01.01.2-T4-8. Aksi Nyata - Pancasila bagi Saya

01.01.2-T4-8. Aksi Nyata - Pancasila bagi Saya 


Perwujudan Profil Pelajar Pancasila Pada Pendidikan Abad Ke-21 di SMP Negeri 3 Kalibagor Septiyana Dwi Rahayu1 1Program Profesi Guru/Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto 

E-mail: septiyanadwi184@gmail.com 

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dalam menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa indonesia dan bentuk perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada pendidikan abad ke 21. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan literatur. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan SMP Negeri 3 Kalibagor. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan Abad ke-21 sudah berjalan sebagaimana mestinya di SMP Negeri 3 Kalibagor. Hal itu terlihat pada keseharian peserta didik di sekolah dengan menjalankan beberapa dimensi Profil Pelajar Pancasila seperti : (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, (2) berkebinekaan global, (3) bergotong-royong, (4) mandiri, (5) bernalar kritis, (6) kreatif. 

Kata Kunci: Pancasila, Profil Pelajar Pancasila, PendidikanAbad 21 


PENDAHULUAN 

Pancasila memiliki lima sila yang selama ini pancasila adalah sebagai dasar negara. Untuk itu sebagai dasar negara maka pancasila menjadi pondasi dalam setiap derap langkah pembangunan yang dilakukan, secara khusus pembangunan dalam bidang pendidikan. Nilainilai Pancasila menjadi dasar pengembangan paradigma pendidikan untuk melestarikan keanekaragaman suku, ras, budaya, agama. Penerapan Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia dalam pendidikan Abad-21 melalui program Profil Pelajar Pancasila. Akan tetapi, dalam penerapannya terdapat tantangan dalam menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi setiap individu untuk dapat berkembang (Megawanti, 2012). Hakikat seorang pendidik adalah mendidik dan sekaligus didalamnya mengajar sesuai dengan keilmuan yang dimilikinya (Ramli, 2015). Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara didasarkan pada asas kemerdekaan, memiliki arti bahwa manusia diberi kebebasan dari Tuhan yang Maha Esa untuk mengatur kehidupannya dengan tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Untuk menciptakan manusia. Seperti menurut Damanhuri, dkk (2016) nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila akan mengajarkan cara berfikir dan bertindak yang sesuai dengan ideologinegara. Bangsa Indonesia mempunyai moto atau semboyan yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila yaitu Bhinneka tunggal Ika. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Pada abad 21 ini, perkembangan teknologi merupakan faktor yang paling signifikan dalam menentukan bagaimana kehidupan dijalani saat ini. Tak terkecuali juga perkembangan para generasi muda yang merupakan asset terbesar suatu bangsa, termasuk Indonesia (Izzah, 2018). Pembelajaran di abad 21 harus mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa Indonesia untuk menyambut integrasi TIK ke dalam kehidupan bermasyarakat (Syahputra, 2018). Untuk memenuhi kebutuhan di abad 21, sangat diperlukan keterampilan pengetahuan (kognitif) yang mendalam dalam konteks kehidupan terkait suatu masalah, peristiwa atau kejadian (Rahayu, 2022). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Yusuf & Subaer (2013) bahwa media pembelajaran seperti adanya komputer merupakan sebuah alat bantu yang dapat digunakan sebagai perantara antara guru dan peserta didik dalam memahami dan menyampaikan materi pelajaran secara lebih efektif dan efisien. Namun, adanya teknologi yang tidak dibarengi dengan penanaman nilai-nilai pancasila dapat membuat peserta didik menjadi salah arah. Sebagai negara yang memiliki dasar negara berupa pancasila, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila dapat dimanfaatkan untuk pembentukan profil pelajar pancasila. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Tahun 2020-2024, (2020) menyebutkan bahwa “Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif”. Oleh karena itu, dari uraian di atas, maka perlu untuk dilakukan penelitian mengenai tantangan menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa indonesia dan bentuk perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada pendidikan yang berpihak pada peserta didik dalam pendidikan abad ke-21 di ekosistem sekolah maupun kelas. 


