampu, siapa pun yang punya keinginan bisa berpartisipasi. SIMPULAN Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, dapat diberi kesimpulan bahwa SMA Negeri 11 Palembang sudah melakukan penghayatan nilai–nilai kebhinekatunggalikaan dan Pancasila sebagai identitas manusia Indonesia. Penghayatan tercermin dari tidak adanya diskriminasi, rasisme antara pendidik dan peserta didik dan antara sesama peserta didik. Semua warga sekolah seperti guru, staf dan beserta peserta didik mendapat haknya dan melakukan kewajibannya dengan baik.
REFERENSI
Akhriani, N., & Riska, R. (2015). Optimalisasi Nilai- Nilai Bhineka Tunggal Ika Dalam Kcb (Komik Cermat Bhineka) Kepada Siswa Sekolah Dasar Sebagai Upayameningkatkan Nasionalisme Menuju Indonesia Emas 2045.
Jurnal PENA, II(1), 279-287. Fatimah, Yuli, Aris Riswandi Sanusi, Yogi Nugraha. (2019).
Hambatan penanaman nilainilai pancasila dalam kegiatan organisasi siswa intra sekolah (osis) di smpn 4 klari. CIVICS, Vol 4. No. 2, p. 56-63
Incing, V., Hardianto, w. T., & Rusmiwari, S. (2013). Kesenjangan Gender (Perempuan) Dalam Mendapatkan Pendidikan PadaMasyarakat Pedesaan. JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, II(2), 38-40.
Kaelan, & Zubaidi, Ahmad. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi.Yogyakarta: Paradigma. Mangunwijaya, Y.B. (2020). Sekolah Merdeka: Pendidikan Pemerdekaan. Jakarta: Penerbit Kompas.
Rizki, A. M., & Djufri, R. A. (2020). Pengaruh Efektivitas Pembelajaran Bhineka Tunggal Ika Terhadap Angka Rasisme Dan Diskriminasi Di Indonesia 2019. Jurnal Penelitian Agama, I(1), 19-32. Sugiyono, S. (2013). metode penelitian pendidikan.
Komentar
Posting Komentar