METODE 

Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi. Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati objek secara langsung, dengan terlibat (partisipatif) maupun tanpa melibatkan diri (nonpartisipatif ). Menurut Sugiyono (2017), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah untuk menginterpretasikan kejadian dan memanfaatkan berbagai metode yang ada. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yakni dengan lebih menekankan pada kemampuan analisis dan penelaahan terhadap sumber-sumber kepustakaan terpilih terkait langsung dengan tantangan menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia serta perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada pendidikan abad ke-21. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Kalibagor. 


HASIL DAN PEMBAHASAN 

Tantangan menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki fondasi dan pedoman yang kokoh dan jelas. Fondasi dan pedoman suatu bangsa disebut sebagai dasar negara. menurut Priyanto., dkk (2011) dasar negara yaitu landasan kehidupan suatu negara dalam melaksanakan dan menjalankan kehidupan suatu negara. Para pejuang bangsa ini telah menciptakan dan menitipkan suatu fondasi berupa konsep, gagasan atau prinsip yang melandasi kehidupan bangsa seharihari. Fondasi ini diambil dari bahasa sansekerta yaitu, Pancasila. Dimana “panca” yang berarti “lima” dan “sila” yang berarti “prinsip” menjadi landasan dan tolak ukur bangsa ini dalam menyikapi cara berkehidupan yang baik. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan di sekolah, diharapkan peserta didik memiliki profil pelajar pancasila yang memperlihatkan tentang bagaimana identitas manusia Indonesia itu. Hal ini berhubungan dengan pancasila sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Menurut KBBI, Entitas adalah satuan yang berwujud. Entitas (entity) merupakan sebuah objek yang keberadaannya dapat dibedakan terhadap objek lain. Sedangkan identitas adalah bagian dari konsep diri seseorang yang berasal dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial bersamaan dengan signifikansi nilai dan emosional dari keanggotaan tersebut (Tajfel & Turner, 1986). Berdasarkan uraian di atas, maka suatu hal yang ada dengan cara yang unik dan berbeda adalah suatu entitas, meskipun tidak harus memiliki bentuk fisik. Untuk itu, Pancasila sebagai substansi negara Indonesia memiliki atribut tersendiri, khususnya nilai-nilai yang beragam yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya, identitas adalah refleksi diri yang dipengaruhi oleh budaya, etnis, dan lingkungan sosial. Sehingga Pancasila sebagai identitas nasional merupakan ciri khas yang hanya dimiliki bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain. Adapun tantangan dalam menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia yaitu keterlibatan orang tua yang kurang maksimal terhadap anaknya, terdapat beberapa guru yang menerapkan penanaman karakter/menginterasikan Profil Pelajar Pancasila pada peserta didik serta akses teknologi yang tidak terbatas. Peran pendidik saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan pendidikan. Tantangan pertama yaitu kurang maksimalnya peran dan perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya sehingga orang tua adalah orang yang paling berkewajiban mendidik dan membimbing anak-anaknya. Namun pada beberapa kejadian orang tua melimpahkan segala tanggung jawabnya kepada guru yang mengajar di sekolah. Akibatnya, anak kurang bimbingan, perhatian, dan pendidikan dari orang tua terutama saat mereka berada di rumah atau luar sekolah. Karena kurangnya peran dan perhatian orang tua dan mereka hanya fokus pada perkembangan kognitif anak yang mengakibatkan kurangnya penanaman nilai-nilai Pancasila sebagai karakter pendidikan yang telah diajarkan sekolah. Tantangan kedua yaitu pengaruh pergaulan peserta didik, karena seseorang tumbuh dan berkembang di lingkungan baik maka akan baik pula karakter serta tingkah lakunya. Begitu pula sebaliknya seseorang yang tumbuh dan berkembang pada lingkungan buruk, maka karakter dan tingkah laku yang terbentuk akan mendominasi pada lingkungan tempat tinggalnya. Lingkungan dan pergaulan tidak baik akan mempengaruhi seseorang untuk melanggar norma-norma yang ada. Oleh karena itu, lingkungan peserta didik sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter sehingga hal itu menjadi tantangan dalam penghayatan dan profil pelajar pancasila yang telah diajarkan di sekolah. Perwujudan profil pelajar pancasila pada pendidikan yang berpihak pada peserta didik dalam pendidikan abad ke-21 di ekosistem sekolah Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif (Direktorat Sekolah Dasar, 2020). Tujuan Profil Pelajar Pancasila yaitu menguatkan lulusan yang sesuai nilai luhur Pancasila (Anggraena., dkk. 2020). Adapun bentuk perwujudan elemen-elemen Profil Pelajar Pancasila yang berpihak pada peserta didik dilakukan dalam bentuk nyata berupa pembentukan karakter peserta didik seperti berikut ini: 1) Elemen Profil Pelajar Pancasila yang Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia. Diwujudkan dalam kegiatan penanaman karakter religius seperti penerapan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) kepada guru maupun warga sekolah yang lain, melakukan pembacaan doa sebelum melaksanakan pembelajaran, melakukan kegiatan P5 tema keagamaan. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini: Gambar 1. Penerapan budaya 5S Melalui hasil observasi yang dilakukan, kegiatan praktik-praktik pembiasaan dan kebiasaan positif di sekolah yang biasa dilaksanakan di SMP negeri 3 Kalibagor yaitu menerapkan kebiasaan 5S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun) bagi guru dan siswa. Penerapan budaya 5S ini terlihat ketika peserta didik datang ke sekolah, kemudian guru menyambut kedatangan mereka di depan gerbang utama SMP Negeri 3 Kalibagor dengan membudayakan senyum, salam, sapa serta berperilaku sopan santun. Tidak hanya itu, setiap hari saat datang ke sekolah peserta didik di SMP Negeri 3 Kalibagor memulai pembelajarannya dengan salam saat hendak masuk ke kelas ataupun bertemu dengan teman. Pada saat pembelajaran, guru mengucapkan salam dan menanyakan keadaan peserta didik dan kemudian peserta didik menjawab salam dari guru Gambar 2. Peserta didik menghafal surat pendek Al-Qur’an selama bulan ramadhan Berdasarkan gambar di atas, dalam kegiatan Ramadhan peserta didik melakuakn kegiatan membaca surat pendek, mendengarkan murotal Al-Quran dan pidato bertema agama. Hal ini sejalan dengan pendapat Susilawati & Sarifuddin (2021) bahwa Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia memiliki arti bahwa Pelajar Pancasila wajib beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME diwujudkan dengan akhlak yang baik pada diri sendiri, sesama manusia, alam, dan negara Indonesia. Gambar 3. Gelar karya P5 tema keagamaan Gelar karya P5 ini dilakukan sebagai salah satu bentuk perwujudan elemen Profil Pelajar Pancasila yang Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia. Hal ini dilakukan sebagai upaya dalam membentuk generasi yang memiliki karakter religius. 2) Elemen Profil Pelajar Pancasila yang Berkebinekaan Global Diwujudkan dalam kegiatan seperti pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya yang dilakukan sesuai dengan masing-masing sekolah daerahnya. Selain itu. Tujuannya yaitu agar peserta didik dapat memahami danmengenali identitasbudaya yang adadidaerahnya masing-masing. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini: Gambar 4. Gelar karya pertunjukan tarian budaya Berdasarkan gambar 4. SMP Negeri 3 Kalibagor mengadakan gelar karya P5 yang di selipkan trentang tarian budaya yang ditampilkan oleh perwakilan siswa. Siswa wajib menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah yang sesuai dengan tarian yang ditampilkannya tarian yang ada di Indonesia. Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan dapat mengenali identitas budaya di seluruh penjuru Indonesia. 3) Elemen Bergotong Royong pada Profil Pelajar Pancasila Diwujudkan melalui kegiatan seperti pelaksanaan proses pembelajaran dengan metode diskusi kelompok dan pelaksanaan kebersihan yang dilaksanakan setiap hari sehabis pulang dari sekolah di SMP Negeri 3 Kalibagor. Gambar 5. Diskusi Kelompok Berdasarkan observasi yang dilakukan, diskusi kelompok merupakan suatu hal yang biasa dilakukan di SMP Negeri 3 Kalibagor sehingga mereka telah terbiasa untuk melakukan perwujudan elemen bergotong royong pada Profil Pelajar Pancasila. 4) Perwujudan elemen Profil Pelajar Pancasila yang Mandiri Dilakukan dalam kegiatan seperti pemberian tugas secara mandiri kepada setiap peserta didik dan tidak membuang sampah di sembarang tempat, serta menyediakan wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kemandirian, misalnya melalui keanggotaan dalam organisasi seperti OSIS, MPK, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Elemen kunci mandiri terdiri dari kesadaran terhadap diri sendiri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri (Ismail., dkk 2021). 5) Perwujudan elemen Bernalar Kritis pada Profil Pelajar Pancasila Diwujudkan dalam kegiatan seperti pelaksanaan pembelajaran dengan model PBL.Model ini dapat membantu peserta didik untuk menjadi peserta didik yang mampu bernalar kritis. Dalam kenyataannya di kurikulum merdeka, kedua model inilah yang digunakan dalam menjalankan suatu proses pembelajaran yang mendukung peserta didik untuk bernalar kritis. Selain itu Guru dapat melaksanakan pembelajaran yang memperkuat kemampuan berpikir kritis peserta didik, seperti melibatkan pembelajaran berbasis proyek. Guru dapat memberikan tugas yang merangsang kemampuan berpikir kritis peserta didik, seperti meminta pendapat peserta didik mengenai kasus nyata atau kejadian yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. 6) Elemen Kreatif pada Profil Pelajar Pancasila Diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran yang dapat mengasah kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Peserta didik diberikan tugas sesuai dengan yang mereka inginkan sehingga mereka dapat lebih merasa diberi kebebasan dalam menyelesaikan tugas tersebut sesuai kreativitas yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik namun tetap mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Guru dapat memberikan tugas yang mendorong pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa. Salah satu contoh dapat berupa pemberian tugas kepada peserta didik untuk membuat infografis yang tidak hanya mencerminkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran, tetapi juga menggali kemampuan kreatif dalam menyajikan informasi secara visual. Melalui tugas ini, diharapkan peserta didik dapat mengekspresikan kreativitas mereka sambil memperkuat pemahaman terhadap materi pembelajaran. SIMPULAN Sebagai substansi negara Indonesia Pancasila memiliki atribut tersendiri, khususnya nilai-nilai yang beragam yang terkandung di dalamnya. Pancasila sebagai identitas nasional merupakan ciri khas yang hanya dimiliki bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain. Adapun tantangan dalam menghayati Pancasila sebagai entitas dan identitas bangsa Indonesia yaitu keterlibatan orang tua yang kurang maksimal terhadap anaknya, terdapat beberapa guru yang menerapkan penanaman karakter/menginterasikan Profil Pelajar Pancasila pada peserta didik serta akses teknologi yang tidak terbatas. Perwujudan Profil Pelajar Pancasila pada Pendidikan Abad ke-21 sudah berjalan sebagaimana mestinya di SMP Negeri 3 Kalibagor. Hal itu terlihat pada keseharian peserta didik di sekolah dengan menjalankan beberapa dimensi Profil Pelajar Pancasila (PPP) seperti : (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, (2) berkebinekaan global, (3) bergotong-royong, (4) mandiri, (5) bernalar kritis, (6) kreatif. 


REFERENSI 

Anggraena, Y., Dkk. (2020). Kajian Pengembangan Profil Pelajar Pancasila Edisi 1. Kepala Badan Penelitian Dan Pengembangan Dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Irawati, Dini., Iqbal, Muhamad Aji., Hasanah, Aan., Arifin, Bambang Samsul. (2022). Profil Pelajar Pancasila Sebagai Upaya Mewujudkan Karakter Bangsa. EDUMASPUL Jurnal Pendidikan. 6(1). 1221-1238. 

Ismail, Shalahudin., Suhana, Suhana dan Zakiah, Qiqi Yulianti. (2021). Analisis Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter Dalam Mewujudkan Pelajar Pancasila Di Sekolah. JMPIS: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial. 2(1). 76-84. 

Megawanti, Priarti. (2012). Meretas Permasalahan Pendidikan Di Indonesia. Jurnal Formatif 2 (3): 227-234. Musarovah, E. (2017). Pemantapan Nilai-Nilai Pancasila Kepada Generasi Muda Sebagai Jati Diri Bangsa Yang Sejati. WIRA: Media Informasi Kementerian Pertahanan. Edisi September-Oktober 2017. Vol 68 (52). 

Rahayu, Restu., Iskandar, Sofyan., dan Abidin, Yunus. (2022). Inovasi Pembelajaran Abad 21 dan Penetapannya diIndonesia. JURNALBASICEDU. 6(2). 2099-2104. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta CV.

Komentar